Kandungan Kimia Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)

Curcuma xanthorrhiza Roxb

Taksonomi atau klasifikasi botani temulawak menurut BPOM RI (2004) adalah sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyte

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma xanthorrhiza Roxb

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman asli Indonesia dengan nama sinonim Curcuma javanica (BPOM RI, 2004).

Di Indonesia temulawak sering disebut temulawak atau temu putih di daerah jawa di sebut temulawak di daerah sunda dengan sebutan koneng gede sedangkan di daerah madura di sebut temulabak (Thomas, 1989).

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) termasuk jenis tumbuh-tumbuhan herbal berbatang semu yang tumbuh di tempat terbuka atau di bawah tegakan pohon tahunan, misalnya jati, mahoni atau sengon.

Tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian 5-1500 meter di atas permukaan laut (BPOM RI, 2004). Temulawak banyak ditemukan di hutan-hutan daerah tropis di tanah tegalan sekitar pemukiman terutama pada tanah yang gembur sehingga buah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar (Agoes, 2010).

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman semusim berbatang basah dengan tinggi dapat mencapai lebih dari 2,5 meter. Daunnya berwarna hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, yang menjadi ciri khasnya adalah di atas tulang daun terdapat garis abstrak berwarna kecoklatan. Akar rimpangnya bercabang kuat dan berwarna hijau gelap. Tiap batang biasanya mempunyai daun 2-9 helai dengan bentuk lanset memanjang. Bunga tersusun secara lateral atau menyamping dengan tangkai ramping dan sisik berbentuk garis. Kelopak bunga berwarna hijau muda dan mahkota bunga berbentuk tabung dengan ujung berwarna merah dadu atau merah. Bagian tanaman ini yang dipanen dan dipergunakan untuk bahan obat dan makanan adalah rimpang yang beraroma tajam dengan daging rimpang berwarna kuning kejinggaan sampai coklat kejinggaan (BPOM RI, 2004).

Rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) mengandung kurkuminoid, minyak atsiri, pati, protein, lemak, selulosa, dan mineral.

Diantara kandungan-kandungan tersebut yang paling banyak digunakan adalah pati, kurkuminoid, dan minyak atsiri. Pati merupakan kandungan kimia terbesar dari temulawak. Pati temulawak berwarna putih kekuningan karena mengandung kurkuminoid. Kadar protein pati temulawak lebih tinggi dibandingkan dengan pati tanaman lainnya sehingga dapat digunakan sebagai bahan makanan. Kurkuminoid pada temulawak terdiri atas kurkumin dan desmetoksikurkumin (Afifah, 2005). Kurkuminoid merupakan kandungan kimia yang memberikan warna kuning pada rimpang temulawak (Nur, 2006). Kurkuminoid mempunyai aroma khas, tidak toksik (tidak beracun), dan berbentuk serbuk dengan rasa sedikit pahit. Minyak atsiri pada temulawak mengandung seskuiterpen, acurcumene, 1-sikloisoprenmyrcene, zingiberene, xanthorrhizol, turunan lisabolen, epolisid-bisakuron, bisakuron A, B, C, ketonseskuiterpen, turmeron, a-turmeron, a-atlanton, germakron, monoterpen, sineol, dborneol, d-a-phellandrene, dan d-camphene (Afifah, 2005). Di dalam komponen minyak atsiri terdapat xanthorrhizol, dimana xanthorrhizol hanya terdapat pada minyak atsiri rimpang temulawak. Xanthorrhizol memiliki aktivitas antibakteri, antiseptik, dan antibiotik serta antikanker (Nur, 2006).

Temulawak dapat dimanfaatkan sebagai obat, sumber karbohidrat, bahan penyedap masakan dan minuman, serta pewarna alami untuk makanan dan kosmetika. Berdasarkan pengalaman dan penelitian yang telah ada, temulawak telah terbukti berkhasiat dalam menyembuhkan berbagai penyakit. Temulawak dapat digunakan sebagai obat anti inflamasi yang efektif untuk mengobati penyakit radang sendi, rematik atau artritis rematik. Melaui aktivitas hipokolesterolemiknya temulawak dapat menurunkan kadar kolesterol total dan mempunyai indikasi meningkatkan kadar lipoprotein densitas tinggi (HDL) kolesterol.

Temulawak juga mempunyai sifat antijamur terhadap beberapa jamur golongan dermatophyta. Selain itu, temulawak juga memiliki sifat bakteriostatik atau antibakteri. Secara tradisional temulawak telah banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan untuk berbagai keperluan, misalnya untuk menambah nafsu makan, mengatasi kencing batu, sakit kuning, ambeien, diare, sakit maag, asma, sariawan, batuk, panas, pegal-pegal, serta untuk memperbanyak air susu ibu (Afifah, 2005).

Baca : Asam Urat, Hiperurisemia dan Artritis Gout

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *