Ekstraksi Jahe Merah dan Efek Farmakologis

Ekstraksi Jahe Merah dan Efek Farmakologis

Jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman yang menempati posisi  yang sangat penting bagi perekonomian masyarakat Indonesia (Paramitasari, 2011) Jahe merah memiliki rasa pedas dan bersifat hangat. Beberapa bahan kimia dalam jahe merah diantaranya gingerol, minyak terbang, limonene, alfalinolenic acid, aspartic, beta-sitosterol, tepung kanji, caprylic acid, capsaicin, chlorogenic acid, dan farnesol (Hariana, 2009). Pemberian serbuk jahe pada  penderita rematik dan muskuloskeletal dilaporkan menurunkan rasa sakit dan pembengkakan (Rosiana, 2008).

Menurut Paramitasari (2011) jahe diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Zingiber
Jenis : Zingiber officinale, Rubrum  

Efek farmakologis yang dimiliki oleh jahe merah diantaranya menghambat keluarnya enzim 5-lipoksigenase dan siklo-oksigenase (Hariana, 2009). Aktivitas farmakologi jahe merah yang berperan sebagai anti inflamasi adalah gingerol dan shagaol yang merupakan komponen utama dari minyak atsiri (Rosiana, 2008).

Tim Lentera (2002) mengemukakan efek farmakologis jahe dapat memperkuat khasiat jahe bahan lainnya yang dicampurkan pada proses pembuatan obat . Berikut adalah efek zat aktif yang terkandung dalam rimpang jahe :

  1. Limonene : Menghambat jamur Candida albicans, anticholinesterase, obat flu.
  2. 1,8-cineole: Mengatasi ejakulasi premature, anastetik antikholinisterase, perangsang aktivitas syaraf pusat, merangsang ereksi, merangsang keluarnya keringat, penguat hepar.
  3. 10-dehydrogingerdione, 10-gingerdione, 6-gingerdion, 6-gingerol: Merangsang keluarnya ASI, menghambat kerja enzim siklo-oksigenase, penekan prostaglandin.
  4. Alpha-linolenic acid: Anti-perdarahan diluar haid, merangsang kekebalan tubuh,merangsang produksi getah bening.
  5. Arginine: Mencegah kemandulan, memperkuat daya tahan sperma.
  6. Aspartic acid: Perangsang syaraf, penyegar.
  7. Betha-sitoserol: Perangsang hormone androgen, menghambat hormone estrogen, mencegah hiper-lipoprotein, melemahkan potensi sperma, bahan baku feroid.
  8. Caprylic acid: Anti jamur Candida albicans.
  9. Capsaicin(seluruh bagian tanaman): Merangsang ereksi, menghambat keluarnya ezim 5-lipoksigenase dan siklo-oksigenase, meningkatkan aktivitas kelenjaar endokrin.
  10. Chlorogenic acid(seluruh bagian tanaman): Mencegah proses penuaan, merangsang regenerasi sel kulit.
  11. Farnesal: Bahan pewangi makanan, parfum, merangsang regenerasi sel normal.

Ekstraksi adalah penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih dimana zat yang diinginkan larut.

Bahan-bahan dalam tanaman terdiri dari campuran zat yang heterogen, beberapa mempunyai efek farmakologi dan oleh karena itu dianggap sebagai zat yang dibutuhkan dan yang lainnya yang tidak aktif secara farmakologis dianggap sebagai zat yang inert (tidak berdaya). Diantara bermacam-macam zat yang terdapat pada tanaman adalah gula, amilum, mucilago, protein, selulosa, gom, garam anorganik, minyak padat yang mudah menguap, damar, tanin, zat warna, dan sejumlah zat yang sangat aktif contohnya alkaloid dan glikosid. Sistem pelarut yang digunakan dalam ekstraksi harus dipilih berdasarkan kemampuannya dalam melarutkan jumlah yang maksimal dari zat aktif dan seminimal mungkin bagi unsur yang tidak diinginkan (Howard, 1989).

Selain pelarut, metode penyarian atau metode ekstraksi juga sangat penting dalam memperoleh zat aktif dan kandungan yang akan disari. Metode dasar penyarian adalah maserasi, perkolasi, dan sokletasi. Pemilihan dalam pemakaian ketiga cara tersebut disesuaikan dengan kepentingan dalam memperoleh sari (Harboune, 1987).

Metode ekstraksi biasanya dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah tumbuhan dan daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna atau mendekati sempurna dari bahan simplisia tersebut. Sifat dari bahan simplisia merupakan faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode ekstraksi. Beberapa bahan simplisia tidak dapat di ekstrak dengan cara perkolasi, ini mengisyaratkan bahwa dengan cara maserasi yaitu perendaman bahan simplisia dengan pelarut sebelum dimasukkan ke dalam tabung percolator akan dapat menyediakan hasil ekstrak yang memuaskan (Howard, 1989).

Baca : Aromaterapi Tanaman Aromatik Reseptor Pikiran, Tubuh, dan Semangat

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *