Pengertian Sistem Irigasi Pertanian Menurut Pakar

Pengertian Sistem Irigasi Pertanian Menurut Pakar

Pengertian Sistem Irigasi

Irigasi didefenisikan sebagai penggunaan air pada tanah untuk keperluan penyediaan cairan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Meskipun demikian, suatu defenisi yang lebih umum dan termasuk sebagai irigasi adalah penggunaan air pada tanah untuk setiap jumlah (Hansen, 1992).dalam pengertian sistem irigasi pertanian.

Menurut Hansen et al., (1992) menyatakan bahwa terdapat delapan kegunaan pengertian sistem irigasi yaitu:

  1. Menambah air ke dalam tanah untuk menyediakan lengas tanah yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
  2. Untuk menyediakan jaminan panen pada saat musim kemarau yang pendek.
  3. Untuk mendinginkan tanah dan atmosfir, sehingga menimbulkan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan tanaman.
  4. Untuk mengurangi bahaya pembekuan.
  5. Untuk mencuci atau mengurangi garam dalam tanah.
  6. Untuk mengurangi bahaya erosi tanah.
  7. Untuk melunakkan pembajakan dan gumpalan tanah.
  8. Untuk memperlambat pembekuan tunas dengan pendinginan karena penguapan.

Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Dalam dunia modern, saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan manusia. Pada zaman dahulu, jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mengairi air tersebut ke lahan pertanian. Namun demikian, irigasi juga biasa dilakukan dengan membawa air menggunakan wadah kemudian menuangkan pada tanaman satu persatu. Untuk irigasi dengan model seperti ini di indonesia biasa disebut menyiram. Sebagaimana telah diungkapkan, dalam dunia modern ini sudah banyak cara yang dapat dilakukan untuk melakukan irigasi dan ini sudah berlangsung sejak Mesir Kuno (Anonim, 2001).

Irigasi secara umum didefenisikan sebagai penggunaan air pada tanah untuk keperluan penyediaan lengas tanah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Pemberian air irigasi dapat dilakukan dalam lima cara: (1) dengan penggenangan (flooding); (2) dengan menggunakan alur, besar atau kecil; (3) dengan menggunakan air di bawah permukaan tanah melalui sub irigasi, sehingga menyebabkan permukaan air tanah naik; (4) dengan penyiraman (sprinkling).; (5) dengan sistem curahan (trickle), (Hansen et al., 1992).

Irigasi berarti mengalirkan air secara buatan dari sumber air yang tersedia kepada sebidang lahan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Dengan demikian tujuan irigasi adalah mengalirkan air secara teratur sesuai kebutuhan tanaman pada saat persediaan lengas tanah tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman bisa tumbuh secara normal. Pemberian air irigasi yang ifisien selain dipengaruhi oleh tatacara aplikasi, juga ditentukan oleh kebutuhan air guna mencapai kondisi air tersedia yang dibutuhkan tanaman (Anonim, 2011).

Fungsi Irigasi

Berdasarkan Anonim (2011) menyatakan bahwa fungsi irigasi yaitu:

  1. Memasok kebutuhan air tanaman.
  2. Menjamin ketersediaan air apabila terjadi kekeringan.
  3. Menurunkan suhu tanah.
  4. Mengurangi kerusakan akibat frost.
  5. Melunakan lapisan tanah yang keras pada saat pengolahan tanah.

Jenis-jenis Irigasi

Berdasarkan Anonim (2011) menyatakan bahwa jenis – jenis irigasi yaitu:

a. Irigasi permukaan

Irigasi permukaan merupakan system irigasi yang mengambil air langsung di sungai melalui bangunan bending maupun melalui bangunan pengambilan bebas (free intake) kemudian air irigasi dialirkan secara gravitasi melalui saluran sampai ke lahan pertanian. Di sini dikenal saluran primer, sekunder, dan tersier. Pengaturan air dilakukan dengan pintu air. Prosesnya adalah gravitasi, tanah yang tinggi mendapat air lebih dulu.

b. Irigasi Lokal

Sistem ini air didistribusikan dengan cara pipanisasi. Disini juga berlaku gravitasi, dimana lahan yang tinggi mendapat air lebih dahulu. Namun air yang disalurkan hanya terbatas sekali atau secara lokal.

