Peranan Sektor Pariwisata Indonesia

Peranan Sektor Pariwisata Indonesia

Pengembangan sektor pariwisata di suatu daerah secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan dampak, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Beberapa sektor yang dapat terpengaruh oleh kegiatan pariwisata antara lain adalah sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan (Gunn, 1988). Peranan sektor pariwisata dalam bidang ekonomi dapat dilihat dari sektor pariwisata yang dapat dikategorikan sebagai sebuah industri yang dapat memberikan dampak ekonomi yang begitu besar bagi suatu daerah. Frechtling (1987) menambahkan beberapa dampak tidak langsung yang dihasilkan sektor pariwisata di bidang ekonomi yang terkait dengan wisatawan, yaitu penambahan jumlah penduduk: pendidikan, rumah sakit, perumahan, kesejahteraan publik, dan perkembangan ekonomi secara keseluruhan. Selain beberapa hal yang telah disebutkan di atas, pengaruh kegiatan pariwisata bagi sektor ekonomi tidak hanya terlihat pada hubungan langsung dengan usaha perhotelan, restoran dan penyelenggara paket perjalanan wisata, namun juga berhubungan dengan berbagai aspek lain seperti transportasi, telekomunikasi, dan berbagai kegiatan bisnis lainnya. Peranan sektor pariwisata dalam bidang sosial dapat dilihat dari interaksi yang terjadi antara wisatawan dengan masyarakat lokal yang dapat memberikan berbagai macam dampak baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Sektor pariwisata juga memiliki pengaruh terhadap lingkungan dalam hubungannya dengan ekosistem di lokasi pengembangan kegiatan pariwisata maupun lingkungan sekitar pengembangan kegiatan pariwisata.

Lebih lanjut, tahun internasional pariwisata juga menjadi bagian integral dari upaya mewujudkan cita-cita yang tertuang dalam agenda the Sustainable Development Goals (SDGs). Adapun pilar-pilar yang menjadi kerangka the International Year of Sustainable Tourism for Development akan dijelaskan dibawah ini.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Besarnya kontribusi sektor pariwisata pada pertumbuhan ekonomi seperti tersebut diatas membawa konsekuensi terhadap pentingnya setiap negara memperhatikan ketersediaan lingkungan usaha yang layak, kebijakan yang mendorong pengembangan pariwisata, serta tersedianya interkonektivitas antar wilayah.

Adapun dukungan negara antara lain diwujudkan dengan membuat kebijakan dan institusi yang mendukung kepariwisataan; mengembangkan kemampuan sumberdaya manusia melalui berbagai pelatihan; serta mendorong masuknya investasi seperti Foreign Direct Investment (FDI), pengembangan usaha mikro-kecil-menengah yang mendukung kepariwisataan, dan kemudahan akses seperti dalam pengurusan visa atau ijin lainnya.

Dari sudut pandang keterbukaan sosial (social inclusiveness), peningkatan jumlah tenaga kerja, dan pengurangan angka kemiskinan.

Selain berkontribusi terhadap penyediaan lapangan kerja, sektor pariwisata juga mampu memberdayakan perempuan dan anak muda melalui karya-karya kreatif. Sektor pariwisata juga berperan dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan usaha mikro-kecil-menengah.

Adapun dukungan negara bisa dilakukan dengan menciptakan lapangan kerja dan pelatihan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja; mendukung komunitas lokal, perempuan, dan anak muda dalam pengembangan industri kreatif; serta menciptakan kondisi yang kondusif sehingga berwisata menjadi pengalaman menyenangkan bagi semua orang.

Terkait dengan efisiensi sumberdaya, pemeliharaan lingkungan, dan perubahan iklim.
Efisiensi sumberdaya merupakan salah satu tantangan terbesar di sektor pariwisata. Tercatat, fasilitas air bersih yang digunakan setiap wisatawan mencapai 100-2,000 liter per malam, belum lagi kotoran dan sampah yang dihasilkan dari aktivitas wisatawan. Selain itu ancaman kerusakan lingkungan dan risiko akibat perubahan iklim juga mengancam industri pariwisata.

Hal-hal yang mesti diperhatikan untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut antara lain melalui peningkatan efisiensi dengan memanfaatkan sumberdaya energi ramah lingkungan; penggunaan metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam pengelolaan sampah; pemeliharaan lingkungan; mitigasi terhadap perubahan iklim; serta peningkatan pengetahuan kepada masyarakat dan wisatawan tentang risiko perubahan iklim serta cara menghadapinya.

Dari perspektif nilai, keanekaragaman, serta warisan budaya.
Situs kebudayaan merupakan salah satu daya tarik untuk mendatangkan wisatawan, bahkan terdapat sekitar 40% aktivitas wisata yang bisa dikategorikan sebagai wisata budaya. Hal ini bisa membantu memupuk kesadaran untuk menghargai keanekaragaman budaya, mendorong terciptanya dialog antar budaya, serta membantu penyebaran pengetahuan tentang kebudayaan dunia.

Untuk mencapai hal tersebut, usaha yang dilakukan antara lain dengan menetapkan wisata budaya sebagai salah satu motor pembangunan berkelanjutan; mempromosikan warisan budaya ke seluruh penjuru dunia; serta mendorong wisatawan untuk menikmati hasil kebudayaan, antara lain dengan menyaksikan atraksi kebudayaan, membeli produk-produk budaya lokal, dan sebagainya.

Dalam hubungannya dengan unsur saling memahami, perdamaian, dan rasa aman.
Kondisi aman dan damai merupakan salah satu hal yang mendorong wisatawan mengunjungi suatu wilayah. Masyarakat lokal yang ramah juga bisa menjadi alasan bagi para wisatawan untuk berinteraksi secara terbuka tanpa adanya rasa takut.

 

Selanjutnya OECD menggarisbawahi beberapa faktor yang harus dipenuhi sebagai wujud dukungan negara bagi pengembangan pariwisata yang berkesinambungan, diantaranya:

  • penyederhanaan prosedur pembuatan visa dan ijin masuk negara lain (permit entry), baik dalam hal persyaratan maupun waktu pemrosesan, serta adanya kerjasama bilateral antar negara di sektor pariwisata.
  • dukungan kepada usaha mikro-kecil-menengah yang terkait dengan sektor pariwisata, antara lain melalui pelatihan, pembangunan cluster ekonomi, serta kemudahan akses pasar.
  • peningkatan kualitas layanan melalui penerapan standar kualitas tertentu bagi para pelaku di sektor pariwisata.
  • penyederhanaan aturan terkait dengan usaha dan investasi di sektor pariwisata.
  • pengembangan investasi jangka panjang pada sektor pariwisata, antara lain berupa bantuan finansial untuk pembangunan destinasi wisata.

(OECD. OECD Tourism Trend and Policies 2016: Policy Highlights).

 

Leave a Reply

− 2 = 7