Teori Keakraban Orangtua Terhadap Anaknya dalam Keluarga

Teori Keakraban Orangtua Terhadap Anaknya dalam Keluarga

Kartadinata (1998) dalam Siahaan mengartikan bahwa hubungan keakraban orangtua dalam keluarga adalah sebagai suasana psikologis yang dirasakan dan berpengaruh terhadap pola perilaku individu (anggota keluarga). Hubungan keakraban keluarga mengacu pada tiga aspek, yaitu:

  1. Hubungan orangtua-anak yang mengacu pada hubungan sosial yang demokratik atau otoriter, dengan indikator: penerimaan atau penolakan, perlindungan atau penelantaran orangtua terhadap anak, sikap dominatif integratif (permisif atau sharing) dan pengembangan sikap berdiri sendiri atau ketergantungan.
  2. Hubungan intelektual keluarga, mengacu pada perkembangan berpikir logis atau rasional anak, dengan indikator: kesempatan berdialog logis, tukar pendapat atau gagasan, kegemaran membaca dan minat kultural, pengembangan hobi, pengembangan kemampuan memecahkan masalah dan perhatian orangtua terhadap cara belajar anak.
  3. Hubungan emosional keluarga yang mengacu pada stabilitas komunikasi keluarga dengan indikator: intensitas kehadiran orangtua, hubungan persaudaraan dan kehangatan hubungan ayah dengan ibu

Keutuhan keluarga yang harmonis akan memberi pengaruh yang positif bagi perkembangan dan perilaku remaja. Orangtua yang memberikan kasih sayang, bimbingan, kebebasan bertindak sesuai kemampuan, penghargaan secara pribadi dan layanan informasi yang diperlukan membuat anak mampu untuk menjaga kestabilan emosionalnya. Dalam hal keakraban orangtua dengan anak, relasi berupa komunikasi sangatlah penting dalam perjalanannya. Hartup (1986, 1992, 1996) salah seorang pakar psikologi perkembangan yang memusatkan perhatiannya pada kaitan antara relasi dengan perkembangan (anak dan remaja) mengutarakan pandangan-pandangannya sebagai berikut :

  1. Relasi merupakan sebuah konteks dimana proses sosialisasi terjadi. Seorang anak tidak mungkin mempelajari keterampilan berkomunikasi apabila ia berada dalam isolasi sosial. Selain itu, jika berada bersana orang lain, maka seorang anak tidak akan mempelajari keterampilan komunikasi apabila orang lain itu adalah orang-orang yang tidak pernah dia kenal atau tidak pernah berhubungan dengan anak tersebut.
  2. Derajat rasa aman yang menyertai suatu relasi akan membentuk suatu dasar atau merupakan sumber yang memungkinkan anak berfungsi secara mandiri dalam dunia yang lebih luas.
  3. Relasi-relasi pada masa anak dan remaja, baik relasi pada saat anak berpartisipasi secara langsung, maupun relasi yang diamati oleh anak, berperan sebagai model yang penting yang dapat digunakan untuk mengkontruksi relasi di masa yang akan datang. Tentu saja relasi tersebut tidak begitu saja mereplikasi diri dalam siklus yang berulang sepanjang hidup. Kualitas dari setiap relasi sebagian bergantung pada individu-individu spesifik atau dengan siapa relasi terbentuk.
  4. Untuk bisa mengadopsi perspektif perkembangan ke dalam relasi akrab, relasi harus bisa dideskripsikan dengan mengaitkannya ke dalam salah satu rujukan, yaitu meningkatkan relasi dengan salah satu konten perkembangan dan atau pola perkembangan.
  5. Relasi bukanlah sebuah peristiwa yang statis, namun merupakan peristiwa-peristiwa yang dinamis. Sifatnya yang dinamis ini bisa dibahas dalam berbagai bentuk antara lain sebagai “stages” yang akan melibatkan “ formation”, “maintenance” dan “termination”, atau penggambaran dengan cara lain. Semua penggambaran ini menunjukkan bahwa relasi-relasi itu berfluktuasi sejalan dengan berjalannya waktu.
  6. Hal mengenai bentuk relasi akrab yang dialami oleh anak dan remaja. Anak dan remaja mengalami dua macam pengalaman relasi yang akrab baik pada amsa anak maupun pada masa remaja yang amat penting selama perkembangannya. Pengalaman itu yang disebut sebagai relasi vertikal dan relasi horisontal. Relasi ini umumnya melibatkan anak dan orangtua, meliputi berbagai macam interaksi yang sifatnya saling melengkapi.
  7. Beberapa perubahan perkembangan, yang terkait oleh relasi, sifatnya universal.

Perubahan perkembangan ini didorong oleh mekanisme-mekanisme fisiologis dan mekanisme-mekanisme sosial. Contoh pada anak, bayi yang baru lahir hingga usia kurang lebih 5-6 bulan belum mengamati ibunya sebagai sesuatu 12 yang berada di luar diri. Pada usia kurang lebih 6-12 bulan, bayi mencapai kemampuan persepsi kedalaman dan kemampuan mengenali bahwa sebuah benda itu menetap. Saat inilah dimungkinkan terjadinya kelekatan emosional.

Bayi mulai mengerti bahwa ibunya adalah seorang yang akan ia kenali kembali, dan dia akan merasa kurang nyaman bila ibu tersebut tidak hadir (Ainsworth, Blechar, Waters, & Wall dalam Siahaan).

Sunaryo Kartadinata, dkk. 1998. Bimbingan Di Sekolah Dasar. Bandung: Depdikbud.

Ainsworth, M. D. S., Blechar, M. C., Waters, E., & Wall, S. (1978). Patterns of attach- ment: A psychological study of strange situation. Hillsdale, NY:Laurence Erlbaum.

Baca : Pentingnya Suportif Dalam Keluarga, Dukung Keberhasilan Anak

 

Tag: , , ,


This article has 2 comments

  1. Buku yg dipakai sebegai refrensi apa ya?

    • Sunaryo Kartadinata, dkk. 1998. Bimbingan Di Sekolah Dasar. Bandung: Depdikbud.

      Ainsworth, M. D. S., Blechar, M. C., Waters, E., & Wall, S. (1978). Patterns of attach- ment: A psychological study of strange situation. Hillsdale, NY:Laurence Erlbaum.

Leave a Reply

*

code