Memahami Tren Pariwisata di Era Digital

Evolusi Tren Pariwisata di Era Digital

Tren wisata di dunia mulai berubah. Diferensiasi pariwisata serta teknologi mempengaruhi cara masyarakat mengakses wisata serta rekreasi. Tidak hanya itu saja perkembangan teknologi khususnya informasi dan komunikasi secara tidak langsung juga mempengaruhi selera dan cara bisnis pariwisata berkembang. Pola pengelolaan informasi pariwisata berbasis platform online membuat bisnis wisata sekarang ini jauh berubah daripada 20 hingga 30 tahun yang lalu. Lalu bagaimana pemerintah menyesuaikan diri dalam kompetisi bisnis pariwisata, sementara gemburan teknologi media baru semakin massif? Artikel ini menawarkan sebuah metode penelitian terkait promosi wisata dalam perspektif yang mungkin perlu dipertimbangkan dalam studi komunikasi pariwisata di Indonesia. Temuan dalam penelitian ini, bahwa website pariwisata yang dibangun oleh pemerintah belum dikelola secara optimal, perlu adanya peningkatan kembali dalam pengelolaan konten pariwisata dalam mengoptimalkan evolusi tren pariwisata indonesia.

Pariwisata adalah aktifitas masyarakat di luar wilayah tempat tinggalnya dalam kurun waktu yang tidak lama (kurang dari satu tahun) untuk tujuan meluangkan waktu (Richardson dan Flicker, 2004; Pitana dan Diarta, 2009). Wisatawan Bisnis wisata adalah sebuah bisnis yang saling berkaitan dan cukup kompleks. Ada hubungan kompleks antara elemen-elemen dalam pariwisata, seperti wisatawan, pemerintah lokal, masyarakat lokal, univeritas, komunitas pendidikan dan lembaga swadaya masyarakat (Weaver dan Oppeman, 2000; Pitana dan Diarta; 2009). Wisatawan adalah aset utama dalam bisnis pariwisata. Wisatawan adalah pengunjung yang perjalanannya tersebut menetap lebih dari satu malam (WTO, 2008). Jika kemudian wisatawan didefinisikan adalah sebuah perjalanan dengan syarat menetap satu malam, maka apa yang disebut dengan perjalanan rekreasi yang tidak menetap sama sekali? WTO menjelaskan bahwa perjalanan dengan tidak menetap dengan tujuan mengisi waktu luang, piknik disebut juga dengan vacation home (WTO, 2008). Pada hakekatnya wisatawan datang untuk berlibur (McKercher,1993; Sharpley, 2006).

Terjadi perubahan dalam tren pariwisata yang awalnya didominasi oleh wisata konvensional layaknya wisata massal yang lebih banyak berdampak negatif (Purwanggono dan Akiriningsih, 2009). Ekowisata adalah salah satu bentuk wisata minta khusus yang lebih mengendepankan konteks moral sebagai bagian dari wisata (Butcher, 2002; Sharpley,2006). Ekowisata adalah salah satu bagian dari antitesa wisata massal. Dalam konteks wisata minat khusus wisatawan diajak untuk melakukan sesuatu ditengah liburannya yang sifatnya positif atau mencerahkan. Dalam wisata minat khusus inilah tata lingkungan menjadi bagian dari sumber daya (Darsoprajitno, 2002).

Asia akhirnya bisa menggeser dominasi Eropa dalam kunjungan wisata dunia. Menurut Euromonitor tahun 2015, beberapa negara di Asia masuk dalam kunjungan tertinggi wisatawan, seperti Hongkong, Singapura dan Bangkok. Di Indonesia Bali adalah salah satu destinasi wisata massal yang cukup popular, bahkan sebelum Indonesia merdeka (Suryawan,2009).

Di era teknologi informasi sekarang ini, peran media informasi komunikasi wisata berbasis media baru begitu penting keberadaanya. Akses informasi yang mudah menjadi modal utama sekaligus aset wisata itu sendiri. Informasi adalah data yang diberikan sesuai dengan keperluan dan tujuannya (Druker,1988; Pearlson dan Saunders, 2010).

