Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit ( red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah tang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carring capacity). Secara praktis anemia ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, hematokrit atau hitung eritrosit (red cell count). Tetapi yang paling lazim dipakai adalah kadar hemoglobin, kemudian hematokrit (Bakta IM, 2011).

Parameter yang paling umum dipakai untuk menunjukkan penurunan massa eritrosit adalah kadar hemoglobin, disusul oleh hematokrit dan hitung eritrosit. Pada umumnya ketiga parameter tersebut saling bersesuaian. WHO menetapkan cut off point anemia untuk keperluan penelitian lapangan. Kriteria anemia menurut WHO (dikutip dari Hoffbrand AV, et al, 2001) kelompok laki-laki kadar hb < 13 g/dl, kelompok wanita dewasa tidak hamil < 12g/dl, kelompok wanita hamil < 11g/dl. Untuk keperluan klinik ( rumah sakit atau praktek dokter) di Indonesia dan Negara berkembang lainnya, kriteria WHO sulit dilaksanakan karena tidak praktis. Oleh karena itu beberapa peneliti di Indonesia menggunakan criteria hemoglobin < 10 g/dl sebagai awal dari work up anemia.

Anemia dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain : Pertama adalah gangguan pembentukan eritrosit , gangguan ini apabila terdapat defisiensi substansi tertentu seperti mineral (besi, tembaga), vitamin (B12, asam folat), asam amino, serta gangguan pada sumsum tulang. Kedua adalah Perdarahan , Perdarahan baik akut maupun kronis mengakibatkan penurunan total sel darah merah dalam sirkulasi. Ketiga adalah Hemolisis. (Bakta,2009). Klasifikasi anemia berdasarkan gambaran morfologik dengan melihat indeks eritrosit atau hapusan darah tepi dibagi menjadi tiga golongan:

Pertama, Anemia hipokromik mikrositer, bila MCV < 80 fl dan MCH < 27.
Kedua , Anemia normokromik normositer bila MCV 80-95 fl dan MCH 27- 34.
Ketiga, Anemia makrositer bila MCV > 95 fl.( Bakta IM, 2011) Gejala umum pada anemia disebut juga sebagai sindrom anemia, timbul karena iskemia organ target serta akibat mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan kadar hemoglobin. Gejala ini muncul pada setiap kasus anemia setelah penurunan hemoglobin sampai kadar tertentu (Hb<7 g/dl).

Sindrom anemia terdiri dari rasa lemah, lesu, cepat lelah, telinga mendenging (tinnitus), mata berkunang-kunang, kaki terasa dingin, sesak nafas dan dyspepsia. Pada pemeriksaan, pasien tampak pucat, yang mudah dilihat pada konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan dan jaringan di bawah kuku.

Sindrom anemia bersifat tidak spesifik karena dapat ditimbulkan oleh penyakit di luar anemia dan tidak sensitive karena timbul setelah penurunan hemoglobin yang berat (Hb<7 g/dl). (Bakta, 2011)

Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang pada akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang. ADB ditandai oleh anemia hipokromik mikrositer dan hasil laboratorium yang menunjukkan cadangan besi kosong. (Bakta IM, Suega K, Dharmayuda TG, 2011)

Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang terbanyak baik di negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Padahal besi merupakan suatu unsur terbanyak pada lapisan kulit bumi, akan tetapi defisiensi besi merupakan penyebab anemia yang tersering. Hal ini disebabkan tubuh manusia mempunyai kemampuan terbatas untuk menyerap besi dan seringkali tubuh mengalami kehilangan besi yang berlebihan yang diakibatkan perdarahan. (Hoffbrand.AV, et al, 2005, hal.25-34)

1. Metabolisme Besi

Besi merupakan elemen penting dalam fungsi seluruh sel, meskipun jumlah besi yang dibutuhkan tiap individu bervariasi. Pada saat yang bersamaan, tubuh juga harus melindungi dirinya dari besi bebas, yang memiliki toksin tinggi dan berpartisipasi dalam reaksi kimia yang menghasilkan radikal bebas seperti O2 juga berikatan dengan mioglobin di otot. Distribusi besi pada tubuh dapat terlihat pada table. Tanpa besi, sel dapat kehilangan kapasitasnya untuk mengantar electron dan metabolism energy. Pada sel eritroid, sintesa hemoglobin yang buruk, menghasilkan anemia dan penurunan hantaran O2 ke jaringan. (Edward J, Benz JR , 2008)

