Ini berita penting bagi pasangan suami-istri yang akan segera memiliki anak atau yang sudah memiliki anak berusia kurang dari delapan bulan, pentingnya keterlibatan ayah pada anak terutama yang masih balita.

Oxford’s National Perinatal Epidemiology Unit dari Oxford University merilis temuan baru tentang peran ayah dalam penumbuhkembangan anak. Temuan itu dimuat dalam Jurnal online British Medical Journal (BMJ) Open pada 23 November 2016 lalu.

Penelitian itu menunjukkan, kedekatan emosional ayah saat anaknya lahir sampai usia delapan bulan akan mempengaruhi situasi emosi dan perilaku anak saat dewasa.

Maggie Redshaw, salah seorang anggota penelitian itu dan juga seorang psikolog perkembangan dan kesehatan di University of Oxford mengatakan, kedekatan emosi dan sikap percaya diri seorang ayah serta kesadarannya sebagai ayah dan sahabat anaknya lebih penting dari sekedar keterlibatannya dalam pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.

“Ini adalah hubungan emosional dan respon emosional untuk benar-benar menjadi orangtua yang penting sangat besar dalam kaitannya dengan hasil kemudian untuk anak-anak,” kata Redshaw.

Menurutnya, keterlibatan emosional dan psikologis ayah pada masa balita anak adalah pengaruh paling kuat dalam perilaku anak di kemudian hari, bukan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk anak atau tugas rumah tangga lainnya.

Redshaw dan rekan-rekannya menggambarkan bagaimana mereka mempelajari pengaruh ayah pada perilaku anak-anak mereka dengan menganalisis data dari studi longitudinal hubungan orang tua dan anak-anak.

Studi ini meminta orang tua untuk mengisi kuesioner tentang kehidupan anak-anaknya. Kepada para ibu, diminta untuk menilai perilaku anak mereka di sembilan dan 11 tahun, dengan pertanyaan menyelidik berbagai masalah termasuk sikap anak terhadap anak-anak lainnya, kecenderungan suasana emosi, kesediaan untuk berbagi mainan dengan teman-temannya dan kepercayaan mereka dalam situasi tertentu.

Sedangkan kepada para ayah, ditanyakan tentang pendekatan mereka dan situasi emosi pada delapan bulan setelah kelahiran anak mereka. Beberapa pertanyaan itu antara lain, seberapa sering mereka membantu dengan pekerjaan rumah tangga, seberapa yakin merasa sebagai orang tua, dan bagaimana menikmati  waktu dengan bayi.

Hasil penelitian memperlihatkan, anak-anak  yang ayahnya lebih percaya diri dan lebih memiliki emosi positif tentang perannya,  sedikit memiliki resiko perilaku pada  usia sembilan dan 11 tahun. Sebaliknya, keterlibatan ayah dalam pekerjaan rumah atau bahkan kegiatan dengan anak mereka tampaknya tidak memiliki pengaruh.

Dari penelitian itu, keterlibatan pengasuhan ayah dapat mempengaruhi anak secara tidak langsung dan menjadi sumber dukungan secara emosional pada ibu yang memang lebih banyak memberikan pengasuhan langsung pada anak.

Efek positif pada kesejahteraan ibu dan cara pengasuhan inilah yang kemudian dapat membentuk hasil yang baik pada anak. Terdapat bukti pula bahwa keterlibatan ayah dapat meringankan depresi pada ibu yang diketahui dapat meningkatkan risiko masalah perilaku pada anak.

Merespons hasil penelitian itu, Iryna Culpin dari University of Bristol, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan, persepsi ayah atas perannya dan keyakinan mereka sebagai seorang ayah, sangat berpengaruh penting dalam kehidupan anak-anaknya.

“Ini memiliki implikasi signifikan bagi kebijakan dalam  pengasuhan dan keterlibatan ayah sejak masa bayi, bahwa seorang ayah  harus percaya diri, memiliki emosi yang kuat, ” katanya. Yanuar Jatnika

Baca : Belajar Dari Para Tokoh Ilmuwan Dunia di Masa Kecilnya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 33 = 36