Kanker payudara (Ca Mammae) adalah kanker pada jaringan payudara yang timbul ketika sejumlah sel di payudara tumbuh dan berkembang secara tidak terkendali. Sel-sel tersebut dapat menyerang jaringan sekitar dan menyebar ke seluruh tubuh (Puspitasari, 2012).

Kanker berasal dari bahasa Yunani Cancri yang berarti kepiting. Hal ini dikarenakan bentuk pembuluh darah yang mengelilingi tumor dianggap berbentuk seperti capit serta kaki-kaki kepiting bagi orang-orang jaman dahulu. Kanker adalah tumor ganas sedangkan tumor jinak tidak bisa dikatakan kanker (Virshup, 2010). Kanker merupakan penyakit klonal yang disebabkan oleh peringkat multi genetik atau epigenetik dengan perubahan gen supressor tumor dan onkogen (Khan, et al., 2006). Kanker ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali. Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan oleh kerusakan DNA akibat mutasi di gen vital yang mengontrol pembelahan sel (Murray, et al., 2003). Kanker terjadi karena adanya perubahan mendasar dalam fisiologi sel yang akhirnya tumbuh menjadi malignan serta mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut: mandiri dalam signal pertumbuhan, tidak peka terhadap signal antipertumbuhan, menghindari apoptosis, memiliki potensi replikasi yang tidak terbatas, angiogenesis, invasi dan metastase ke jaringan lain (Manahan dan Wierberg, 2002).

Kanker Payudara (Ca Mammae)

Kanker payudara adalah tumor yang berasal dari kelenjar payudara. Termasuk saluran kelenjar air susu dan jaringan penunjangnya. Keseimbangan antara proliferasi, diferensiasi dan kematian sel-sel kelenjar payudara berperan penting dalam proses perkembangan sel payudara. Gangguan dalam keseimbangan ini akan dapat mengakibatkan terjadinya kanker (Kumar, et al., 2000). Kanker payudara dapat terjadi karena adanya beberapa faktor genetik yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya.

Terdapat dua model sel kanker payudara yang digunakan untuk penelitian diantaranya sel MCF-7 (gambar 3) dan sel T47D. Sel MCF-7 diambil dari jaringan payudara wanita Kaukasian berumur 69 tahun golongan darah O, dengan Rh positif, berupa sel adherent (melekat) yang dapat ditumbuhkan dalam media penumbuh Dulbecco’s Modified Eagle Medium (DMEM) atau Roswell Park Memorial Institute (RPMI) yang mengandung Foetal Bovine Serum (FBS) 10% dan antibiotik Penisilin-Streptomisin 1% (Anonim, 2007). Sel MCF-7 berbeda dengan sel yang lain karena memiliki karakteristik mengekspresikan estrogen receptor (ER+) (Butt, et al., 2000).

Estrogen receptor memainkan peran penting pada pertumbuhan sel. Dalam tubuh manusia terdapat dua jenis reseptor estrogen yaitu ERα dan Erβ, yang berbeda letaknya dalam tubuh. Salah satu titik tangkap pengobatan kanker khususnya kanker payudara adalah dengan menghambat aktivitas estrogen pada Estrogen Receptor alpha (ERα). Hal menarik dari sel MCF-7 adalah sifatnya yang resisten terhadap doxorubicin (Zampieri, et al., 2002) dan tidak mengekspresikan caspase-3 (Onuki, et al., 2003).

Sel MCF-7 juga overekspresi Bcl-2 (Amundson, et al., 2000). Ekspresi berlebihan (overekspresi) sel disebut juga proliferasi sel yang mempengaruhi status perkembangan sel. Beberapa protein Bcl merupakan pro-apoptosis yang memicu apoptosis dengan meningkatkan pelepasan sitokrom c ke sitosol, sedangkan protein Bcl lainnya merupakan antiapoptosis yang menghambat apoptosis dengan menghambat pelepasan sitokrom c ke sitosol.

Protein Bcl yang termasuk protein antiapoptosis antara lain Bcl-2, Bcl-xl, Bcl-w dan Mcl-1 (Alberts, et al., 2008). B cell lymphoma-2 (Bcl-2) telah menjadi regulator pertama kematian sel (Heiser, et al., 2004). Bcl-2 adalah oncoproteins sitoplasma (Sato, et al., 1997; Sierra, et al., 1996) yang juga diekspresikan tinggi di tumor padat manusia (Arun, et al., 2003.). Pada kanker payudara, Bcl-2 dan Bcl-xl memiliki korelasi yang signifikan dengan indeks apoptosis dan tidak adanya mutan p53 (Villar, et al., 2001), ukuran tumor kecil, morfologi non-duktal, dan rendah grade tumor (Barbareschi, et al., 1996) akan berkorelasi negatif dengan meningkatnya derajat keganasan dan berkorelasi positif dengan meningkatnya pewarnaan ER immuno (Yang, et al., 1999; Aribas, et al., 2007).

 

Gejala klinis kanker payudara

Gejala dan tanda menurut Handojo (1996) dapat berupa :

1) Benjolan dengan diameter 1 cm, dapat diraba oleh penderita sendiri jika sudah mengenal payudaranya melalui SADARI yang teratur.

2) Pengeluaran cairan abnormal dari puting susu atau nipple discharge bercampur darah. Ini merupakan gejala pertama yang sering munculpada kanker saluran air susu meskipun tumornya sendiri belum teraba.

3) Perlukaan menahun yang lambat melebar pada puting susu, yang mirip infeksi kulit biasa dan tidak sembuh dengan pengobatan medikamentosa.

 

Faktor resiko kanker payudara

1) Pertambahan usia

Sekitar 60% kanker payudara terjadi pada usia diatas 60 tahun. Resiko terbesar ditemukan pada wanita berusia diatas 75 tahun. Tetapi dewasa ini kanker payudara juga sering ditemukan pada wanita usia subur.

2) Pernah menderita kanker payudara

Wanita yang pernah menderita kanker in situ atau kanker invasive memiliki resiko tertinggi untuk menderita kanker payudara. Setelah payudara yang terkena diangkat, maka resiko terjadinya kanker pada payudara yang sehat meningkat sebesar 0,5-1% per tahun.

3) Riwayat keluarga

Wanita yang ibu, saudara perempuan atau anaknya menderita kanker memiliki resiko 3 kali lebih besar untuk menderita kanker payudara.

4) Faktor genetik dan hormonal

Telah ditemukan 2 varian gen yang tampaknya berperan dalam terjadinya kanker payudara, yaitu BRCA1 dan BRCA2. Jika seorang wanita memiliki salah satu dari gen tersebut, maka kemungkinan menderita kanker payudara sangat besar.

Gen lainnya yang juga diduga berperan dalam terjadinya kanker payudara adalah p53, BARDI, BRCA3, dan Noey2. Kenyataan ini menimbulkan dugaan bahwa kanker payudara disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel yang secara genetik mengalami kerusakan. Faktor hormonal juga penting karena hormon memicu pertumbuhan sel. Kadar hormon yang tinggi selama masa repoduktif wanita, terutama jika tidak diselingi oleh perubahan hormonal karena kehamilan, tampaknya meningkatkan peluang tumbuhnya sel-sel yang secara genetik telah mengalami kerusakan dan menyebabkan kanker.

5) Pernah menderita penyakit payudara non-kanker

Resiko menderita kanker payudara agak lebih tinggi pada wanita yang pernah menderita penyakit payudara non-kanker yang menyebabkan bertambahnya jumlah saluran air susu dan terjadinya

kelainan struktur jaringan payudara (hiperplasia atipik).

6) Menarche (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun, menopause setelah usia 55 tahun, kehamilan pertama setelah usia 30 tahun atau belum pernah hamil.

Semakin dini menarche, semakin besar resiko menderita kanker payudara dengan resiko 2-4 kali lebih besar. Demikian pula halnya dengan menopause ataupun kehamilan pertama. Semakin lambat menopause dan kehamilan pertama, semakin besar resiko menderita kanker payudara.

7) Obesitas pasca menopause

Obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara masih diperdebatkan. Beberapa penelitian menyebutkan obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara kemungkinan karena tingginya kadar estrogenpada wanita yang obes.

8) Konsumsi alkohol

Konsumsi alkohol lebih dari 1-2 gelas/hari dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.

9) Bahan kimia

Beberapa penelitian telah menyebutkan pemaparan bahan kimia yang menyerupai estrogen (yang terdapat didalam pestisida dan produk industri lainnya) mungkin meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.

10) Penyinaran

Pemaparan terhadap penyinaran (terutama penyinaran pada dada) pada masa kanak-kanak dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.

11) Faktor resiko lainnya

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kanker rahim, ovarium, dan kanker usus besar serta adanya riwayat kanker dalam keluarga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.

Terapi kanker payudara

Klasifikasi terapi kanker yang sering digunakan ada dua yaitu terapi adjuvan dan terapi neoadjuvan (ACS, 2013). Kedua jenis terapi ini menggabungkan antara kemoterapi, terapi radiasi, terapi hormonal, dan pembedahan. Terapi adjuvan merupakan pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat sel kanker dan terapi pendamping berupa kemoterapi, terapi radiasi dan terapi hormonal untuk menghilangkan sel kanker yang masih tertinggal.

Terapi neoadjuvan didefinisikan sebagai penggunaan agen sitotoksik yang terdiri dari kemoterapi individu atau gabungan antara terapi radiasi, terapi biologis atau terapi bertarget molekuler, sebelum operasi dengan maksud kuratif (ACS, 2013).

