Pencernaan lemak di dalam tubuh menurut para ahli

Pencernaan lemak di dalam tubuh

Setiap sel dari 100 triliun sel yang terdapat dalam tubuh manusia merupkan struktur hidup yang dapat bertahan selama bertahun-tahun. Sel tersebut mempunyai dua bagian utama yaitu nucleus dan sitoplasma serta berbagai zat yang membentuk sel secara keseluruhan disebut protoplasma yang terdiri dari lima zat dasar: air, elektrolit, protein, lipid dan karbohidrat (Guyton & Hall, 2009).

Lipid adalah sekelompok senyawa heterogen meliputi lemak, minyak, steroid, malam (wax), yang berkaitan lebih karena sifat fisiknya daripada sifat kimianya. Sifat umumnya berupa tidak larut dalam air, larut dalam pelarut non – polar (Murray dkk, 2009).

Lemak (fat) adalah salah satu contoh lipid sederhana,yang nantinya akan dicerna oleh tubuh didalam usus dan sebagian besar disimpan di jaringan adiposa sebagai insulator panas di jaringan subkutan (Murray dkk, 2009).

Karena lipid tidak larut dalam air, masalah cara pengangkutan lipid dalam plasma darah yang berbahan dasar air, dipecahkan dengan cara menggabungkan lipid nonpolar (trigliserol dan ester kolesteril) dengan lipid amfipatik (fosfolipid dan kolesterol) serta protein untuk menghasilkan lipoprotein yang dapat bercampur dengan air (Murray dkk, 2009).
Lipid utama dalam makanan adalah trigliserol dan dalam jumlah yang sedikit yaitu fosfolipid, keduanya bersifat hidrofobik (tidak larut dalam air) dan harus di hidrolisis dan diemulsikan menjadi butiran yang sangat halus sebelum dapat diserap. Hidrolisis trigliserol dimulai dari lipase mulut dan lambung yang menyerang ikatan ester sn-3 yang membentuk 1,2 diasilgliserol dan asam lemak bebas serta mempermudah proses emulsifikasi. Lipase pangkreas di sekresikan kedalam usus halus dan dibantu oleh protein pancreas lain, yaitu kolipase agar dapat bekerja spesifik pada ikatan ester primer posisi 1 dan 3 dalam trigliserol. Dari proses ini akan menghasilkan 2-monoasilgliserol dan asam lemak bebas sebagai produk akhir utama pencernann trigliserol di lumen (Murray dkk, 2009).

Dalam proses emulsifikasi ini juga dibantu oleh empedu yang mengandung sejumlah besar garam empedu dan fosfolipid lesitin yang larut air,fungsi utama dari garam empedu dan lesitin ini untuk membuat gelembung lemak siap dipecah oleh pengadukan dalam air sehingga dapat menurunkan tegangan antar permukaan lemak dan membuat lemak tersebut ikut terlarut dengan air di usus halus (Guyton & Hall, 2009).

Monogliserol sebagai produk akhir dari proses ini berkontak erat dengan brush border sel mukosa sehingga akan diserap oleh epitel usus. Didalam epitel usus 1-monogliserol akan di hidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol, dan 2-monoasilgliserol mengalami re-asetilasi menjadi triasilgliserol melalui jalur monoasilgliserol. Gliserol yang di bebaskan di lumen usus tidak di gunakan kembali tetapi masuk ke vena porta sedangkan gliserol yang dibebaskan di dalam epitel digunakan kembali untuk sintesi triasilgliserol (Murray dkk, 2009).

Asam lemak rantai panjang mengalami esterifikasi untuk menghasilkan triasilgliserol di sel mukosa akan disekresikan sebagai kilomikron kedalam pembuluh limfe dan masuk ke dalam aliran darah melalui duktus torasikus, sedangkan asam lemak rantai sedang dan pendek di serap terutama ke dalam vena porta hepatica sebagai asam lemak bebas (Murray dkk, 2009).

a) Emulsifikasi lemak dan pencernaanya oleh lipase pancreas

Lipoprotein lipase terdapat di dinding kapiler darah melekat pada endotel melalui rantai proteoglikan heparin sulfat yang bermuatan negative, enzim ini bisa ditemukan di jantung, jaringan adipose, limpa, paru, medulla ginjal, aorta, diafragma dan kelenjar mamaria dalam keadaan laktasi dan normalnya tidak ditemukan dalam darah (Murray dkk, 2009).

Lipase hati terikat pada permukaan sinusoid sel hati dan di bebaskan oleh heparin. Saat terjadinya hidrolisis triasilgliserol, lipoprotein akan melekat di endotel dan mengalami hidrolisis secara progresif melalui diasil gliserol menjadi monoasil gliserol dan akhirnya menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Asam lemak bebas ini akan kembali ke sirkulasi melekat pada albumin dan kebanyakan di angkut ke jaringan (Murray dkk, 2009).

Garam empedu juga turut membantu pencernaan lemak (emulsifikasi) dengan mengubah globulus lemak yang berukuran besar menjadi emulsi butiran lemak (steroid yang berasal dari kolesterol) yang terbenam dalam kimus. Dalam garam empedu terdapat molekul yang larut lemak dan bagian yang larut air yang bermuatan negatif, bagian negatif yang larut air akan menonjol di permukaan lemak. Ketika butiran lemak ini berada dalam usus maka gerakan peristaltic usus akan memecah butiran lemak menjadi lebih halus lagi.

Gugus yang bermuatan negative di permukaan lemak akan menyebabkan butiran lemak saling tolak menolak satu sama lain, sehingga terbentuk emulsi lemak yang meningkatkan luas permukaan lemak. Dalam keadaan ini lipase pancreas akan lebih mudah mencerna butiran lemak teraebut. Misel garam empedu juga bertindak segai medium transport untuk mengangkut monogliserida dan asam lemak bebas menuju brush border sel-sel epitel usus untuk di absorpsi ke dalam darah. Setelah itu garam empedu akan di lepaskan kembali ke kimus untuk di pakai berulang-ulang dalam proses pengangkutan selanjutnya (Isselbacher dkk, 2000.

b) Penyerapan lemak

seperti yang dijelaskan di atas bahwa produk akhir dari pencernaan lemak adalah 2-monogliserida dan asam lemak bebas. Proses penyerapan lemak sangat di pengaruhi oleh garam empedu, saat konsentrasi garam empedu ini cukup tinggi di dalam air maka akan mempunyai kecendrungan membuat misel, gumpalan berbentuk silinder sferis kecil berdiameter 3 samapi 6 nanometer terdiri dari 20-40 molekul garam empedu. Misel ini terbentuk karena setiap molekul garam empedu tersusun dari sebuah inti sterol yang sangat larut lemak dan satu gugus polar yang sangat larut air. Inti sterol ini membentuk gumpalan lemak kecil di tengah misel yang telah terbentuk dengan gugus-gugus polar garam empedu yang menonjol keluar untuk menutupi permukaan misel. Karena gugus ini bermuatan negatif memungkinkan semua gugus misel larut dalam air cairan pencernaan dan tetap stabil sampai lemak tersebut di absorpsi ke dalam darah (Guyton & Hall, 2009).

Misel garam empedu juga bertindak segai medium transport untuk mengangkut monogliserida dan asam lemak bebas menuju brush border sel-sel epitel usus untuk di absorpsi ke dalam darah. Setelah itu garam empedu akan di lepaskan kembali ke kimus untuk di pakai berulang-ulang dalam proses pngangkutan selanjutnya (Isselbacher dkk, 2000).

Baca : Lemak Jenuh

c) Transportasi lemak

Hampir seluruh lemak dalam diet kecuali asam lemak rantai pendek di absorpsi di usus, sebagian besar trigliserida yang di pecah menjadi monogliserida dan asam lemak akan di sintesis kembali saat melalui epitel usus menjadi molekul trigliserida yang baru. Kemudian molekul trigliserida yang baru ini masuk kedalam limfe dalam bentuk droplet yang disebut kilomikron. Kilomikron ini akan mereabsorpsi apoprotein B pada permukaan luarnya, sehingga protein menonjol ke dalam air beguna untuk meningkatkan stabilitas suspensi kilomikron di dalam cairan limfe dan akhirnya akan dtranspor ke atas melalui ductus thoracicus dan masuk kedalam darah vena yang bersikulasi di pertemuan vena jugularis dengan subklavia (Guyton & Hall, 2009).

Menurut Ganong (2010) terdapat pengangkut utama lemak di dalam tubuh diantaranya:

1) kilomikron

kilomikron mengandung 9% fosfolipid, 3% kolesterol, dan 1% apoprotein B (Guyton & Hall, 2009). Kilomikron ini disintesis di usus oleh se-sel mukosa usus yang nantinya akan menuju jaringan limfatik untuk membawa lemak ke jaringan ekstrahepatik, lemak utamanya yaitu trigliserida dan kolesterol.

2) IDL (intermediet density lipoprotein)

Lemak utama IDL adalah trigliserida dan kolesterol dan apolipoproteinnya adalah Apo B-100 dan Apo E. IDL berasal dari sisa VLDL.

3) LDL

LDL berasal dari lipoprotein bredensitas sedang dengan mengeluarkan hampir semua trigliseridnya dan menyebabkan konsentrasi kolesterol menjadi sangat tinggi dan konsentrasi fosfolipidnya menjadi cukup tinggi (Guyton & Hall, 2009). Apolipiprotein utamanya adalah Apo B-100.LDL berasal dari hasil sisa rombakan IDL.

4) HDL

HDL mengandung lipoprotein protein berkonsentrasi tinggi (sekitar 50%) dengan konsentrasi kolesterol dan fosfolipid jauh lebih kecil (Guyton & Hall, 2009). HDL ini disintesis oleh parenkim hati dan sel usus dan berfungsi untuk mengangkut lemak dari jaringan ekstrahepatik menuju hepar.

5) VLDL

VLDL adalah lipoprotein untuk mengangkut trigliserol dari hati ke jaringan ekstrahepatik, dimana VLDL mengandung konsentrasi trigliserida yang tinggi dan konsentrasi sedang kolesterol fosfolipid (Guyton & Hall, 2009).

Baca : Gelatin camilan yang bagus untuk para atlet

d) Kolesterol

Sebagian besar kolesterol dalam makanan berada dalam bentuk ester kolesterol yang merupakan kombinasi kolesterol bebas dengan satu molekul asam lemak (Guyton & Hall, 2009). Misel garam empedu mempunyai peran yang sama dalam pengangkutan kolesterol bebas dan molekul fosfolipid yang sudah di cerna seperti peran pada pengangkutan monogliserida dan asam lemak bebas. Kolesterol yang di absorbsi setiap hari dari saluran pencernaan disebut kolesterol eksogen, sedangkan kolesterol yang di bentuk dalam sel tubuh disebut kolesterol endogen (Guyton & Hall, 2009).

Table 1. Kadar Lipid Serum Nomal. Klasifikasi Kolesterol Total, Kolesterol LDL dan Trigliserida menurut Nasional Cholesterol Education Program (NCEP)

Kolesterol HDL (mg/dl)
130 – 159 Diinginkan
160 – 189 Tinggi
≥ 190 Sangat Tinggi
Kolesterol HDL (mg/dl)
< 40 Rendah
≥ 60 Tinggi
Trigliserida (mg/dl)
< 150 Optimal
150 – 199 Diinginkan
200 – 499 Tinggi
≥ 500 Sangat Tinggi

Struktur dasar kolesterol adalah inti sterol yang di bentuk dari molekul asetil-KoA, yang dapat dimodifikasi membentuk (1) kolesterol, (2) asam kolat, yang merupakan dasar dari asam empedu yang dibentuk di hati, (3) beberapa hormon steroid yang di sekresi oleh korteks adrenal membentuk hormon adrenokortikal, oyarium untuk membentuk progesterone dan estrogen dan testis untuk membentuk testosteron, (4) dengan zat lain berkonjugasi membentuk garam empedu, yang akan meningkatkan pencernaan dan absorbsi lemak (Guyton & Hall, 2009). Kolesterol juga di endapkan dalam lapisan korneum kulit dan bersama dengan lipid membuat kulit lebih resisten terhadap absorpsi zat larut air dan zat lipidnya membantu mencegah evaporasi air dari kulit.

Literasi

Robert K. Murray, Darly K. Granner, Victor W. Rodwell. (2009). Biokimia Harper Edisi 27. (Wulandari dkk, penerjemah).Indonesia: EGC. (Buku asli diterbitkan 2006).

Isselbacher, Braunwald, Wilson, Martin, Faua, Kasper. (2000) Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit DalamEdisi13 Vol 3.(Ahmad H. Asdie, penerjemah).Indonesia: EGC. (Buku asli diterbitkan 1995).

Guyton & Hall. (2008). Fisiologi Kedokteran Edisi 11. (Luqman Yanuar Rahcman, Hariawati Hartanto, Andita Novrianti, Nanda Wulandari, penerjemah). Indonesia: EGC.(Buku asli diterbitkan 2006).

Isselbacher, Braunwald, Wilson, Martin, Faua, Kasper. (2000) Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit DalamEdisi13 Vol 3.(Ahmad H. Asdie, penerjemah).Indonesia: EGC. (Buku asli diterbitkan 1995).

Guyton & Hall. (2008). Fisiologi Kedokteran Edisi 11. (Luqman Yanuar Rahcman, Hariawati Hartanto, Andita Novrianti, Nanda Wulandari, penerjemah). Indonesia: EGC.(Buku asli diterbitkan 2006).

 

Tag: , , , , ,


Leave a Reply

56 + = 60