c. Irigasi dengan Penyemprotan

Penyemprotan biasanya dipakai penyemprot air atau sprinkler. Air yang disemprot akan seperti kabut, sehingga tanaman mendapat air dari atas, daun akan basah lebih dahulu, kemudian menetes ke akar.

d. Irigasi Tradisional dengan Ember

Di sini diperlukan tenaga kerja yang banyak. Disamping itu juga pemborosan tenaga yang harus membawa ember.

e. Irigasi Pompa Air

Air diambil dari sumur dalam dan dinaikkan melalui pompa air, kemudian dialirkan dengan berbagai cara, misalnya dengan pipa atau saluran. Pada musim kemarau irigasi ini dapat terus mengairi sawah.

f. Irigasi Tanah Kering dengan Terasisasi

Di Afrika yang sering dipakai sistem ini, dipakai untuk distribusi air.

g. Irigasi Tanah Kering atau Irigasi Tetes

Di lahan kering, air sangat langka dan pemanfaatannya harus efisien. Jumlah air irigasi yang diberikan ditetapkan berdasarkan kebutuhan tanaman, kemampuan tanah memegang air, serta sarana irigasi yang tersedia. Ada beberapa sistem irigasi untuk tanah kering, yaitu:

  1. irigasi tetes (drip irrigation),
  2. irigasi curah (sprinkler irrigation),
  3. irigasi saluran terbuka (open ditch irrigation), dan
  4. irigasi bawah permukaan (subsurface irrigation).

Irigasi tetes merupakan salah satu irigasi alternatif. Misalnya sistem irigasi tetes pada tanaman cabai. Ketersediaan sumber air irigasi sangat penting. Salah satu upaya mencari potensi sumber air irigasi adalah dengan melakukan deteksi air bawah permukaan melalui karakteristik air bawah tanah. Cara ini dapat memberikan informasi mengenai sebaran, volume dan kedalaman sumber air untuk mengembangkan irigasi suplemen. Deteksi air bawah permukaan dapat dilakukan dengan menggunakan Teramete (Anonim, 2011a).

Proses masuknya air kedalam tubuh tanah disebut sebagai proses infiltrasi, walaupun sebenarnya tidak semua air yang masuk kedalam tanah melalui proses infiltrasi. Infiltrasi bisa terjadi dalam dua keadaan tanah: jenuh dan tak jenuh. Proses masuknya air kedalam tanah dalam keadaan tak jenuh inilah yang disebut sebagai proses infiltrasi. Sedangkan bila tanah dalam keadaan jenuh, disebut sebagai perkolasi. Yang merupakan proses lanjut infiltrasi. Yang membedakan antara kedua proses tersebut adalah gaya-gaya yang bekerja dalam proses tersebut. Infiltrasi dipengaruhi oleh gaya kohesi dan adhesi sistem tanah-air, yang interaksinya mengakibatkan terjadinya energi potensial hidrolik tanah. Perkolasi merupakan gerakan air (bebas) yang semata-mata dipengaruhi oleh gaya gravitasi (Muhjidin, 2011). pengertian sistim irigasi.

Baca : Ketersediaan Air Bersih Untuk Mahluk Hidup

Laju besarnya air yang berinfiltrasi kedalam tanah menentukan ketersediaan lengas (air) bagi tanaman, cadangan air tanah dan aliran air permukaan. Dalam kegiatan konservasi tanah dan air, infiltrasi bersama evaporasi merupakan dua parameter yang sangat penting (Muhjidin, 2011).

Menurut Muhjidin (2011) menyatakan bahwa dua variabel infiltrasi (laju dan volume) dipengaruhi oleh dua faktor utama:

  1. Faktor sumber air yang akan masuk kedalam tanah: intensitas hujan dan irigasi.
  2. Faktor tanah yang meliputi kondisi permukaan tanah seperti vegetasi, kemiringan, dan sifat-sifat tanah seperti tekstur dan struktur tanah kepadatan tanah dan kedalaman air tanah.

Sumber Bacaan :

Mawardi, Muhjidin. 2011. Teologi Lingkungan. Jakarta: Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah dan Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Ismu Tribowo. 2014. Pengembangan dan Implementasi Teknologi Irigasi Hemat Air. LIPI

Nurdianza, A., 2011. Pengujian Sistem Irigasi Tetes (Drip Irrigation) Untuk Tanaman Strawberri (Fragaria vesca L). Universitas Hasanuddin, Makassar.

 

Tag: , , , , , , , , ,


Leave a Reply

37 + = 40