Mengasuh Anak Jangan Menggunakan Emosi

Mengasuh Anak Jangan Menggunakan Emosi

Emosi negatif dapat berpotensi merusak struktur otak anak. Padahal 90 persen otak berkembang pesat pada saat anak berusia di bawah 7 tahun. Oleh sebab itu orang tua harus terus belajar mengasuh anak tanpa emosi.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Bidang Pendidikan Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK) Ratna Megawangi pada Seminar Pendidikan Keluarga Duta Oase Cinta, Senin, 7 Maret 2016 di Hotel Sahid Jakarta. “Banyak orang tua yang sibuk dengan gadget, handphone, sibuk berkirim email, dan  berbicara tanpa melihat mata anak,” ucapnya Senin (7/3).

Pada seminar yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan OASE KK tersebut, Ratna mengingatkan kembali bahwa orang tua adalah arsitek otak anak. Sikap dan perilaku anak mencerminkan bagaimana ia dididik dan diasuh orang tuanya. Keberhasilan anak di masa depan juga sangat dipengaruhi faktor pengasuhan orang tua.

Ratna juga meminta agar para orang tua lebih sabar mengasuh dan mendidik anak. Sebab, berdasarkan survei Save The Children, sebanyak 93% anak mengalami kekerasan di rumah dan sekolah. Selain itu, survei dari Federasi Kesehatan Mental Indonesia (FEKMI) menyebutkan mayoritas remaja beranggapan bahwa orang tua cenderung otoriter.

Saat Anda sedang mengasuh anak Anda sendiri ketika sudah pulang kerja tanpa adanya pengasuh atau baby sitter, maka cobalah bertanya pada anak Anda beberapa pertanyaan kecil seputar harinya bersama pengasuh baru. Apa yang dia lakukan bersama pengasuhnya, apakah ia merasa senang atau tidak dan berbagai macam pertanyaan serupa untuk mengorek info dari si kecil tentang kerja pengasuh tersebut dalam menjaga anak Anda

Tips Praktis Mengasuh Anak

Sejumlah tips praktis yang dapat dilakukan para orang tua untuk mengasuh anak yakni.
Pertama, jangan mudah marah,  dan kendalikan emosi semaksimal mungkin dalam mengasuh anak.
Kedua, perbanyak senyuman, pelukan, tatap mata anak, dan usap kepala anak dengan penuh cinta.
Ketiga, biarkan anak bermain. Jangan paksa ia untuk membaca, menulis, berhitung, apalagi disertai ancaman dan amarah. “Anak yang tinggal dalam lingkungan keluarga yang ceria dapat tumbuh menjadi anak yang berkarakter,” ujar Ratna. *Yohan Rubiyantoro/Subdit Kemitraan

Baca Juga : Ide Teknologi Penerbangan Inspirasi dari Makhluk Hidup

 

Tag: , , , , , ,


Related Post

Leave a Reply

+ 45 = 52