Studi komunikasi pariwisata mulai berkembang dengan banyaknya kajian-kajian komunikasi dalam lingkup pariwisata. Bungin (2015) menjelaskan kajian-kajian komunikasi yang masuk dalam kajian komunikasi pariwisata yakni komunikasi pemasaran atau promosi, brand destinasi, manajemen komunikasi pariwisata, komunikasi transportasi pariwisata, komunikasi visual pariwisata, komunikasi kelompok pariwisata, komunikasi online pariwisata, public relation, dan riset komunikasi pariwisata. Jika mengacu pada kajian yang melatar belakangi, maka pada definisinya, komunikasi pariwisata adalah studi komunikasi yanga mengkaji elemen-elemen pariwisata dalam perspektif komunikasi.

Promosi atau komunikasi pemasaran dipahami sebagai sebuah lembaga yang mnginformasikan, mempersuasi atau mengingatkan tentang produk atau brand yang dijualnya (Kotler dan Keller, 2012). Dalam studi komunikasi pariwisata elemen komunikasi pemasaran atau promosi menjadi salah satu elemen yang dipelajari. Di era media baru, promosi pariwisata ternyata tidak hanya dikuasai oleh lembaga atau agent promosi atau bahkan pemerintah. Di era digital semua bisa melakukan promosi, semua elemen ikut terlibat, tak terkecuali wisatawan itu sendiri. Web 4.0 adalah sebuah pengembangan teknologi internet yang mengembangkan kecerdasan mesin. Tujuan utama dari pengembangan teknologi digital adalah saling membantu atau melengkapi antara manusia dan mesin melalui interaksi (Aghaei, Nematbakhsh, Farsani, 2012). Komputer mampu membaca keinginan pengguna dan membantu mengumpulkan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Pada hakekatnya membangun web intelegensi tingkat tinggi (farber; 2007; Aghaei, Nematbakhsh, Farsani, 2012).

Teknologi Digital tentu saja menjadi tantangan pemerintah dalam membangun basis webnya sendiri guna mendukung investasi pariwisata. Kondisi wisata yang popular pada akhirnya akan membuat sirkulasi infomasi yang masuk di internet, dengan makin orang tertarik ingin tahu, maka secara otomatis mesin web 4.0 akan merekomendasikan wisata tersebut. Beberapa platform aplikasi seperti Gojek, Traveloka, pegipegi, nusatrip, tiketcom dan sebagainya akan banyak membantu dalam urusan akomodasi dan sebagainya.

Literasi

Bungin, Burhan, (2015), Komunikasi Pariwisata, Penerbit Kencana, Jakarta

Kotler, P., & Keller, K. (2012) Marketing management, Pearson Education, USA

Aghaei, Sareh., Nematbakhsh, Mohammad Ali., Farsani, HAdi Kosravi, (2012), Evolution the World Wide Web : from Web 1.0 to Web 4.0, Internationa Journal of Web and Semantic Technology (IJWesT), Vol 3, No. 1 2012, hal 1-10

Lopez, M Tunez., Altamirano V, Valarezo KP, (2016),Collaborative Tourism Communication 2.0: Promotion, Advertising, and Interactivity in Government Tourism Website in Latin America, Revista Latina de Comunicacion Social, Vol 71, hal 249-271

Sharpley, R (2006), Ecotourism: A Consumption Perspective, Journal of Ecotourism, vol. 1 No. 2: 7- 22.

Suryawan, I Ngurah, (2009), Bali : Pascakolonial, Jejak Kekerasan dan Sikap Kajian Budaya, KEPPEI Press, Yogyakarta.

Pearlson, Keri E, dan Saunders, Carol S (2010), Managing and Using Information System; a Strategic Approach, USA, Wiley

Pitana, I Gde, Prof. Dr, M.Sc dan Diarta, I Ketut Surya, SP., MA (2009), Pengantar Ilmu Pariwisata, Penerbit Andi, Jakarta.

 

Tag: ,


Leave a Reply

− 2 = 1