Benarkah Prestasi dan Fasilitas Anak Tolak Ukur Kesuksesan

Benarkah Prestasi dan Fasilitas Anak Tolak Ukur Kesuksesan

Sebuah pertanyaan, apakah anak-anak dari keluarga kaya, yang memperoleh berbagai fasilitas, sumber dana, dan kesempatan yang tidak terbatas, akan lebih bahagia dibanding anak-anak lain yang berasal dari keluarga biasa?

Madeline Levine, PhD, seorang psikolog dan pendidik di Stanford’s School of Education, melakukan penelitian terhadap anak-anak remaja yang berasal dari keluarga mampu dan bersekolah di sekolah-sekolah ternama.

Hasil penelitiannya yang ditulis dalam bukunya ‘The Price of Privilege’(2006), menemukan hasil yang sangat mengejutkan. Walau anak-anak ini seringkali mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian, mereka ditemukan menghadapi masalah depresi, anxiety disorder, psychosomatic disorder, bahkan ketergantungan terhadap obat-obatan yang jauh lebih tinggi daripada anak-anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi yang lebih rendah.

Temuan lain, walau anak-anak ini memiliki banyak piagam dan medali yang terpajang di rumah mereka, hidupnya tidak bahagia. Dan, walau mereka menerima berbagai tawaran dari sekolah-sekolah bergengsi, sumbu api semangat belajar mereka seakan sudah padam.

Lewat ‘The Price of Privilege’ itu, Levine ingin mengajak para orangtua untuk mengkaji kembali arti kesuksesan pada seorang anak, dengan menitikberatkan pada tolak ukur kesuksesan yang seringkali dipakai, yaitu nilai dan prestasi.

Levine melihat adanya relasi antara tolok ukur ini dengan tingginya masalah emosi yang dihadapi oleh anak-anak muda. Ternyata banyak anak, demi mendapatkan nilai yang bagus, rela minum obat kuat untuk mengalahkan rasa lelah agar dapat belajar terus menerus, mau menyontek agar nilai tetap tinggi, dan melakukan pelarian diri dengan merusak diri ketika berhadapan dengan tekanan yang ada. Mereka menjadikan urusan mengejar prestasi seakan itu adalah hal hidup dan mati.

Yang mengejutkan, ternyata buku ‘The Price of Privilege’ ini memberikan dampak kepada lingkungan yang jauh lebih luas dari perkiraan awal. Masalah seperti stres, depresi, kelelahan, anxiety, dan citra diri yang buruk menjadi masalah yang dihadapi sebagian besar anak, terlepas dari latar belakang sosial ekonomi mereka.

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat anak-anak untuk belajar, terinspirasi, dan menemukan kekuatan diri, kini menjadi sumber stres terbesar dalam hidup mereka.

Baca : Melatih Karakter Anak Dengan Pelajaran Menyapu

 

Related Post

Leave a Reply

+ 86 = 91