1) Kemoterapi

Pasien diberi obat-obatan yang digunakan untuk membunuh selsel kanker (ACS, 2013). Terdapat dua istilah medis lain yang digunakan untuk menggambarkan kemoterapi kanker, yaitu antineoplastik (anti kanker) dan terapi sitotoksik (cell killing) (Brunner & Suddarth, 2001).

2) Pembedahan

Pembedahan merupakan pengangkatan kanker secara menyeluruh melalui tindakan operasi. Pembedahan seringkali dipilih sebagai metode pengobatan primer (Brunner & Suddarth, 2001).

Terapi ini menjadi pilihan satu-satunya dalam pengobatan kanker, tetapi tidak memungkinkan pembedahan dapat diberikan bersama pengobatan lain seperti radiasi atau kemoterapi (ACS,2013).

3) Radiasi

Diameter sel kanker yang telah mengecil memungkinkan untuk dilakukan terapi radiasi. Terapi radiasi dapat membunuh sel-sel kanker yang tidak dapat dilihat pada sinar-x. Pada dosis rendah, radiasi digunakan sebagai x-ray untuk melihat ke dalam tubuh pasien dan mengambil gambar. Sekitar 60% pasien kanker di Amerika mendapatkan terapi radiasi (ACS, 2013).

4) Terapi Hormonal

Terapi hormonal adalah bentuk lain dari terapi sistemik. Terapi ini paling sering digunakan sebagai terapi adjuvan untuk membantu mengurangi resiko kanker datang kembali setelah operasi. Selain itu juga dapat digunakan sebagai terapi neoadjuvan untuk mengobati kanker yang telah datang kembali setelah pengobatan atau telah menyebar.

Kemoterapi Kanker Payudara

Kemoterapi merupakan terapi yang menggunakan suatu regimen untuk membunuh sel kanker. Pada kasus kanker payudara, kemoterapi seringkali digunakan sebagai terapi adjuvanmaupun terapi neoadjuvan.

Kemoterapi adjuvan diberikan pasca operasi pembedahan untuk jenis kanker payudara yang belum menyebar untuk mengurangi resiko timbulnya kembali kanker payudara. Sedangkan kemoterapi neoadjuvan diberikan sebelum operasi untuk mengecilkan kanker yang berukuran besar, yang pada banyak kasus memberikan efek paling baik bila digunakan secara kombinasi dengan terapi lain seperti terapi hormonal dan operasi , terutama pada kasus kanker payudara stadium dini. Kemoterapi juga digunakan untuk menangani kanker payudara yangsudah mengalami metastase ke daerah lain, seperti lymphnode, serta kanker payudara kambuhan.

Doxorubicin

Doxorubicin (adriamycin 14-hydroxy-daunorubicin) merupakan obat dari golongan anthracycline yang telah digunakan selama 2 dekade untuk kemoterapi kuratif (Carlson, 2008). Dox adalah antikanker yang lebih efektif dibandingkan daunorubicin yang dapat digunakan untuk mengobati leukemia, limfoma dan tumor padat (Robert, et al., 2005; Wallace, 2001). Walaupun Dox merupakan penemuan baru dari obat golongan anthracycline namun Dox sering diresepkan pada pasien kanker karena aktivitas antikanker yang luas terutamanya terhadap kanker hematologi. Dox digunakan sebagai obat tunggal atau dikombinasi dengan obat kemoterapi yang lain seperti vinblastine, cyclophosphamide dan paclitaxel (Swisher, et al., 2009).

Dox harus diadministrasi melalui intravena karena obat ini menjadi tidak aktif jika diserap melalui saluran cerna (Doroshow, 2010). Dox menunjukkan efek sebagai antiproliferasi dengan berikatan enzim topoisomerase II dan membentuk kompleks yang mengganggu abilitas enzim untuk mengurangi torsi untas DNA sewaktu mitosis (Mross, 2006). Selain itu, Dox menginisiasi radikal oksigen dan hidroksil yang merusakkan rantai transportasi elektron mitokondria dan menghalangi produksi oksidasi DNA. Disamping itu, apabila terjadi aktivasi sinyal pada jalur transduksi maka akan menyebabkan apoptosis (Synold, et al., 2004; Doroshow, 2010; Gianni, et al., 2003; Robert, 2005). Dox dapat menyebabkan kardiotoksisitas (Distefano, 2009; Benjamin, et al., 2006) yang disebabkan pembebasan radikal bebas sewaktu metabolisme Dox (Bugger, et al., 2010).

Partridge, A.H., Burstein, H.J., Winer, E.P. (2001). Side Effects of Chemotherapy and Combined Chemohormonal Therapy in Women with Breast Cancer. Journal of the National Cancer Institute Monographs. 30, 135-42.

Kurniawan, Okky. (2014). Gambaran Efek Samping Obat Kemoterapi pada Pasien Kanker Payudara di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta periode Tahun 2012.

Baca : Komposisi Kimia dan Metode Penyulingan Minyak Atsiri

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 7 = 2