Orang Tua Jangan Membodohi atau Membohongi Anak

Orang Tua Jangan Membodohi atau Membohongi Anak

Membodohi atau Membohongi Anak, Berikut ini beberapa fenomena kebohongan yang mungkin tanpa sadar orang tua pernah melakukan atau membiarkan kebohongan tertanam pada diri kita, anak-anak dan lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.

Pertama, dalam kehidupan keluarga sering kita dapati sang ibu menjanjikan sesuatu untuk si anak, tapi tidak pernah diwujudkan. Tindakan semacam ini merupakan benih kevohongan yang ditanamkan oelh seorang ibu pada diri anaknya tanpa disadari. Atau sering juga sang ibu mengatakan ke si anak ‘he nak, jangan kesitu ada pocong’, misalnya.

Kedua, kebiasaan mencontek anak yang banyak  didukung oleh para orang tua dan bahkan ada beberapa guru yang dengan senang hati memberikan kunci jawaban seperti yang telah terjadi pada ujian Nasional tahun-tahun lalu. Kebiasan ini harus dihilangkan karena ini merupakan perbuatan yang tercela, curang dan jelas mencerminkan ketidakjujuran meskipun atas nama kasih sayang terhadap anak-anak.

Ketiga,anak yang berusaha untuk jujur sering dicela dan ditertawakan, sedangkan anak yang suka berbohong mendapat pujian dan penghargaan.

Keempat, kebanyakan para orang tua Mengerjakan PR untuk anak dan bukan mengajarkan anak bagaimana cara mengerjakan PR. Tanpa disadari,  orang tua yang suka memanjakan anaknya dengan membantunya mengerjakan PR tersebut, telah membiarkan anak-anaknya tak berusaha mandiri dan berlaku jujur.

Seorang ibu bercerita, saat jalan-jalan ke sebuah pertokoan, anaknya memintanya membeli mainan. Masalahnya, mainan sejenis itu sudah ada di rumah, selain itu harganya juga mahal. Lantas ibu itu bertanya, apakah boleh membohongi anak dengan mengatakan, bahwa ibu bapaknya sedang tidak punya uang?

Sebaiknya seorang ibu tidak berbohong pada anaknya sebab bila itu dilakukan terus menerus, dan akhirnya ketahuan sama anaknya, maka si anak itu secara tidak sengaja belajar berbohong. Tegaskan saja pada anak, bahwa harga mainan itu mahal dan cobalah diskusikan dengan anak mengenai  kebutuhannya akan mainan itu, apalagi sebenarnya di rumah sudah punya.

Ada sebuah contoh bagus. Seorang anak dibelikan mainan oleh orang tuanya.  Karena mereka belum tahu nilai uang, jadi oleh orang tuanya diajarkan menghitung harga mainan itu. Orang tuanya mengajarkan, bila hendak membeli mainan jumlah angka yang tertera setelah huruf Rp (rupiah), tidak boleh lewat dari 5 angka. Hasilnya, setiap anak itu melihat mainan yang disukainya, mereka hitung dulu, jika angkanya setelah Rp itu ada 6, langsung dikatakan  “mahal”.

Menghindari membodohi atau membohongi anak, Cara itu boleh coba, daripada berbohong dengan mengatakan tidak ada uang, namun  setelah itu, ibunya malah beli baju, beli makanan yang mahal, dan sebagainya, itu kan mengajarkan anak, bahwa berbohong itu boleh. ((beberapa tulisan dari Melly Kiong-Praktisi, pelatih dan penulis buku-buku parenting)

Baca : Kreatif Muncul Dari Orang Tua Yang Cenderung Membiarkan

 

Tag: , , , , , , ,


Leave a Reply

*

code