Sistem Kekebalan Tubuh Spesifik dan Non Spesifik pada ASI

Sistem Kekebalan Tubuh dan ASI

a. Sistem kekebalan tubuh non spesifik pada ASI

Bayi yang mendapatkan ASI lebih jarang menderita sakit, karena adanya zat protektif dalam ASI. Zat protektif yang berperan sebagai sistem kekabalan tubuh pada ASI tersebut di uraikan Sidi dkk, (2010), sebagai berikut:

1) Laktobacillus bifidus

Laktobacillus bifidus mengubah laktosa menjadi asam laktat dan asam a setat yang memberikan suasana asam dalam saluran pencernaan, sehingga menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti E.Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi, shigela dan jamur. Lactobacillus mudah tumbuh dalam usus bayi yang mendapat ASI, karena ASI mengandung polisakarida yang berikatan dengan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan lactobacillus bifidus, sedangkan susu buatan tidak mengandung faktor ini (Sidi. dkk, 2010).

2) Laktoferin

Lactoferin adalah protein yang berikatan dengan zat besi. Konsentrasinya dalam ASI sebesar 100mg/100ml, tertinggi diantara semua cairan biologis. Dengan mengikat zat besi, maka laktoferin bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan kuman tertentu yaitu staffilokokus dan E.Coli yang memerlukan zat besi untuk pertumbuhannya. Selain itu laktoferin dapat juga menghambat pertumbuhan jamur kandida (Sidi. dkk, 2010).

3) Lisozim

Lisozim adalah enzim yang dapat memecah dinding bakteri (bakteriosidal) dan antiimplamantori. Bekerja bersama dengan perioksida dan askorbat untuk menyerang E.Coli dan sebagian keluarga Salmonella. Konsentrasinya dalam ASI 400μg/ml.

Keunikan lisozim adalah bila faktor protektif ini menurun kadarnya sesuai dengan tahapan pemberian ASI ataupun usia bayi, maka kadar lisozim justru meningkat pada 6 bulan pertama kelahiran (Sidi, dkk, 2010).

4) Komplemen C-3 dan C-4

Komplemen adalah protein yang berfungsi langsung sebagai penghancur bakteri. Selain itu komplemen berperan juga sebagai penanda sehingga bakteri yang di tempel oleh komplemen dapat dengan mudah dikenal oleh sel pemusnah. ASI mengandung komplemen C-3 dan C-4 yang mempunyai daya opsonik, anafilatik, dan kemostatik, yang bekerja apabila di aktifkan oleh IgA dan IgE dalam ASI (Sidi, dkk, 2010).

b. Sistem kekebalan tubuh spesifik pada ASI

1) Antibodi

Secara elektroforetik, kromatografik dan radio imunoassay terbukti bahwa ASI mengandung imunoglobulin, yaitu sekretori IgA (sIgA), IgE, IgG, dan IgM. Antibodi dalam ASI dapat bertahan di dalam saluran pencernaan bayi karena tahan terhadap asam dan enzim proteolitik saluran pencernaan dan membuat lapisan pada mukosanya sehingga mencegah bakteri patogen dan enterovirus masuk kedalam mukosa usus (Sidi, dkk, 2010).

2) Imunitas Seluler (limfosit T dan Limfosit B)

Sel-sel dalam ASI sebagian besar (90%), berupa makrofag yang berfungsi membunuh dan memfagositosis mikroorganisme, membentuk C-3 dan C-4, lisozim dan laktoferin. Sisanya (10%) terdiri dari limfosit B dan limfosit T. Angka leukosit pada kolostrum kira-kira 5000/ml. Dengan meningkatnya volume ASI angka leukosit menurun menjadi 2000/ml (Sidi, dkk, 2010).

Baca : Manfaat Pemberian ASI pada Bayi

Literasi

Sidi, P., dkk. (2010). Bahan Bacaan Manajemen Laktasi, Menuju Persalinan Aman dan Bayi Baru Lahir Sehat. Jakarta: Perinasia Indonesia.

 

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *