Konsumsi rokok pada tahun 2006 kurang lebih 5,7 juta batang rokok dengan jumlah perokok dunia lebih dari 1 milyar. Banyak variasi pada prevalensi merokok di tiap wilayah. Secara global perokok terbanyak adalah laki-laki (40% pada tahun 2006) dibandingkan perokok wanita (mendekati 9% pada tahun 2006 ). Di Eropa dan Amerika prevalensi merokok cukup tinggi pada wanita sekitar 17%-22% (Global Tobacco Epidemic,2009).

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) (2011) asap rokok dapat menyebabkan terjadinya berbagai penyakit. Efek negatif rokok dirasakan oleh perokok aktif maupun pasif. Perokok aktif memliki resiko kanker pada orofaring, laring, oeshopagus, cervic, blader, ginjal dan sebagainya selain itu perokok aktif juga memilik resiko untuk terkena penyakit-penyakit kronis seperti stroke, penyakit jantung coroner, aneurisme aorta, dan sebagainya. Seseorang yang menghirup asap rokok dari perokok aktif memiliki resiko terkena suatu penyakit, pada anak-anak resiko penyakitnya antara lain terjadinya gangguan pada telinga tengah, berkurangnya fungsi paru-paru, penyakit pada saluran pernafasan bawah. Sedangkan pada dewasa antara lain terjadinya iritasi pada nasal, kanker paru-paru, penyakit jantung koroner, terganggunnya sistem reproduksi dan resiko bayi lahir dengan berat badan rendah (Global Tobacco Epidemic, 2011).

Morbiditas dan mortalitas pada coronary heart disease (CHD) pada kalangan perokok meningkat (Doll et al. 1994). Selain itu, ada hubungan positif yang kuat antara jumlah rokok yang dihisap per hari dan kejadian CHD (Friedman etal.1979). Merokok juga dapat meningkatkan keparahan ataupun resiko terjadinya komplikasi masalah kesehatan lainnya seperti; hipertensi, diabetes, dan asthma. Pada  anak dari seorang perokok dapat meningkat juga resiko terjadinya masalah kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan, alergi, dan asthma. Wanita hamil yang merokok memiliki resiko yang sangat tinggi akan terjadinya keguguran, kelahiran premature, dan memiliki bayi dengan berat baru lahir rendah. Seseorang yang terpapar asap rokok dari lingkungan (perokok pasif) memiliki resiko yang sama terkena suatu penyakit tertentu seperti pada perokok aktif (WHO, 2003).

Rokok dapat menyebabkan kerusakan pada hati karena kandungan dalam asam rokok menginduksi terjadinya stress oksidatif. Stress oksidatif terjadi karena adanya peroksidasi lipid dan ketidakseimbangan antara antioksidan dengan oksidan.

Banyaknya oksidan eksogen yang masuk tidak diimbangi dengan antioksidan endogen (Ramesh, 2010). Hal ini menyebabkan terjadinya kerusakan pada hepatosit berupa fibrosis dan nekrosis (Omotoso, 2012). Menurut Smyk (2012) merokok juga mengakibatkan terjadinya sirosis primary biliary karena terjadinya perubahan imunologi. Pada perokok terjadi perubahan produksi sitokin (IL-13) serta terganggunya keseimbangan jumlah subtipe dari limfosit T (Th1 dan Th2). Perubahan tersebut yang sering mengakibatkan terjadinya penyakit autoimun.

Kandungan dalam asap rokok dilaporkan mampu memacu aktifasi metabolik oleh enzim cytochrome p45 untuk membentuk elektrofil reaktif, keadaan ini akan menyebabkan stress nitrostative yang mengakibatkan mutagenitas sitotoksik serta bersifat karsinogenik. Asap rokok juga mengandung berbagai bahan kimia lain termasuk nikotin yang sangat potensial menimbulkan hepatotoksik. Selain itu berbagai kandungan dalam asap rokok juga memacu tipe sel fibrogenik seperti sel mesangial. Nikotine pada asap rokok memacu proliferasi dan peningkatan produksi protein matriks ekstraselular. Proses lain yang potensial memacu terjadinya fibrogenesis pada hati adalah terjadinya penumpukan besi. Penumpukan besi ini terjadi karena pada seseroang yang menghirup asap rokok akan terjadi peningkatan konsentrasi hemoglobin eritrosit, sehingga mamcu perobakan eritrosit normal yang secara tidak langsung berdampak pada peningkatan besi serum (Padmavathi,2009).

Baca : Kandungan Senyawa Aktif pada Buah Jengkol

Merokok bukanlah penyebab suatu penyakit, tetapi dapat memicu suatu jenis penyakit sehingga boleh dikatakan merokok tidak menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat mendorong munculnya jenis penyakit yang dapat mengakibatkan kematian. Berbagai jenis penyakit dapat dipicu karena merokok mulai dari penyakit di kepala sampai dengan penyakit di kaki. Penyakit yang bisa disebabkan oleh merokok adalah seperti sakit kardiovaskuler, penyakit jantung koroner dan kanker seperti kanker paru-paru, kanker mulut, kanker esophagus dan lain-lain lagi (Sitepoe, 2000).

Faktor yang mempengaruhi tinggi risiko terkena kanker paru adalah usia perokok, usia perokok itu mulai merokok dan jumlah rokok yang diisap dalam satu hari. Risiko terkena kanker paru meningkat 3.62 kali lipat dengan peningkatan usia perokok sebanyak 10 tahun. Risiko terkena kanker paru meningkat 2.82 kali lipat dengan peningkatan jumlah rokok yang diisap dalam sehari. Risiko terkena kanker paru menurun 0.332 kali lipat dengan peningkatan usia sebanyak 10 tahun perokok mulai merokok (Situmeang, 2001).

Sekitar 85% penderita penyakit paru-paru yang bersifat kronis dan obstruktif misalnya bronchitis dan emfisema ini adalah perokok. Gejala yang ditimbulkan pada penyakit paru dan obstruktif berupa batuk kronis, berdahak dan gangguan pernafasan. Apabila diadakan uji fungsi paru maka pada perokok, fungsi parunya jauh lebih jelek dibandingkan dengan bukan perokok (Sitepoe, 2000).

Rokok merupakan faktor risiko penyakit paru obstruktif menahun yang utama. Asap rokok dapat menganggu aktifitas saluran pernapasan dan mengakibatkan hipertrofi kelenjar mukosa. Mekanisme kerusakan paru akibat merokok melalui dua tahap yaitu peradangan yang disertai kerusakan pada matriks ekstrasel dan menghambat proses perbaikan matriks ekstrasel. Mekanisme kerusakan paru akibat rokok adalah melalui radikal bebas yang dikeluarkan oleh asap rokok (Muhammad Amin, 1996).

Pada wanita hamil yang perokok, akan terjadi efek pada janin dalam kandungannya. Merokok pada wanita hamil memberi risiko yang tinggi untuk terjadinya keguguran, kematian janin, kematian bayi sesudah lahir dan kematian mendadak pada bayi (Sitepoe, 2000). Chanoine J.P (dalam Sitepoe, 2000) mengatakan wanita hamil perokok juga akan mengganggu perkembangan kesehatan fisik maupun intelektual anak-anak yang akan bertumbuh.

Chainoine J.P (dalam Sitepoe, 2000) juga mengatakan merokok bisa mengurangi peluang seseorang untuk memiliki anak. Fertilitas pria ataupun wanita perokok akan mengalami penurunan dibandingkan dengan bukan perokok. Wanita perokok akan mengalami masa menopause lebih cepat dibandingkan wanita yang tidak merokok.

Rokok bisa mengakibatkan kulit menjadi mengerut, kering, pucat dan mengeriput terutama di daerah wajah. Mekanisme ini terjadi akibat bahan kimia yang dijumpai didalam rokok yang mengakibatkan vasokontriksi pembuluh darah tepi dan di daerah terbuka misalnya pada wajah. Bagi mereka yang berkulit putih, kulit menjadi pucat, kecoklatan, mengeriput terutama di bagian pipi dengan adanya penebalan di antara bagian yang mengeriput (Sitepoe, 2000).

Baca : Sejarah Rokok

Selain itu, rokok juga bisa menjadi penyebab polusi udara dalam ruangan. Asap rokok menjadi penyebab paling dominan dalam polusi ruangan tertutup. Rokok memberikan polutan berupa gas dan logam-logam berat. Gangguan akut dari polusi ruangan dengan rokok adalah bau yang kurang menyenangkan serta menyebabkan iritasi mata, hidung dan tenggorokan. Bau polusi rokok akan mempengaruhi rasa tidak enak badan. Bagi penderita asma, polusi ruangan akan memicu terjadinya asma (Sitepoe, 2000).

Asap rokok juga bisa menyebabkan gangguan kesehatan terhadap perokok pasif yaitu orang yang berada berdekatan dengan perokok yang turut mengisap asap rokok (Sidestream smoke). Seorang perempuan yang mempunyai suami yang mengisap rokok mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengidap kanker paru berbanding dengan perempuan yang tidak mempunyai suami yang merokok (Taufik, 2000).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 1