Pemeriksaan Darah Rutin

1. Hemoglobin

Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi. Ia memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah. Dengan melalui fungsi ini maka oksigen di bawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan (Evelyn,2000). Kadar hemoglobin adalah ukuran pigmen respiratorik dalam butiran- butiran darah merah (Costill,1998). Jumlah hemoglobin dalam darah normal kira-kira 15 gram setiap 100 ml darah dan jumlah ini biasanya disebut “100 persen” (Evelyn,2009).

Namun demikian WHO telah menetapkan batas kadar hemoglobin normal berdasarkan umur dan jenis kelamin ( WHO dalam Arisman, 2002). Kekurangan Hemoglobin menyebabkan terjadinya anemia, yang ditandai dengan gejala kelelahan, sesak napas, pucat dan pusing. Kelebihan Hemoglobin akan menyebabkan terjadinya kekentalan darah jika kadarnya sekitar 18-19 gr/ml yang dapat mengakibatkan stroke. Kadar hemoglobin dapat dipengaruhi oleh tersedianya oksigen pada tempat tinggal, misalnya Hb meningkat pada orang yang tinggal di tempat yang tinggi dari permukaan laut. Selain itu, Hb juga dipengaruhi oleh posisi pasien (berdiri, berbaring), variasi diurnal (tertinggi pagi hari) (detikhealt, 2011).

2. Eritrosit

Eritrosit adalah sel darah merah yang mengandung hemoglobin, yang berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan membawa karbondioksida dari jaringan ke paru-paru. Eritrosit berbentuk cakram bikonkaf, cekung pada kedua sisinya, sehingga dilihat dari samping nampak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang. Kalau dilihat satu per satu warnanya kuning tua pucat, tetapi dalam jumlah besar kelihatan merah dan memberi warna pada darah. ( Evelyn C. Pearce, 1979 )

Proses eritropoiesis terjadi selama 7 hari dan jumlah normal eritrosit yang dihasilkan adalah 4,5-6,5 juta/mm3 pada pria, sedangkan pada wanita 3,9-5,6 juta/mm3 ( A. V. Hoffbrand, 1991 ). Variasi kelainan dari besar eritrosit dibagi menjadi 3, yaitu: (1) makrositosis adalah keadaan dimana diameter rata-rata eritrosit > 8,5 mikron dengan tebal rata-rata 2,3 mikron. Makrositis ditemukan pada anemi megaloblastik, anemi pada kehamilan, anemi karena malnutrition. (2) mikrositosis adalah keadaan dimana diameter rata-rata eritrosit < 7 mikron dengan tebal rata-rata 1,5-1,6 mikron. Mikrositosis ditemukan pada anemi defisiensi besi. (3) anisositosis adalah keadaan dimana ukuran besarnya eritrosit bervariasi, jadi terdapat makro, normo, mikrosit, sedang bentuknya sama. Anisitosis ditemukan pada anemi kronik yang berat ( Dep Kes RI, 1989).

3. Hematokrit

Hematokrit adalah hematokrit adalah volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan memutarnya di dalam tabung khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen (Pusdik, 1989). Nilai hematokrit digunakan untuk mengetahui nilai eritrosit rata-rata dan untuk mengetahui ada tidaknya anemi. Penetapan nilai hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro (Ganda S, 1968). Nilai normal hematokrit disebut dengan %. Nilai untuk pria 40-48 vol % dan untuk wanita 37-43 vol %. Pada anemia defisiensi besi, hematokrit mengalami penurunan.

Pemeriksaan Tambahan

1. Kadar Besi Serum ( Serum Iron )

Serum adalah cairan yang tersisa dari darah ketika sel-sel darah merah dan faktor pembekuan telah dihapus. Serum iron adalah tes laboratorium medis yang mengukur jumlah beredarnya besi yang terikat untuk transferin. Pengukuran kadar besi serum digunakan untuk mengetahui gangguan penggunaan besi dan penimbunan besi, khususnya pada pasien yang sering menggunakan obat yang mengandung besi, transfusi ulang atau yang mengalami penyakit infeksi. Besi di dalam darah diangkut oleh protein yang disebut transferin. Banyaknya besi yang diangkut oleh transferin ini disebut serum iron. Pada keadaan normal, kadar serum iron pada pria 31-44 μg/dL dan 25-156 μg/dL pada wanita. (Wirawan R, 2011)

Kadar besi serum sangat berfluktuasi dari waktu ke waktu antara pagi dan sore. Hal ini dapat berbeda sekitar 20% dalam hari yang sama bahkan hingga mencapai 100% di pemeriksaan berikutnya. Keadaan yang dapat menurunkan kadar besi serum antara lain infeksi, penyakit dengan radang menahun juga keganasan. Sedangkan kadar SI dapat meningkat pada hepatitis dan penyakit dengan penimbunan besi.(Wirawan R, 2011)
Uji laboratorium ini dilakukan pada saat kecurigaan terhadap kekurangan zat besi, yang dapat menyebabkan anemia dan masalah lainnya. 65% dari besi dalam tubuh terikat dalam molekul hemoglobin dalam sel darah merah. Sekitar 4% terikat dalam molekul myoglobin. Sekitar 30% dari besi dalam tubuh disimpan sebagai ferritin atau hemosiderin di limpa, susum tulang dan hati. Sejumlah kecil zat besi dapat ditemukan dalam molekul lain dalam sel-sel di seluruh tubuh. Jika serum iron didapatkan hasilnya <50 mg/dl maka hasilnya adalah mengalami anemia. (Fauci, Braunwald, Kasper, Hauser, Longo, Jameson, et al, 2008)

2. TIBC (total iron binding capacity)

TIBC merupakan jumlah besi yang dapat berikatan dengan transferin. Normal TIBC berkisar antara 300 sampai 360 μg/dl. Secara bersamaan, SI dan TIBC digunakan untuk menghitung persen saturasi transferin dengan besi (SI : TIBC = persen saturasi). Dalam keadaan normal besi seimbang, persen saturasi adalah antara 20-50 persen. Ketika itu berada di bawah 20 persen, eritroid sumsum tulang sulit mendapatkan cukup besi untuk mensuport peningkatan level eritropoesis. Ketika persen saturasi melebihi 50-60 persen, besi dilepaskan untuk peningkatan jaringan parenkim, menghasilkan besi yang berisi hepatocytes, otot jantung, kulit, dan kelenjar pituitary (Hillman, Robbert S, 1998). Pada anemia defisiensi besi kadar TIBC mengalami peningkatan yaitu > 350 μg/dl (Bakta IM,et al., 2011).

3. Serum Feritin

Seperti yang telah diketahui secara luas, jumlah kecil g/l pada pria)ferritin serum dalam serum manusia (15-300 menggambarkan simpanan besi tubuh, penghitungan serum ferritin telah secara luas diadopsi sebagai tes untuk defisiensi besi dan kelebihan besi (Ludlam, Christopher A, 1992). Pada anemia defisiensi besi kadar serum feritin <20 mg/l ( Bakta IM, 2011).

4. Saturasi Transferin

Hampir semua sel dalam tubuh memerlukan besi dari protein plasma, transferin, tetapi transferin mempunyai daya tarik tinggi pada besi saat pH normal dan pelepasan besi mengambil suatu tempat melalui reseptor spesifik membran (Ludlam, Christopher A, 1992: 124). Pada anemia defisiensi besi kadar serum transferin < 15% ( Bakta IM, 2011).

Literasi

Gandasoebrata, R.(2004). Penuntun Laboratorium Klinik. (11 th ed.). Jakarta: Dian Rakyat, pp. 39-40.

Pearce, Evelyn. (2009). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT. Gramedia. Pustaka Utama.

Wirawan R. (2011). Pemeriksaan Laboratorium Hematologi (1st ed.). Balai Penerbit FKUI.

Ludlam, Christopher A. (1992). Hematology. Singapore : ELBS Longman Publisher.

Bakta IM, Suega K, Dharmayuda TG. (2011). Anemia Defisiensi Besi. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V, Jakarta Pusat: Interna Publishing. 1127-32.

Hillman, Robbert S.(1998). Hematology in Clinical Practice: a Guide to Diagnsosis and Management . (2nd ed.). New York: McGrawHill.

Fauci, Braunwald E, Kasper, Hauser, Longo, Jameson, et al.(2008). Harrison’s Principles of Internal Medicine (17th ed.). United states: The McGraw-Hill Companies.

1 Comment

  1. Sudarto

    Ingin tanya, kok darah tinggi dan kolesterol tidak masuk klasifikasi pemeriksaan darah. Demikian pula pemeriksaan gula darah. Kan semua itu pemeriksaan darah untuk mengetahui berapa kadarnya? Terima kasih.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *