Sistematika Tumbuhan Sambiloto

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Klas : Dicotyledoneae

Ordo : Solanaceae

Famili : Acanthaceae

Genus : Andrographis

Spesies : Andrographis paniculata (Burm. f.) Nees

Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. f.) Nees) dikenal dengan sebutan “King of Bitters” merupakan tanaman yang efektif digunakan sebagai obat tradisional pada negara-negara di Asia (Akbar, 2011). Sambiloto banyak tumbuh di Indonesia dan disetiap daerah memiliki sebutan nama yang berbeda-beda.

Sambiloto merupakan tanaman herbal dari keluarga acanthaceae yang memiliki berbagai macam manfaat bagi kesehatan tubuh manusia, antara lain sebagai anti kanker, anti bakteri dan anti virus (Talei et al., 2014). Tanaman sambiloto terdiri dari daun, batang, bunga, dan akar, yang semua bagian tersebut dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional.

Pembiakan dan Budidaya Sambiloto

Sambiloto dapat tumbuh secara alami dari dataran pantai sampai dataran tinggi dengan iklim serta kondisi jenis tanah yang beragam (Yusron, 2008). Tanaman sambiloto dapat tumbuh pada semua jenis tanah, mulai dari jenis tanah yang subur, mengandung banyak humus. Tata udara dan pengairan yang baik (Pujiasmanto et al., 2007). Sambiloto pada umumnya tumbuh di alam yang ternaungi di bawah tegakan hutan (Yusron, 2008).

Habitat dari tanaman sambiloto adalah di tempat yang terbuka seperti di ladang, pinggir jalan, tebing saluran atau sungai, semak belukar, di bawah tegakan pohon jatih atau bambu (Pujiasmanto et al., 2007). Sambiloto dapat tumbuh secara alami pada daerah yang memiliki iklim A (sangat basah), B (basah), dan C (agak basah) berdasarkan klasifikasi iklim menurut Schmidt dan Ferguson (Jufri & Utami, 2012). Sambiloto dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 180 – 861 meter di atas permukaan laut, dengan suhu mencapai 20,32oC – 26,93oC, kelembaban udara antara 78% – 87%, dan curah hujan berkisar 2053,2 mm/tahun sampai 3555,6 mm/tahun (Pujiasmanto et al., 2007).

Ketinggian tempat sangat erat hubungannya dengan suhu udara, dimana suhu udara akan mempengaruhi proses fisiologi tanaman. Pada suhu dingin proses fisiologi tanaman akan terganggu menyebabkan pertumbuhan terhambat dan hasil tanaman sambiloto rendah. Ketersediaan air merupakan faktor ekologis yang sangat menentukan pertumbuhan dan kandungan bahan aktif dari tanaman sambiloto, pertanaman sambiloto yang kekurangan air cenderung berbunga dan membentuk buah lebih awal. Sehingga menurunkan kandungan bahan aktif (Yusron, 2008).

Kandungan Sambiloto

Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. f.) Nees) mengandung senyawa diterpene, lactone, dan flavonoid. Empat senyawa lakton yang ditemukan di dalam daun sambiloto (Akbar, 2011), yaitu deoxyandrographolide, andrographolide, neoandrographolide dan 14- deoxy-11, 12-didehydroandrographolide. Senyawa flavonoid banyak ditemukan pada bagian akar, tetapi juga dapat ditemukan pada bagian daun (Ratnani et al., 2012). Bagian akar dari tanaman sambiloto, mengandung senyawa flavonoid berupa polymethoxyflavone andrographine, panicoline, alkane, keton, aldehid, kalium, kalsium, natrium, asam kersik, monometilwithin, dan apigenin-7,4-dimetil eter (Hariana, 2013). Bagian batang dan daun dari tanaman sambiloto mengandung senyawa alkane, keton dan aldehid (Ratnani et al., 2012). Kandungan dari sambiloto yang digunakan untuk pengobatan antara lain lactone, diterpenoids, diterpene glycosides, flavonoids, dan flavonoid glycosides (Akbar, 2011). Sambiloto memiliki fungsi sebagai antipiretik, obat panas dalam, analgesik, antiinflamasi, antiracun, antibakteri, dapat mengkondensasi sitoplasma pada sel tumor, mengatasi infeksi serta merangsang fagositosis (Hariana, 2013).

Sambiloto akan terasa pahit ketika dikonsumsi, hal tersebut diduga berasal dari senyawa andrographolide yang terkandung oleh tanaman sambiloto (Widyawati, 2007). Awalnya diduga bahwa senyawa yang menimbulkan rasa pahit adalah senyawa lactone andrographolide. Namun lebih lanjut diketahui senyawa yang menimbulkan rasa pahit yakni senyawa andrographolide dan kalmeghin (Ratnani et al., 2012). Senyawa bioaktif dalam sambiloto yang berperan sebagai antikanker adalah andrographolide (Habibah, 2009). Selain senyawa andrographolide, sambiloto juga mengandung senyawa flavonoid yang merupakan senyawa polifenol golongan antioksidan. Yang dapat menghambat proses terjadinya oksidasi yang dipicu oleh radikal bebas (Wulandari et al., 2007).

Andrographolide merupakan senyawa yang masuk ke dalam grup trihidoksilakton memiliki rumus molekul C20H20O5. Senyawa andrographolide memiliki efek antikanker yang baik pada kanker payudara, usus besar, epidermoid, lambung, serviks, liver, leukemia, mieloma, limfosit darah perifer dan kanker prostat (Tung et al., 2013). Andrographolide merupakan senyawa yang akan mudah larut di dalam larutan metanol, etanol, piridin, asam asetat dan aseton, namun akan sedikit sukar larut dalam eter dan air (Kumoro & Hasan, 2006).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 13 = 15