Periodontitis Penyakit Peradangan Pada Jaringan Pendukung Gigi

Periodontitis Penyakit Peradangan Pada Jaringan Pendukung GigiPeriodontitis Penyakit Peradangan Pada Jaringan Pendukung Gigi

Periodontitis

Periodontitis adalah suatu penyakit peradangan pada jaringan pendukung gigi yang disebabkan oleh sekelompok mikroorganisme tertentu yang mengakibatkan penghancuran progresif ligamentum periodontal dan tulang alveolar dengan pembentukan poket, resesi atau keduanya (Elisabetta et al., 2010). Keadaan tersebut akan menyebabkan kehilangan tulang dan migrasi apikal dari epitelium junctional sehingga mengakibatkan pembentukan poket periodontal (Li et al., 2000). Pada pemeriksaan klinis periodontitis terdapat peningkatan kedalaman probing, perdarahan saat probing, dan perubahan kontur fisiologis. Selain itu juga bisa ditemukan kemerahan dan pembengkakan gingiva yang biasanya tidak ada rasa sakit (Gray, 2005).

Menurut Samaranayake dalam buku Essential Microbiology for Dentistry (2006), periodontitis dapat diklasifikasikan menjadi :

Periodontitis Kronik

1) Lokal

2) Umum

Periodontitis Agresif

1) Lokal

2) Umum

Periodontitis Sebagai Manifestasi Penyakit Sistemik

1) Berhubungan dengan kelainan hematologi

  • Acquired neutropenia
  • Leukaemias
  • Penyakit lainnya

2) Berhubungan dengan kelainan genetik

  • Family and cyclic neutropenia
  • Down syndrome
  • Penyakit jarang lainnya

3) Berhubungan dengan kelainan metabolik

  • Diabetes Melitus
  • Penyakit lainnya

Necrotizing periodontal disease

  • Necrotizing ulcerative gingivitis (NUG)
  • Necrotizing ulcerative periodontitis (NUP)

 Abses Periodontium

  • Abses periodontal
  • Abses perikoronal
  • Abses gingival

Periodontitis yang Berhubungan dengan Lesi Endodontik

  • Lesi kombinasi periodontik-endodontik

Developmental or acquired deformities and condition

Penyebab utama penyakit periodontal adalah mikroorganisme yang berkolonisasi di permukaan gigi beserta plak bakteri dan produk yang dihasilkannya. Beberapa kelainan sistemik juga dapat berpengaruh buruk terhadap jaringan periodontal. Namun, faktor sistemik saja tanpa disertai adanya plak bakteri tidak dapat menjadi pencetus terjadinya periodontitis.

Ada dua faktor yang mungkin bisa menjadi pencetus penyakit periodontal tanpa adanya plak bakteri yaitu malignansi dan trauma oklusi primer (Vernino, 2005).

Periodontitis diawali dengan pembentukan plak yang melekat pada permukaan gigi. Plak gigi itu sendiri merupakan lapisan tipis biofilm multi-spesies yang mengandung kolonisasi bakteri, produk bakteri, dan sisa makanan. Plak gigi penyebab periodontitis biasanya berada di subgingiva yang kemudian meluas ke arah apikal gigi sehingga menyebabkan peradangan pada jaringan periodontal (Herliana, 2010).

Mikroorganisme yang menyusunnya terdiri atas sejumlah spirochete, bakteri gram negatif, dan bakteri yang mengelompok membentuk formasi sikat botol atau formasi sikat tabung. Spesial bakteri gram negatif tersebut antara lain Porphyromonas gingivalis, Prevotella intermedia, Actinobacillus (Aggregatibacter) actinomycetemcomitans, dan Fusobacterium nucleatum (Vernino, 2005). Periodontitis biasanya berkembang dari gingivitis kronis yang persisten, kemudian inflamasi dan produk bakteri tersebut menyebar dari gingiva ke prosesus alveolaris (Gray, 2005).

Periodontitis agresif yang dahulu dikenal sebagai juvenile periodontitis merupakan kelainan jaringan periodontal yang lanjut dan cepat serta biasanya terjadi pada usia pubertas dan dewasa muda yang sehat. Periodontitis agresif ditandai dengan hilangnya perlekatan jaringan ikat dan kerusakan tulang alveolar secara cepat yang terjadi pada lebih dari satu gigi permanen serta tidak berhubungan dengan iritasi lokal. Pada gejala awal, walaupun secara klinis gingiva terlihat normal tetapi pada gambaran radiografis ternyata mulai terlihat adanya kerusakan tulang serta terjadi perdarahan saat probing pada poket periodontal (Fidary & Lessang, 2008).

Bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans merupakan bakteri yang dominan pada periodontitis agresif dengan frekuensi sebesar 90% (Carranza et al., 2006). Bakteri tersebut mampu menembus jaringan ikat gingiva hingga ligamen periodontal serta tulang alveolar, selain itu juga memproduksi leukotoksin kuat yang akan membunuh neutrofil.

Terapi periodontitis agresif dapat berupa terapi non bedah, bedah atau kombinasi keduanya yang disertai pemberian antimikroba. Beberapa ahli melaporkan keberhasilan perawatan periodontitis agresif dengan kombinasi pemakaian antibiotik. Pemakaian antibiotik ini bertujuan untuk menghilangkan kelainan, mengurangi keganasan, mencegah komplikasi, dan rekurensi penyakit. Prognosis dari periodontitis agresif sendiri tergantung pada keadaan yang bersifat lokal atau menyeluruh, derajat kerusakan, dan usia pada waktu pertama kali dilakukan pemeriksaan (Fidary & Lessang, 2008).

Perawatan pada penyakit periodontal bisa dilakukan dengan pemberian obat-obatan yang dapat diberikan secara sistemik, per oral atau topikal. Obat-obatan yang harus diketahui dalam perawatan periodontal antara lain anti inflamasi, antibiotika, analgetika, dan antipiretika (Suproyo, 2009). Antibiotik yang biasa digunakan dalam perawatan periodontal misalnya metronidazol, ciprofloksasin, tetrasiklin, dan amoksisilin (Preus & Laurell, 2003).

Baca : Ekstrak dan Ekstraksi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *