Cara Menumbuhkan Sikap Kepekaan Sosial Anak

Cara Menumbuhkan Sikap Kepekaan Sosial Anak

Saat melihat sebuah mainan, seketika pikiran kita terlintas pada sosok anak-anak. Gambaran ini membuktikan pernyataan bahwa dunia bermain adalah dunia anak-anak. Kenyataannya, seringkali kita menemui anak-anak sedang bermain di berbagai tempat, yang kemudian berharap akan menumbuhkan sikap kepekaan sosial anak

Mereka bermain dengan media maupun tanpa media. Anak-anak selalu menggunakan waktunya untuk bermain. Dalam permainan anak dapat berbagi perasaan, kegembiraan atau kesedihan dengan teman sebaya atau orang tuanya saat bermain.

Namun tidak semua bentuk permainan selalu berfungsi dalam pengembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan kepekaan sosial anak. Dalam kenyataan kehidupan masyarakat, sebagian orang tua memberikan permainan yang lebih memfokuskan pada kemampuan kognisi, tanpa mempertimbangkan kebutuhan anak untuk berinteraksi sosial.

Orang tua memberikan permainan elektronik seperti video game, play station dan jenis-jenis permainan individual lainnya. Keadaan ini yang menjadikan anak kurang dapat mengembangkan kecakapan sosialnya.

Sebenarnya, hampir semua kandungan kecakapan sosial dapat dimasukkan dalam format permainan. Orang tua dapat menggunakan serangkaian permainan untuk melatih kecakapan sosial.

Ketika bermain, harapan, perhatian dan ketakutan anak dapat diekspresikan. Bermain juga menunjang perkembangan konsep diri yang positif dan juga membangun kepercayaan yang memungkinkan si kecil dapat melakukan banyak hal sesuai dengan pandangan dan harapannya (cerdas melalui bermain).

Kegiatan bermain sebagai metode utama melatih kepekaan sosial anak dapat dilakukan dengan empat hal.

Pertama, yang harus dilakukan adalah mencarikan teman bermain, bisa dari keluarga sendiri ataupun tetangga. Teman bermain sangat diperlukan untuk mengembangkan kecakapan sosial anak. Untuk mempererat dan mendekatkan jalinan kekeluargaan, ayah, ibu, kakak, bibi, maupun sepupu, dapat dijadikan sebagai teman bermain bagi anak. Teman bermain sangat berpengaruh bagi anak. Kemampuan kecakapan sosial dari lawan main akan diserap oleh anak. Ketertarikan anak pada lawan bermain memberikan daya imitasi yang kuat.

Kedua, memunculkan ide bermain. Berikan kebebasan pada anak untuk mencoba menentukan permainan. Agar anak mempunyai jiwa kepemimpinan yang baik. Dari ide yang diberikan oleh anak, orang tua memberikan pengarahan. Namun, perlu ada batasan dalam menentukan ide. Misal dengan dibatasi medianya harus ada di sekitar. Orang tua yang akan memberikan pengarahan dan mengatur tempat serta media yang dibutuhkan. Misal anak ingin bermain dengan batu. Maka orang tua mengarahkan untuk mengambil batu bersama-sama untuk dimainkan bersama.

Ketiga, membuat aturan. Sebuah permainan tentu harus mempunyai aturan. Agar anak mengetahui batasan-batasan dalam bermain. Tidak ada kata seenaknya sendiri. Aturan akan memberikan batasan-batasan untuk menghindari sikap ingin menang sendiri dan semaunya sendiri. Misal, permainan harus menggunakan tangan.

Jadi, selain tangan tidak boleh digunakan. Ini akan melatih anak untuk belajar tertib dan sesuai dengan aturan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat nantinya. Aturan dalam permainan ibarat norma yang ada di dalam masyarakat, yang harus dijaga, dipatuhi dan dilaksanakan.

Keempat, kesempatan berargumen. Anak harus diberikan kesempatan untuk berpendapat dan mendengarkan pendapat. Ketika permainan telah usai, anak diberikan ruang untuk berargumen dari permainan yang telah dilakukan. Anak diminta untuk berkomentar dan melakukan interaksi sosial dengan lawan mainnya, sehingga anak akan memahami karakter orang lain. Sebaliknya, anak diarahkan untuk mendengarkan orang lain, sehingga muncul sikap saling menghormati satu sama lain.

Dengan keempat hal ini, bermain akan memberikan kemampuan kecakapan sosial pada anak. Interaksi yang dilakukan pada saat permainan menjadikan anak mengetahui dan memahami karakter personalnya dan orang lain. Anak dapat mengerti posisi sosialnya saat bermain. (Titi Anisatul Laely, Mahasiswa Program Pasca Sarjana Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Baca : Orang Tua Jangan Memukul Anak Jika Bersalah

 

Tag: , , , , ,


Leave a Reply

89 − = 80