2. Siklus Besi Dalam Tubuh

Pertukaran besi dalam tubuh merupakan lingkaran yang tertutup yang diatur oleh besarnya besi yang diserap usus, sedangkan kehilangan besi fisiologik bersifat tetap. Besi yang diserap usus setiap hari berkisar antara 1-2 mg, ekskresi besi terjadi dalam jumlah yang sama melalui eksfoliasi epitel. Besi dari usus dalam bentuk transferin akan bergabung dengan besi yang dimobilisasi dari makrofag dalam sumsum tulang sebesar 22 mg untuk dapat memenuhi kebutuhan eritropoesis sebanyak 24 mg per hari. Eritrosit yang terbentuk secara efektif yang akan beredar melalui sirkulasi memerlukan besi 17 mg, sedangkan besi sebesar 7 mg akan dikembalikan ke makrofag karena terjadinya eritropoesis inefektif (hemolisis intramedular). Besi yang terdapat pada eritrosit yang beredar, setelah mengalami proses penuaan juga akan dikembalikan pada makrofag sumsum tulang sebesar 17 mg. sehingga dengan demikian dapat dilihat suatu lingkaran tertutup (closed circuit) yang sangat efisien. (Bakta IM, Suega K, Dharmayuda TG, 2011)

3. Etiologi

Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh karena rendahnya masukan besi, gangguan absorbs, serta kehilangan besi akibat pendarahan menahun : 1) kehilangan besi sebagai akibat pendarahan menahun dapat berasal dari : a) saluran cerna: akibat dari tukak peptic, pemakaian NSAID, kanker lambung, kanker kolon, divertikulosis, hemoroid dan infeksi cacing tambang, b) saluran genetalia perempuan : menorrhagia atau metrorhagia, c) saluran kemih: hematuria, d) saluran napas: hemoptoe. 2) faktor nutrisi : akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan, atau kualitas besi (bioavailabilitas) besi yang tidak baik (makanan banyak serat, rendah vitamin C, dan rendah daging). 3) kebutuhan besi meningkat: seperti pada prematuritas, anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan. 4) gangguan absorbs besi: gastrektomi, tropical sprue atau colitis kronik.( Bakta IM, Suega K, Dharmayuda TG, 2011)

4. Patogenesis

Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi sehingga cadangan besi menurun. Jika cadangan besi menurun, keadaan ini disebut iron depleted state atau negative iron balance. Keadaan ini ditandai oleh penurunan kadar feritin serum, peningkatan absorbs besi dalam usus, serta pengecatan besi dalam sumsum tulang negative. Apabila kekurangan besi berlanjut terus maka cadangan besi menjadi kosong sama sekali, penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada bentuk eritrosit tetapi anemia secara klinis belum terjadi, keadaan ini disebut sebagai : iron deficient erythropoesis. Pada fase ini kelainan pertama yang dijumpai ialah peningkatan kadar free protophorphyin atau zinc protophorphyin dalam eritrosit. Saturasi transferin menurun dan total iron binding capacity (TIBC) meningkat. Akhir-akhir ini parameter yang sangat spesifik ialah peningkatan reseptor transferin dalam serum. Apabila jumlah besi menurun terus maka eritropoesis semakin terganggu sehingga kadar hemoglobin mulai menurun, akibatnya timbul anemia hipokromik mikrositer, disebut sebagai iron deficiency anemia. Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada epitel serta pada beberapa enzim yang dapat menimbulkan gejala pada kuku, epitel mulut dan faring serta berbagai gejala lainnya. ( Bakta IM, Suega K, Dharmayuda TG, 2011)

Literasi

Bakta IM, Suega K, Dharmayuda TG. (2011). Anemia Defisiensi Besi. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V, Jakarta Pusat: Interna Publishing. 1127-32.

Edward J, Benz JR. (2008). Disorder of Hemoglobin. Dalam: Fauci, Braunwald E, penyunting. Harrison’s Principles of Internal Medicine (17th ed.). United states: The McGraw-Hill Companies.635-42.

Hoffbrand AV, Petit JE, Moss PAH.(2001). Essential hematology. (4th ed.). Oxford: Blackwell Science

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *