Penyakit Ginjal Kronis (PGK) Menurut Para Cendikiawan

Penyakit Ginjal Kronis Menurut Para Ahli

Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah sebuah entitas dan didefinisikan sebagai kerusakan ginjal atau laju filtrasi glomerulus (GFR) < 60 mL/ menit/ 1·73 m2 untuk ≥3 bulan. PGK sekarang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia karena prevalensi yang meningkat, biaya tinggi dan output yang buruk. Asosiasi independen dan bergradasi antara tingkat yang lebih rendah antara perkiraan GFR (eGFR) dan risiko kematian, kejadian kardiovaskular dan rawat inap telah terbukti, dan ulasan risiko ini terutama terlihat pada eGFR < 60. (Tanase-Nakao, et al., 2014).

Penyakit ginjal kronik adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible, sehingga pada derajat tertentu akan memerlukan terapi pengganti fungsi ginjal yang berupa hemodialisis atau transplantasi ginjal. Kriteria penyakit ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi lebih dari 3 bulan, berupa kelainan struktural atau fungsional, dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (glomerulus filtration rate/GFR), dengan manifestasi kelainan patofisiologis, dan kelainan ginjal termasuk kelainan dalam komposisi darah atau urin, atau kelainan dalam tes pencitraan. Penyakit ginjal kronik Penyakit ginjal kronik terjadi setelah berbagai macam penyakit merusak massa nefron ginjal. Sebagian besar penyakit ini merupakan penyakit parenkim ginjal difuse bilateral, meskipun lesi obstruktif pada traktus urinarius juga dapat menyebabkan gagal ginjal kronik (Price & Wilson, 2005).

Penyakit ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari 3 bulan, berdasarkan kelainan patologis atau petanda kerusakan ginjal seperti proteinuria. Diagnosis GGK ditegakkan jika nilai laju filtrasi glomerulus kurang dari 60 ml/menit/1,73m² dengan atau tanpa tanda kerusakan ginjal. Pada pasien dengan GGK, klasifikasi stadium ditentukan oleh nilai laju filtrasi glomerulus, yaitu stadium yang lebih tinggi menunjukkan nilai laju filtrasi glomerulus yang lebih rendah. Klasifikasi tersebut membagi penyakit ginjal kronik dalam lima stadium (Perazella & Reilly, 2005).

Tahapan penyakit ginjal kronik didasarkan pada faal ginjal yang masih tersisa yang dapat diukur dengan klirens kreatinin. Pada penyakit ginjal kronik stadium V dengan tes kliren kreatinin (TKK) menunjukkan kurang dari 15 mL/menit/1,73m2 dianjurkan untuk menjalani terapi pengganti agar dapat bertahan hidup dengan kualitas baik. Salah satu terapi pengganti yang dilakukan adalah hemodialisis (Luana, 2012).

Penyakit Ginjal Kronik merupakan salah satu penyakit yang memiliki risiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi di dunia. Terutama di Indonesia penyakit ini sudah menjadi masalah utama di fasilitas kesehatan. Menurut O’hare, et al., (2007), Penyakit Ginjal Kronik adalah penyakit yang lebih banyak diderita di populasi orang tua. Biasanya Penyakit Ginjal Kronik pada umur yang lebih muda berhubungan erat dengan hilangnya fungsi ginjal, tapi pada pasien diatas umur 65 tahun dengan Penyakit Ginjal Kronik, 30% dari mereka tidak menderita hilangnya fungsi ginjal yang progresif.

Baca : Penyakit Akibat Konsumsi Rokok

Indonesia sendiri belum memiliki sistem registrasi yang lengkap di bidang penyakit ginjal, namun di Indonesia diperkirakan 100 perjuta penduduk atau sekitar 20.000 kasus baru dalam setahun. Selain itu mahalnya tindakan hemodialisis masih merupakan masalah besar dan diluar jangkauan sistem kesehatan. Sebagian besar pesien penyakit ginjal datang mencari pertolongan dalam keadaan terlambat dan pada stadium tidak dapat pulih. Hal ini disebabkan karena penyakit ginjal pada stadium awal umumnya tidak bergejala. Perawatan ginjal fase pre-dialitik jarang dilakukan. Satu penelitian dari Surabaya menunjukkan bahwa rujukan terlambat kepada ahli ginjal terjadi pada 56% pada pasien laki-laki dan 26% pada pasien perempuan (Surhayadi, 2014)

Pasien yang mendapat dukungan baik dari keluarga namun mengalami depresi sedang menurut asumsi peneliti dapat disebabkan oleh masalah finansialnya karena sebagian besar responden tidak bekerja. Faktor ekonomi juga menjadi salah satu fakor yang berpengaruh, sebagian besar pasien merupakan laki-laki yaitu sebanyak 70% yang dimana berperan sebagai kepala keluarga yang seharusnya mencari nafkah namun dengan kondisinya sekarang responden tidak mampu bekerja hal ini terbukti dengan pasien yang tidak bekerja sebanyak 36,7% (Pratiwi, 2014).

 

Tag: , , ,


Leave a Reply

− 5 = 1