Di tanah itu seorang anak menggurat lakon hidupnya. Udji, nama anak berusia 8 tahun itu. Setiap pagi dan sore ia harus menyapu pekarangan rumah. Padahal, pekarangan seluas 100 m2 itu dihuni oleh pohon belimbing, jambu air, rambutan, melinjo dan nangka.

Bisa kita bayangkan seberapa banyak sampah guguran daunnya. Sungguh tugas berat bagi anak-anak seusianya. Namun kata ibunya, tugas itu diberikan supaya Udji lekas insaf dari kenakalannya dan tidak melulu membuat pusing kepala orang tua.

Suatu hari, Udji berkelahi dengan temannya. Ia pulang sambil menangis. Tempo ditanya Ibunya, Udji menjawab bahwa ia dimarahi tetangganya. Mendengar aduan Udji, si Ibu tak lekas marah dan tidak pula balik melabrak tetangganya. Ia paham betul karakter anaknya.

Baginya, memahami karakter anak sangat penting agar orang tua dapat merenung, mawas diri dan tak mudah menyalahkan orang lain. Maka setelah diselidik lagi, ternyata Udji yang bersalah. Ia sudah berkelahi dan memukul anak tetangga tersebut.

“Nanti kamu tidak boleh menyapu pakai sapu lidi. Kamu hanya boleh memakai satu buah lidi,” pesan Ibunya. Udji berpikir keras. Rasa-rasanya tidak mungkin. Apalagi sore itu banyak sekali daun yang berguguran.

Udji mengayun-ayunkan sebuah lidi tersebut. Namun tak sehelai daun pun yang berpindah tempat. Ia berpikir mau mengambilinya saja dengan tangan. “Nak, Ibu bilang pakai satu buah lidi, bukan pakai tangan,” sergap sang Ibu yang ternyata mengawasinya menyapu.

Udji kembali mengayun-ayunkan sebuah lidinya. Ia menyerah dan menangis. Kemudian Ibunya menghampiri dan memeluknya. Ibunya ingat betul akan doa-doa yang telah diamini para tetangga ketika bancakan ulang tahun Udji yang kelima. Udji diharapkan menjadi anak yang sholeh, berbakti pada orang tua, taat beragama, berguna bagi sesama, masyarakat, bangsa dan negara.

“Udji sayang, sekarang kamu sudah merasakan betapa sulitnya menyapu dengan satu buah lidi. Umpamakan sebuah lidi itu adalah dirimu. Kamu tidak akan mampu menghadapi tantangan hidup yang sedemikian banyak hanya seorang diri. Kamu membutuhkan uluran tangan orang lain. Maka dari itu, kamu jangan suka berkelahi. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Meskipun di antara kita memiliki banyak perbedaan, kita harus rukun sama saudara kita, teman kita, juga dengan tetangga kita. Agar hidup kita damai, tentram, sentosa. Kamu mengerti kan?” Udji mengangguk pasti. Mulai sejak itu, Udji menjadi anak yang baik, sopan, dan cinta damai. Prestasinya di sekolah pun sangat membanggakan.

Beberapa tahun kemudian, setelah Udji menjadi mahasiswa, ia sering melihat tawuran pelajar, mahasiswa, supporter bola, bahkan tawuran antarwarga. Hal itu mengingatkannya pada kampung, pada tanah kelahirannya, terutama pada pelajaran menyapu yang diberikan Ibunya, Ibu Pertiwi yang menginginkan persatuan dan kesatuan seluruh suku, ras, agama, dan golongan di tanah air Indonesia. (Hanputro Widyono, Mahasiswa Sastra Indonesia UNS dan bergiat di Bilik Literasi Solo

Baca : Tumbuh Kembang Anak dengan Tahapan Belajarnya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

32 − = 22