Sejarah Rokok

Sejarah Rokok

Sejarah rokok sebenarnya dimulai sejak tahun 600 SM, ketika orang Amerika mulai menanam tembakau, dan pada tahun 1 M orang amerika mulai merokok. Kebiasaan tersebut kemudian meluas seiring dengan tingkat mobilitas penduduk Ameika. Hingga saat ini perilaku merokok seperti menjadi bagian dari gaya hidup dan terus berlanjut, terutama pada negara berkembang. Pada 600 M, filsuf

China bernama Fang Yizhi mulai menyebutkan bahwa kebiasaan merokok dapat merusak paru-paru. Pada tahun 1950 diterbitkan dua publikasi hasil penelitian tentang dampak buruk merokok pada kesehatan, serta pada tahun 1981 ada penelitian besar tentang dampak merokok pasif di Jepang (Aditama, 2004).

Pada awalnya penggunaan tembakau (rokok) dilakukan dengan cara dikunyah, dihisap dalam bentuk tembakau sedotan, atau dihisap dengan pipa atau dalam bentuk cerutu. Titik balik sejarah tembakau terjadi pada abad ke 19 ketika mesin penggulung rokok ditemukan. Tembakau dalam bentuk rokok menjadi lebih murah, lebih mudah dalam penggunaan dan pengangkutannya. Rokok memiliki harga jual yang lebih murah dan efek yang lebih singkat serta kenyamanan dalam penggunaan (Copra, 2005).

Baca : Tanaman Kemangi – Ocimum basilicum forma citratum Back

Rokok ditemukan oleh penjelajah-penjelajah Spanyol di antara masyarakat Aztecs pada tahun 1518 di Meksiko (“Asal Muasal” 66). Kebudayaan merokok menyebar dengan cepat ke Semenanjung Liberia dan wilayah-wilayah Laut Tengah lainnya, tetapi belum sampai ke Eropa hingga tahun 1850an. Menurut tradisi, rokok-rokok yang dibungkus kertas dikembangkan di Abad 16 oleh para pengemis Seville di Spanyol, yang melinting puntung-puntung cerutu dalam lembaran-lembaran kertas. Rokok yang dibungkus kertas muncul di Meksiko sebelum tahun 1766 ketika Visitor General Jose de Galvez memusnahkan sejumlah besar kertas rokok di Jalapa, dan menetapkan monopoli tembakau oleh pemerintah. Kapan persisnya produksi rokok pabrik dimulai, tidak diketahui secara pasti. Yang diketahui bahwa Baron Josef Huppmann mendirikan pabrik rokok Ferme di St. Petersburg tahun 1850, kemudian mendapatkan izin untuk mendirikan pabrik rokok Monopal di kota New York tahun 1882. Setelah tahun 1860, orang-orang Yunani, Mesir, dan Turki mulai dilibatkan dalam pembuatan rokok di Inggris dan Amerika. Di tahun 1869, F.S. Kinney Company di New York mengimpor para pelinting rokok Rusia, sebagian dari London untuk mengajarkan seni melinting kepada wanita-wanita pekerja Amerika (“Asal Muasal 68).

Terciptanya alat pemotong tembakau di Pease di tahun 1860 merupakan langkah pertama penggunaan mesin dalam produksi rokok di dunia. Di antara sekian banyak upaya untuk menciptakan mesin pembuat rokok, yang paling berhasil adalah mesin ciptaan James Albert Bonsack dari Virginia pada tahun 1880, dia mengembangkan sebuah mesin yang terdiri dari tiga bagian mendasar: feeder yang mengatur bagian seragam; pipa pembentuk rokok dibentuk menjadi rol berkesinambungan; dan pisau untuk memotong batang-batang rokok dalam ukuran yang sama.

Setelah itu, terjadi tiga perkembangan utama di dalam industri rokok dari tahun 1913 hingga Perang Dunia II, sebagai berikut:

(1) Alat pembungkus Arenco, sebuah mesin buatan Swedia yang dipergunakan untuk membungkus korek api, yang kemudian di akhir 1920-an diadaptasikan menjadi sebuah mesin kecil yang mengkombinasikan pembuatan pembungkus, pembungkusun rokok dan menempelkan banderol. Mesin kecil ini mengurangi biaya produksi sekitar satu sen per 1000 batang;

(2) Cellophane anti lembab mulai dipergunakan tahun 1931 sebagai pembungkus pak-pak rokok untuk memelihara kesegaran rokok;

(3) Tiga pabrik rokok besar di Amerika di tahun 1930-an bekerjasama untuk mengembangkan suatu sumber baru untuk kertas rokok, yang selama ini terbuat dari lembaran-lembaran linen dan diproduksi murah di Perancis.

