Rinitis Alergi dan Faktor Resiko Menurut Beberapa Ahli

Rinitis Alergi Menurut Beberapa Ahli

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi kronik lapisan lendir (mukosa) hidung yang terletak di saluran napas atas, diperantarai antibodi IgE setelah dipicu oleh pajanan alergen. Gejala-gejalanya dapat berupa bersin-bersin, hidung berair, hidung tersumbat dan gatal, seringkali disertai mata gatal, merah dan berair. Berdasarkan kemunculannya, rinitis alergi dibagi menjadi rinitis intermiten dan persisten. Berdasarkan keparahannya, rinitis alergi dibagi menjadi ringan, sedang, dan berat. Rinitis alergi adalah penyakit multifaktorial dengan banyak faktor risiko yang dipicu oleh interaksi gen dan lingkungan. Rinitis alergi dan asma adalah penyakit alergi pernapasan, dengan konsep one airway one disease, yang berarti pada orang yang menderita rinitis alergi seringkali disertai asma, karena merupakan satu saluran pernapasan. Rinitis alergi adalah penyakit alergi pada saluran pernapasan atas, sedangkan asma pada saluran pernapasan bawah (Huang 2007).

Pencetus rinitis alergi adalah alergen, baik alergen dalam rumah atau luar rumah di daerah beriklim sedang. Alergen dalam rumah terpenting adalah tungau debu rumah, kecoa, serpihan kulit hewan piaraan seperti kucing dan anjing. Alergen luar rumah terpenting adalah serbuk sari. Spora jamur merupakan alergen dalam dan luar rumah, Aspergillus dan Penicillium adalah spesies yang paling banyak ditemukan dalam rumah, sedang Alternaria dapat ditemukan di dalam maupun luar rumah (Matsui & Wood 2007).

Penyakit rinitis yang dicetuskan serbuk sari disebut polinosis. Sejak lama masyarakat di negara 4 musim menyadari bahwa pada musim panas, orang-orang tertentu akan mengalami rinitis alergi yang dikenal dengan istilah hay fever. Semula mereka menganggap penyakit ini disebabkan oleh bunga mawar pada awal musim panas dan oleh tanaman goldenrod di akhir musim panas. Kenyataannya, hay fever dicetuskan oleh serbuk sari rumput-rumputan yang tumbuh di sekitar bunga mawar dan serbuk sari gulma ragweed yang tumbuh di sekitar goldenrod. Hay fever pada awal musim panas berbarengan dengan berbunganya rumput-rumputan, sedangkan pada akhir musim panas sejalan dengan berbunganya ragweeds dan goldenrods. Selain rumput-rumputan dan ragweed, banyak tumbuhan lain penyebab hay fever (Wodehouse 1965).

Di Amerika Utara, ragweed jenis Ambrosia artimisifolia (Asteraceae) merupakan serbuk sari gulma terpenting oleh karena dapat disebarkan dengan jarak ratusan kilometer. Reaksi alergi terhadap serbuk sari tersebut terjadi pada akhir musim panas dan berlangsung sampai bulan Oktober. Sekalipun demikian, di Florida Selatan orang yang tersensitisasi dapat menunjukkan gejala alergi di luar musim tersebut. Hal ini disebabkan di daerah pantai itu, serbuk sari di produksi sepanjang tahun. Dewasa ini ragweed juga ditemukan di Korea, Jepang, Australia dan Eropa (Gossage 2000).

Cynodon dactylon disebut juga Bermuda grass, serbuk sarinya merupakan sumber polinosis yang sangat banyak di seluruh dunia, pencetus asma, rinitis alergi, dan konjungtivitis alergi yang kuat, dikenal sebagai salah satu spesies rumput yang sering menyebabkan reaksi alergi dan terdapat di berbagai wilayah seperti Eropa, Amerika, Afrika Selatan, Australia, India, dan Jepang (Sompolinsky et al.1984; Adler et al.1985; Weber 2002). Serbuk sari C. dactylon merupakan alergen tersering penyebab rinitis alergi pada anak-anak yang dibuktikan dengan uji IgE spesifik (Halonen et al. 1997) dan juga berhubungan bermakna dengan sinusitis (Lombardi et al. 1996).

Selain di daerah beriklim sedang, reaksi alergi terhadap serbuk sari C. dactylon juga ditemukan di Asia Tropik. Pada penelitian di Thailand, 17% dari 100 orang pasien alergi rinitis menunjukkan uji IgE spesifik terhadap alergen C. dactylon (Pumhirun 1997). Di Semenanjung Malaysia, serbuk sari C. dactylon dilaporkan merupakan serbuk sari yang paling alergenik di antara serbuk sari rumput-rumputan (Sam 1998). Bahkan di Kuwait, negara yang terdapat di gurun pasir, mendapatkan serbuk sari C. dactylon sebagai salah satu alergen yang paling sering ditemukan pada 505 orang dewasa muda dengan prevalensi 53,6%, sedikit lebih banyak dari tungau debu rumah (52,7%) (Ezeamuzie 1997). Dari 810 pasien asma atau rinitis alergi di Kuwait, IgE spesifik terhadap C. dactylon terdeteksi pada 54,6% serum pasien (Ezeamuzie 2000). Pada 706 pasien rinitis alergi berusia 6-64 tahun, IgE spesifik terhadap C. dactylon didapatkan pada 55% orang (Dowaisan 2000). Di Uni Emirat Arab, 33% dari 263 pasien alergi pernapasan didapatkan sensitif terhadap C. dactylon (Lestringant et al. 1999). Di Arab Saudi, IgE spesifik terhadap C. dactylon merupakan salah satu alergen yang sering dijumpai pada pasien dewasa maupun anak-anak dengan asma dan rinitis alergi (Al-Anazy 1997; Sorensen 1986). C. dactylon juga merupakan alergen yang menonjol di Afrika Selatan pada anak-anak dengan asma dan rinitis alergi (Green 1997; Potter 1991).

Alergen Serbuk Sari Poaceae pencetus rinitis alergi. Protein serbuk sari poaceae yang dapat mencetuskan alergi telah diteliti luas dan dibagi menjadi 13 grup. Alergen grup 1 meliputi glikoprotein yang mempunyai BM antara 27-35 kD. Alergen ini berada baik di sitoplasma maupun di eksin butir serbuk sari dan merupakan alergen utama dari ekstrak serbuk sari rumput. Sekitar 90% orang yang alergi serbuk sari rumput memperlihatkan reaktivitas antibodi IgE terhadap alergen grup 1 (Matthiesen et al. 1991; Han et al. 1993; Schramm et al. 1996). Alergen ini merupakan glikoprotein yang sering menyebabkan reaktivitas silang dengan serbuk sari berbagai rumput lainnya (Grobe et al. 1999; Schenk et al. 1996; Hiller et al. 1997). Pada serbuk sari C. dactylon terpenting adalah alergen grup 1 (Cyn d 1) dengan BM 30 kD (Shen et al. 1988; Ford & Baldo 1987; Matthiesen et al. 1991) dan grup 7 (Cyn d 7) (Smith et al. 1997; Suphioglu et al. 1997).

Alergen grup 2 dan 3 meliputi protein non-glikosilat dengan kisaran BM 10-12 kD. Alergen grup 4 merupakan glikoprotein pengikat IgE dengan BM 50-67 kD dan awalnya diidentifikasi dari rumput Phleum pratense yang sering disebut Timothy grass, Lolium perenne dikenal dengan nama Perennial rye grass, dan Dactylis glomerata atau Orchard grass (Brodard et al. 1993).

Sebanyak 80% orang yang alergi terhadap serbuk sari rumput memperlihatkan reaktivitas IgE terhadap alergen grup 4, sehingga kelompok ini dianggap sebagai alergen mayor (Leduc-Brodard et al. 1996). Alergen grup 5 mirip dengan grup 1, mempunyai BM antara 27-33 kD. Alergen grup 6 adalah sitokrom, sejauh ini hanya ditemukan pada P. pratense, yang merupakan protein non-glikosilat bersifat asam dengan BM sekitar 13 kD (Lowenstein et al. 1978). Alergen grup 7 merupakan  sekelompok protein kecil dengan BM 8,7-8,8 kD, ditemukan pada rumput C. dactylon dan P. pratense (Smith et al. 1997, Niederberger et al. 1996, Puc 2003). Alergen grup 11 pertama ditemukan dari serbuk sari L. perenne yang merupakan glikoprotein pengikat IgE berukuran 18 kD (Ree et al 1995).

Alergen grup 12 merupakan keluarga protein yang disebut profilin berukuran 14 kD (Sohn et al 1994), dan grup 13 merupakan kelompok terakhir yang ditemukan pada serbuk sari rumput-rumputan dengan BM sekitar 55-60 kD (Sohn et al. 1994).

Baca : Parasitologi Tentang Semua Organisme Parasit Berbahaya

 

Tag: , , , , ,


Leave a Reply

12 + = 19