Fakta Wilayah Maritim Indonesia

Fakta Wilayah Maritim Indonesia

Indonesia yang sebagian wilayahnya terdiri dari laut sering disebut sebagai negara bahari. Menurut catatan WALHI Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki 17.480 pulau dengan garis pantai sepanjang 95.181 km. Indonesia mempunyai hak eksklusif untuk memanfaatkan sumber daya kelautan seluas 2,7 km2 pada perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).9 Wilayah perairan Indonesia yang sangat luas menjadi salah satu perhubungan laut dunia.

Jalur perhubungan laut dunia atau “sea lanes of communication” melewati tujuh selat yang secara politik dan ekonomi sangat strategis karena menyangkut kelangsungan hidup sejumlah negara di mana empat di antara perairan tersebut berada dalam kedaulatan Indonesia.

Negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia memiliki beberapa selat yang dimanfaatkan sebagai jalur transportasi yang dapat menghubungkan ke beberapa benua di dunia seperti Benua Asia, Benua Eropa, hingga pantai Barat Amerika. Jalur transportasi tersebut yang kemudian digunakan sebagai jalur perdagangan internasional. Selain menjadi jalur transportasi internasional, wilayah perairan Indonesia menyimpan kekayaan alam yang sangat tinggi.

Indonesia memiliki kekayaan jenis ikan yang sangat tinggi. Diperkirakan ada sekitar 8500 jenis ikan hidup di perairan Indonesia dan merupakan 45% dari jumlah jenis global di dunia. Dari jumlah tersebut 1300 jenis menempati perairan tawar.

Jumlah spesies ikan yang sangat besar di wilayah perairan Indonesia menjadi sumber mata pencaharian para nelayan dan menjadi salah satu sumber bahan pangan masyarakat Indonesia.

Wilayah pesisir dihuni tidak kurang dari 140 juta jiwa atau 60% dari penduduk Indonesia yang bertempat tinggal dalam radius 50 km dari garis pantai. Secara administratif kurang lebih 42 kota dan 181 kabupaten berada di pesisir, serta terdapat 47 kota pantai mulai dari Sabang hingga Jayapura sebagai aktivitas pelayanan sosial-ekonomi.

Wilayah pesisir Indonesia dihuni oleh sekitar 140 juta jiwa yang sebagian masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Potensi laut Indonesia yang besar memberikan harapan tersendiri bagi nelayan Indonesia. Sumber daya laut yang melimpah yang dimiliki Indonesia seharusnya dapat meningkatkan perekonomian para nelayan, namun pada kenyataannya kehidupan nelayan tidak sebaik yang dibayangkan. Nelayan yang hidup di daerah pesisir pantai masih banyak yang jauh dari kehidupan yang layak. Jumlah nelayan miskin di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 7,87 juta orang atau 25,14 persen dari total penduduk miskin nasional yang mencapai 31,02 juta orang. Jumlah 7,87 juta orang tersebut berasal dari sekitar 10.600 desa nelayan miskin yang terdapat di kawasan pesisir di berbagai daerah di tanah air.

Faktor yang menyebabkan nelayan masih jauh dari kehidupan yang layak yaitu tingkat pendidikan yang rendah sehingga masih banyak para nelayan yang kurang pengetahuan tentang perikanan. Minimnya para nelayan yang mengetahui pengetahuan tentang perikanan membuat mayoritas para nelayan yang tinggal di daerah pesisir pantai masih menggunakan cara tradisional untuk menangkap ikan. Penangkapan ikan menggunakan cara tradisional hanya memperoleh tangkapan dengan jumlah yang tidak banyak. Penangkapan sumber daya laut yang dilakukan oleh perusahaan besar juga menjadi salah satu faktor penyebab nelayan Indonesia masih jauh dari kehidupan yang layak karena penangkapan yang dilakukan oleh perusahaan dilakukan dalam jumlah besar yang merugikan para nelayan tradisional. Para nelayan akan tersaingi dengan adanya perusahaan besar yang melakukan penangkapan ikan sehingga banyak nelayan yang mengalami kerugian karena ikan di laut berkurang. Banyaknya hasil laut yang ditangkap oleh perusahaan nantinya akan diekspor ke negara lain.

Potensi kelautan Indonesia diperkirakan 1.2 trilliun USD, yang dapat menyerap tenaga 40 juta tenaga kerja. Dari potensi tak tereksploitasi (sleeping potency), kontribusi seluruh sektor kelautan (11 sektor) terhadap PDB Indonesia terhitung 20 %. Diperhitungkan sekitar Rp 300 trilliun potensi ini hilang dari illegal, unreported and auregulated fishing (IUUF), yang merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia. Selanjutnya dikatakan 70% produk Indonesia diekspor melalui Negara Singapura (Dahuri, 2014).

Berdasarkan data tabel di atas, kenaikan volume produksi perikanan tangkap tahun 2013 terbesar disumbangkan oleh perikanan tangkap di perairan laut sebesar 5,45 juta ton, sedangkan perikanan tangkap di perairan umum sebesar 0,40 juta ton. Kontribusi produksi perikanan tangkap sebagian besar berasal dari wilayah barat (Sumatera dan Jawa), hal ini memang selain jumlah nelayan yang terkonsentrasi di wilayah barat juga disebabkan dukungan infrastruktur pelabuhan dan sarana penangkapan yang belum merata sampai ke wilayah timur.

Pengelolaan sumber daya kelautan sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan perekonomian negara. Pada tahun 1999 Indonesia mengalami perubahan dalam sistem hukumnya, yang berpengaruh bagi pengelolaan wilayah perairan. Pengelolaan sumber daya kelautan mengalami perubahan sejak dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Sejalan dengan era otonomi, sejak tahun 2001 Pemda mempunyai kewenangan yang jelas dalam mengelola sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil secara bertanggungjawab sesuai Pasal 10 UU No. 22/99.16 Adanya undang-undang dalam mengatur wilayah maritim serta pengelolaan sumber daya kelautan dapat mengatasi masalah illegal fishing yang terus dihadapi oleh negara Indonesia.

 

Tag: , , ,


Leave a Reply

+ 62 = 63