Dengan mempergunakan biji-biji lenan dan melakukan eksperimen selama enam tahun, ketiga perusahaan itu akhirnya berhasil memproduksi kertas rokok yang baik sekali. Pabrik kertas rokok baru didirikan di New Castle dan mulai berproduksi tahun 1939. Penemuan kertas rokok baru ini memungkinkan ekspansi industri rokok yang luar biasa tidak lama setelah Perang Dunia II berakhir (“Asal Muasal” 69). Di Indonesia, tanaman tembakau sudah lama dikenal orang di pulau Irian Jaya, namun berita tentang kebiasaan penggunaan tembakau di daerah lain tidak banyak diketahui. Sekurang-kurangnya sampai abad 17 (tujuh belas), catatan sejarah tentang kebiasaan penggunaan tembakau di Indonesia sangat terbatas dan saling bertentangan satu sama lain. Menurut Sir Thomas Stanford Raffles dalam bukunya The History of Java (1817) jilid I dikatakan bahwa tembakau telah masuk ke pulau Jawa bersamaan dengan mangkatnya Panembahan Senopati Ing

Baca : Definisi Kolagen dan Tipe Kolagen

Ngalaga pada tahun 1523 Saka atau sekitar tahun 1602 Masehi. Menurut laporan Rumphius, bahwa sekitar tahun 1650 areal tanaman tembakau berskala luas telah ditemukan di daerah Kedu, Bagelan, Malang, dan Priangan (Subangun, Tanuwidjojo 3). Selain berupa penyebaran dan penanaman tembakau di berbagai wilayah Indonesia tersebut, perkembangan industri hasil tembakau di Indonesia lebih dikaitkan dengan kebangkitan industri hilirnya yaitu industri sigaret. Proses kelahiran industri sigaret tidak dapat dipisahkan dari kisah bersejarah Haji Jamahri, seorang penduduk asli kota Kudus. Rokok formula Haji Jamhari terdiri dari cengkeh yang dirajang sampai halus, kemudian dicampur dengan tembakau yang pada mulanya digunakan untuk pengobatan dengan cara menghisap asapnya samapai masuk ke dalam paru-paru. Industri rokok di Indonesia diprakarsai oleh kota Kudus pada tahun 1870 sampai 1880. Cara penjualannya dilakukan di pinggi-pinggir jalan, sedangkan cara penyajiannya dilakukan dengan cara mengiris cengkeh dengan pisau di tempat penjualan kemudian dicampurkan dengan ke dalam gulungan (kobot) rokok tersebut.

Pada masa-masa berikutnya, pengirisan cengkeh tersebut dilakukan di rumah dan langsung dicampurkan ke dalam gulungan (klobot) rokok tersebut. Akhirnya industri yang semula bersifat kerajinan tangan (home industry) tersebut lambat laun berubah menjadi perusahaan bahkan industri besar dan menjadi pilar utama bagi sumber pendapatan kota Kudus. Proses masinisasi rokok kretek dimulai dari Jawa Timur oleh PT. Bentoel pada tahun 1968. Mesin yang digunakan berasal dari pabrik Molin di Inggris, melalui mesin ini setiap menitnya dapat menghasilkan produksi rokok sebanyak 6.000 batang. Sebagai perbandingan, untuk memproduksi sejumlah itu dibutuhkan lebih dari tujuh jam kerja oleh tenaga manusia (Subangun, Tanuwidjojo 8). Masuknya mesin dalam proses poduksi rokok kretek, akhirnya menimbulkan masalah baru yaitu adanya persaingan yang tidak berimbang dengan produk yang dibuat oleh tangan. Penumpukan modal serta kekuatan dalam merebut pasar hanya terpusat pada beberapa industri yang menggunakan mesin seperti PT. Gudang Garam (Kediri), PT. Bentoel (Malang), PT. Djarum (Kudus), PT. HM. Sampoerna (Surabaya), PT. Sukun (Kudus), dan PT. Nojorono (Kudus) (Subangun, Tanuwidjojo 3).

Baca : Bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans

Dalam manghadapi masalah ketimpangan persaingan serta peluang adanya reduksi tenaga kerja manusia di industri rokok kretek tersebut, maka pada tahun 1979 Direktur Jenderal Bea dan Cukai mengeluarkan Surat Keputusan No. 159/BC/1979 yang mengatur perbandingan antara produksi rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) yaitu 1 (satu) berbanding 2 (dua). Selain itu juga diatur bahwa sepersepuluh bagian dari produksi SKM harus diekspor. Namun pergeseran selera konsumen terus menguat ke arah SKM yang memilki penampilan lebih bergengsi dan terlihat lebih higienis sehingga laju pertumbuhan SKM terus melejit di pasaran rokok nasional. Pada akhirnya keputusan tahun 1979 tersebut diperlunak dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 541 tahun 1985 yang menyebutkan bahwa perbandingan SKM dan SKT diubah menjadi 2 (dua) berbanding 3 (tiga).

 

 

Tag: , , , , ,


Related Post

Leave a Reply

+ 50 = 56