Kanker Serviks

  1. Definisi Kanker

Kanker adalah pertumbuhan sel secara tidak wajar atau secara tidak terkontrol, sehingga dapat merusak jaringan yang berada disekitarnya serta dapat menjalar ke tempat yang jauh dari asalnya yang disebut dengan metastasis, World Health Organization (WHO, 2013). Kanker akan berkembang ketika sel-sel yang tidak normal dapat keluar dari regulasi pertumbuhan sel normal (Chaulagain, Ng Googman dan Saif, 2013). Serviks adalah bagian uterus yang terletak pada 1/3 bawah uterus, berbentuk silindris terdapat kanal yang berhubungan vagina dengan rongga uterus (aziz et al, 2006).

  1. Definisi kanker serviks

Kanker serviks adalah proses keganasan atau bisa disebut juga tumbuhnya tumor ganas pada leher rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina) sehingga jaringan disekitarnya tidak dapat melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya (Sukaca, 2009; Nugroho dan Utama, 2014). Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh pada serviks yang merupakan pintu masuk kearah rahim (uterus) yang terletak antara rahim dan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur diatas 30 tahun, tetapi bukti statistic menunjukan bahwa kanker serviks juga dapat terjadi pada wanita yang berumur antara 22 sampai 55 tahun (Diananda, 2009).

Menurut para ahli kanker, kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan paling dapat disembuhkan dari semua kasus kanker. Sebagaimana kanker umumnya kanker serviks akan menimbulkan masalah-masalah berupa kesakitan (morbiditas), penderita dan akibat serius dari penyakit ini adalah kematian. (Diananda, 2009). Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim (Nugroho dan Utama, 2014).

  1. Faktor Risiko

Penyebab terjadinya kelainan pada sel-sel serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor risiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks:

HPV (human papillomavirus).

Hampir semua (99,7%) kasus kanker serviks secara langsung berkaitan dengan infeksi genital yang disebabkan oleh salah satu atau lebih virus human papilomavirus (HPV) (WHO, 2006). HPV adalah virus penyebab kutil genitalis (kondiloma akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16,18, 45, dan 56 (Nugroho dan Utama, 2014). Jenis dari vaksin HPV adalah Bivalen (16, 18) dan quadrivalen (16, 18, 6, 11). HPV 16 dan HPV 18 merupakan HPV risiko tinggi (karsinogen), sedangkan HPV 6 dan 11 merupakan HPV risiko rendah (non-karsinogen) (Andrijono, 2007). Vaksinasi tidak bertujuan untuk terapi. Lama proteksi vaksin bivalen 53 bulan, dan vaksin quadrivalen berkisar 36 bulan (Andrijono, 2007).

Mencegah terjadiny infeksi HPV terdapat 2 pencegahan yaitu pencegahan sekunder meliputi pemeriksaan pap smear dan IVA dan pencegahan primer adalah pemberian vaksin HPV yang bertujuan untuk mengeliminasi infeksi HPV (Andrijono, 2007). Pencegahan yang terbaik adalah dengan melakukan vaksinasi dan pap smear untuk menjangkau infeksi HPV risiko tinggi lainnya, karena jangkauan perlindungan vaksinasi tidak mencapai 100% (89%) (Andrijono, 2007). Seorang wanita yang efektif di berikan vaksinasi HPV usia diantara 9-26 tahun yang belum menikah ataupun yang belum melakukan hubungan seksual tetapi usia yang sangat disarankan usia > 12 tahun (Andrijono, 2007). Vaksin diberikan pada bulan 0, 1, 6 pertama kali disuntikan di intramuskular (dianjurkan pemberian tidak melebihi waktu 1 tahun) (Andrijono, 2007).

Riwayat keluarga

Bila seorang wanita mempunyai saudara kandung atau ibu yang mempunyai kanker serviks, maka seseorang wanita tersebut akan mempunyai kemungkinan 2-3 kali lebih besar mengidam penyakit kanker serviks dibandingkan dengan orang yang normal. Beberapa penelitian menduga hal ini berhubungan dengan berkurangnya kemampuan untuk melawan infeksi HPV (Laras, 2009).

Faktor usia pertama kali berhubungan seksual dan berganti-ganti pasangan

Prilaku seksual seperti multi mitra seks dan usia pertama kali melakukan hubungan seksual < 20 tahun akan berisiko meningkat lebih dari enam kali dibandingkan dengan usia seorang wanita >20 tahun dan prilaku seksual tersebut sangat berhubungan kuat dengan kanker serviks sel skuamosa (Aziz dan Rauf, 2005). seorang wanita yang mempunyai teman seksual 6 orang atau lebih mitra seks, memliliki fakto risiko kanker serviks akan lebih meningkat 10 kali lipat dibandingkan dengan wanita yang melakukan hubungan seksual diatas usia 20 tahun dengan mempunyai 1 mitra seksual dan risiko kanker serviks akan meningkat 3 kali lebih besar dari pada pada wanita yang melakukan hubungan seksual diusia <17 tahun dibandingkan dengan usia >20 tahun. risiko juga akan meningkat apabila berhubungan seksual dengan laki-laki yang berhubungan dengan banyak wanita (Sukaca, 2009; Herbert, 2006)

Menurut Data dari Dinas Kesehatan Daerah Bantul (DinKes Bantul) terdapat 20% wanita pada tahun 2013 menikah diusia dibawah 20 tahun. Menurut Lembaga Perlindungan Anak (LPA) (2013) dan RisKesDas (2013) hasil survey di Indonesia terdapat 12 provinsi yang sudah melakukan hubungan seksual pranikah sebesar 62,7% remaja, usia kehamilan remaja yang berusia kurang dari 15 tahun sebesar 0,02% dan angka kehamilan berkisar 15-19 tahun sebesar 1,97%. dan yang pernah melakukan aborsi 21,2% remaja.

Rokok

Wanita perokok mempunyai risiko 2 kali lipat terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita bukan perokok (Sukaca, 2009). Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks wanita (Nugroho dan Utama, 2014). Menurut Global Adults Tobacco Survey (GATS) (2013) dan RisKesDa (2013), perokok laki-laki sebanyak 67,0 % dan perokok wanita sebanyak 2,7%. Perokok aktif di DIY dengan usia lebih dari 10 tahun sebanyak 21,2%.

Nurhayati (2013) mengemukakan bahwa status perokok sangat berat >31 batang perhari, perokok berat 21-30 batang perhari, perokok sedang dikaegorikan 11-20 batang perhari, sedangkan perokok ringan 1-10 batang perhari.

Menurut Dewi, Sawitri, Adiputra, (2013) seseorang yang merokok 20 batang perhari akan memiliki risiko 7 kali lebih besar dibandingkan tidak merokok dan seterusnya merokok dengan 40 atang perhari beresiko terkena kanker 14 kali dibandingkan yang tidak merokok dapat disimpulkan juga semakin lama merokok maka makin tinggi pula risiko terkena kanker serviks karena disebabkan oleh tembakau yang mengandung karsinogen. Wanita perokok konsentrasi nikotin pada getah serviks 56 kali lebih tinggi dibandingkan dalam serum. Nikotin berefek langsung pada leher rahim dan akan menurunkan status imun local sehingga menjadikan ko-karsinogen(Dewi, Sawitri, Adiputra, 2013).

Perineal hygiene

Tertular penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual Penyakit Menular Seksual (PMS) antara lain sifilis, gonore, herpes simpleks, HIV-AIDS, kutil kelamin serta keputihan yang dibiarkan terus menerus tanpa diobati akan meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks. Pemakaian pembalut yang mengandung bahan dioksin yang merupakan bahan pemutih yang digunakan untuk memutihkan pembalut hasil daur ulang dari barang bekas, misalnya dari bahan krayon, kardus, dan lain-lain. Membasuh kemaluan dengan air yang tidak bersih karena di toilet-toilet umum yang tidak terawat banyak dihuni oleh kuman-kuman (ACA, 2010).

Peran penting menentukan status kesehatan agar terhindar dari infeksi alat reproduksi yaitu perineal hygiene. Terlebih lagi pada saat wanita mengalami menstruasi harus lebih menjaga kebersihan reproduksi terutama bagian vagina, sebab vagina akan menimbulkan mikro organisme yang berlebih sehingga akan menggangu fungsi organ reproduksi apabila tidak di perhatikan kesehatan dan kebersihan nya (Yanti, Agrina & Elita, 2014).

Menurut Yanti, Agrina & Elita, (2014) cara perineal hygiene meliputi:

1) Mencuci bagian luar organ seksual setiap buang air kecil ataupun buang air besar membasuh dari arah depan ke belakang.

2) Menggunakan air yang bersih untuk mencuci organ reproduksi.

3) Mengganti celana dalam sehari 2 kali, memakai pakaian dalam berbahan katun untuk mempermudah penyerapan keringat.

4) Mengganti pembalut secara teratur 3-4 kali sehari atau setiap 6 jam sekali.

5) Setelah mandi atau buang air, mengeringkan vagina dengan lap atau handuk yang bersih sebelum menggunakan pakaian dalam untuk menghindari suasana lembab yang dapat menyebabkan jamur lebih mudah berkembang.

6) Membasuh vagina tidak menggunakan dengan cairan kimia karena akan merusak keseimbangan yang ada sehingga dapat memungkinkan terjadinya infeksi pada vagina.

 7) Membiasakan diri mencukur/merapikan rambut disekitar daerah kemaluan, untuk menghindari tumbuhnya bakteri yang menyebabkan gatal pada daerah reproduksi.

Rambut yang tumbuh di daerah kemaluan bila dibiarkan tumbuh panjang akan menjadi tempat berkembangnya kuman, oleh karena itu cara untuk menjaga kebersihan dan kesehatan dengan cara memotong atau mencukur rambut disekitar kemaluan (Sallika, 2010). Menurut Ibnu Al-Arabia Al-Maliki, memotong rambut kemaluan hukumnya wajib. Batas waktu mencukur rambut kemaluan dijelaskan dalam sebuah hadis Annas Ibn Malik, “Rasulullah menentukan batas waktu mencukur rambut kemaluan agar tidak lebih dari empat puluh hari”(HR.Muslim) (Muhammad, M., & Ahmad, A., 2008).

Faktor risiko kanker serviks yang paling tinggi adalah Perineal Hygiene yang tidak baik pada wanita akan meningkatkan risiko kanker serviks sebesar 29 kali dengan Perineal Hygiene yang baik, sedangkan merokok akan meningkatan risiko kanker serviks sebesar 14 kali dibandingkan dengan yang tidak merokok (Dewi, Sawitri & Adiputra, 2012).

  1. Tanda dan Gejala

Menurut Nugroho dan Utama (2014) prekanker pada serviks biasanya tidak menimbulkan gejala dan tidak terdeteksi kecuali wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear. Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan penyusup ke jaringan di sekitarnya.

Pada saat ini akan timbul gejala berikut:

  1. Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara menstruasi setelah melakukan hubungan seksual dan setelah menopause.
  2. Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak)
  3. Keputihan yang menetap, dan cair yang encer, berwana pink, coklat, mengandung darah dan hitam serta berbau busuk.

Gejala kanker serviks stadium lanjut:

  1. Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan
  2. Nyeri panggul, punggung atau tungkai
  3. Dari vagina keluar air kemih atau tinja
  4. Patah tulang (fraktur)

Menurut White (2005) dan Ghofar (2009), fase sebelum terjangkit nya kanker serviks atau pada stadium dini, gejala kanker serviks tidak mempunyai tanda yang khas. Butuh waktu 10-20 tahun dari infeksi untuk menjadi kanker. Namun sering ditemukan gejala-gejala seperti keluarnya cairan encer dari vagina (keputihan), perdarahan setelah senggama yang kemudian dapat berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal, timbulnya perdarahan setelah masa menopause, fase invasif dapat keluar cairan berwarna kenuning-kunungan, berbau dan dapat bercampur dengan darah, timbulnya nyeri panggul (pelvis) atau perut di bagian bawah bila ada radang panggul. Badan menjadi sangat kurus seperti kurang gizi, edema kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum).

Kedalaman invasi ≤ 3 mm
5 IA2 Kedalaman invasi > 3 mm dan ≤ 5 mm
6 IB Terlihat secara klinik dan terbatas di serviks atau secara mikroskop > IA2
7 IB1 Besar lesi/tumor/benjolan ≤ 4 cm
8 IB2 Besar lesi/tumor/benjolan > 4 cm
9 II Invasi tidak sampai ke dinding panggul atau mencapai 1/3 bagian bawah vagina
10 IIa Tanpa invasi ke perimetrium / jaringan di samping uterus
11 IIb Invasi ke perimetrium
12 III Invasi mencapai dinding panggul, 1/3 bagian bawah vagina atau timbul hidronefrosis/ bendungan ginjal
13 IIIa Invasi pada 1/3 bagian bawah vagina dan infiltrasi perimetrium belum mencapai dinding panggul
14 IIIb Dinding panggul atau hidronefrosis
15 Iva Invasi mukosa kandung kemih /rectum atau meluas keluar panggul kecil
16 IVb Metastasisi jauh

 Skrining kanker serviks

  1. Pap smear

Pap smear merupakan suatu pemeriksaan yang aman dan murah untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel rahim, yang telah di pakai selama bertahun-tahun lamanya. Terjadinya kanker serviks ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang abnormal, akan tetapi pemeriksaan ini untuk melihat sel-sel tersebut sebelum menjadi sel-sel kanker (Sukaca, 2009).

Tes pap smear dapat mendeteksi sedini mungkin dengan memiliki tingkat sensitivitas 90% apabila dilakukan setiap tahun, 87% jika dilakukan setiap dua tahun, 78% setiap tiga tahun, 68% jika dilakukan lima tahun sekali. Tes pap smear dapat mendeteksi secara dini adanya sel abnormal sebelum berkembang menjadi lesi prakanker atau kanker serviks, terutama pada wanita dengan aktivitas seksual yang aktif ataupun yang telah divaksinasi. Pada dasarnya pap smear ini mengambil sediaan dari epitel permukaan (sel pada permukaan atau dinding) serviks yang mengelupas atau eksfoliasi dimana epitel permukaan serviks selalu mengalami regenerasi dan digantikan oleh lapisan epitel bawahnya juga. Kemudian, sediaan ini diwarnai secara khusus dan dilihat dibawah mikroskop untuk dikendalikan lebih lanjut untuk dibedakan derajad lesi kankernya (Maryanti,2009).

  1. IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)

IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) adalah pemriksaan skrining kanker serviks dengan cara inspeksi visual pada kanker serviks dengan aplikasi asam asetat. Metode inspeksi visual yang lebih mudah, lebih sederhana dan lebih mampu laksana, skrining dapat dilakukan dengan cakupan lebih luas, sehingga diharapkam temuan kanker serviks dini akan bisa lebih banyak (Nurana, 2008). IVA merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. Pemerksaan tes IVA dapat dilakukan dengan cara mengoleskan asam asetat (cuka 3-5%) dibagian serviks. Serviks berwarna pucat menandakan terdapat adanya lesi prakanker. Tes IVA dapat dilakukan setiap waktu hanya membutuhkan waktu 15 menit dan dapat mendeteksi langsung lesi tingkat pra kanker (High-Grade Precanceraus Lesions) dengan sensitivitas sekitar 66-96% dan spesifitas 64-98%. Sedangkan nilai prediksi positif (Positive Predective Value) dan nilai prediksi negatif (Negative Predective Value) masing-masing antara 10-20% dan 92-97% (Sukaca E. Bertiani, 2009).

Peran Perawat

Menurut Asmadi, (2008) sebagai tenaga kesehatan atau perawat memiliki peran yang sesuai dengan hak dan kewenangannya pada saat menjalankan tugas nya, perawat mempinyai peran utama yaitu sebagai pelaksana, pengelola, pendidik dan peneliti. Menurut pendapat Doheny (1982, dalam Mubarok, 2005) ada macam-macam peran perawat sebagai perawat professional : care giver, client advocate, conselor, educator, collaborator, coordinator change agent, consultant dan Care Giver.

  1. Pelaksana layanan keperawatan (care provider)

Sesuai dengan kewenangannya perawat akan memberikan asuhan keperawatan langsung kepada klien (indvidu, keluarga, maupun komunitas). Perawat bertugas untuk; memberi kenyamanan dan rasa aman bagi klien, melindungi hak dan kewajiban klien agar tetap terlaksana dengan seimbang, memfasilitasi klien dengan anggota tim kesehatan lain, dan berusaha mengembalikan status kesehatan klien (Asmadi, 2008).

  1. Pengelola (manager)

Perawat mempunyai peran dan tanggung jawab dalam mengelola layanan keperawatan sesuai dengan konsep manajemen keperawatan melaksanakan layanan keperawatan melalui upaya staf keperawatan memberikan asuhan keperawatan, pengobatan, dan rasa aman disemua tatanan layanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas dan sebagainya) maupun tatanan pendidikan yang berada dalam tangggung jawabnya. Perannya adalah planning, organizing, actuating, staffing directing dan controlling (Asmadi, 2008).

  1. Pendidik dalam keperawatan (Educator)

Perawat berperan dalam mendidik individu, keluarga, masyarakat serta tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan lainnya. Untuk menjadi pendidik yang baik, perawat harus memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang luas untuk itu praktik keperawatan harus berdasarkan dari riset dan melakukan riset keperawatan untuk mengembangkan profesinya. Kemampuan komunikasi yang baik dan efektif sangat perlu dalam mendidik klien. Pemahaman psikologis dan kemampuan menjadi model/contoh dalam perilaku professional (Asmadi, 2008).

  1. Care Giver

Pada peran ini perawat harus mampu memberikan pelayanan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai masalah yang kompleks. Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi diagnosis keperawatan mulai dari masalah fisik sampai pada masalah psikologis. Guna membantu klien mendapatkan kembali kesehatannya melalui proses penyembuhan (Mubarok, 2005).

  1. Client Advocate

Perawat juga sebagai pembela klien disini yaitu bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (inform consent) atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya. (Mubarok, 2005).

  1. Conselor

Peran konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi tekanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan dan proses penyembuhan seseorang. Dalam pemberian konseling diberikan dukungan emosional dan intelektual kepada klien tersebut (Mubarok, 2005)

Mendorong dan memberikan pendidikan kesehatan seperti memberikan pendidikan seks remaja untuk mengurangi kemungkinan infeksi virus HPV, tidak melakukan hubungan seks remaja, mengajarkan remaja mengenai perineal hygiene adalah peran perawat sebagai edukator dalam pencegahan kanker serviks (Afriatin & Ekawati, 2012). Masa remaja merupakan masa dimana terjadi nya kecepatan perkembangan fisik, psikologis, emosional dan social. Proses tumbuh kembang, periode transisi akan selalu ada didalam kehidupan seorang dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Ali & Asrori, 2010).

Remaja

Masa remaja adalah masa dimana terdapat perubahan fisik maupun psikis yang mengakibatkan terbentuknya pengalaman-pengalaman baru yang belum dialami sebelumnya. Remaja adalah suatu pertumbuhan dari masa anak-anak ke masa dewasa, dengan ditandai perubahan-perubahan fisik yang umum maupun perkembangan kognitif dan sosial (Desmita,2005). Remaja adalah proses pertumbuhan dan perkembangan pada masa anak-anak menuju dewasa ditandai dengan kematangan dalam beberapa fungsi seperti endokrin, fungsi seksual, dan kedewasaan dalam bermasyarakat (Hurlock,2006).

Proses perkembangan seorang individu yang sangat penting adalah dimasa remaja. Masa remaja dibagi menjadi tiga tahapan yaitu : (1) Masa remaja awal usia 12-15 tahun, (2) masa remaja pertengahan usia 15-18 tahun, (3) masa remaja akhir usia 19-22 tahun (Desmita,2005).

  1. Karakteristik Remaja

Remaja dianggap sebagai masa frustasi dan penderitaan atau bisa di sebut juga dengan “storm and Stress”. Konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta dan perasaan tersisih dari kehidupan sosial budaya orang dewasa (Hurlock,2006).

Menurut Hurlock (2006) & Desmita (2005) cirri-ciri remaja adalah sebagai berikut:

  1. Masa remaja dikatakan sebagai periode yang sangat penting dikarenakan pada masa ini perkembangan fisik dan psikisnya pesat.
  2. Sebagai masa mencari identitas yaitu mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi menjadi masa dengan teman-teman dalam segala hal.
  3. Masa dimana menimbulkan rasa takut dikarenakan terdapat anggapan bahwa usia remaja adalah terdapat anak yang berperilaku negatif, seperti tidak disiplin, tidak dapat percaya dan tidak patuh.
  4. Sebagai masa yang tidak realistik yaitu cenderung melihat dirinya dan melihat orang lain bagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagai mana adanya.
  5. Pertumbuhan atau perkembangan fisik yang cepat bisa terlihat dari tungkai, tangan, tulang kaki, otot tubuh yang berkembang dengan pesat, terlihat lebih tinggi. Pertumbuhan yang pesat pada masa remaja bahkan lebih cepat dibandingkan pada masa kanak-kanak dan masa dewasa. Untuk mengimbangi hal tersebut, maka seorang remaja membutuhkan nutrisi yang adekuat dan pola tidur yang lebih banyak.
  6. Perkembangan seksual yang mencolok. Perkembangan seksual pada anak laki-laki ditandai dengan terjadi mimpi basah pada pertama kali karena pada anak laki-laki mulai diproduksinya sperma pada testis. Sedangkan yang terjadi pada anak perempuan terjadi perkembangan rahim dan telah dapat dibuahi ditandai dengan terjadinya menstruasi pertama kali.
  7. Tertarik pada lawan jenis. Dalam kehidupan sosial remaja, mereka mulai tertarik kepada lawan jenis dan mulai melakukan pendekatan seperti pacaran. Remaja perempuan lebih tertarik pada pemuda yang usianya lebih matang, pemuda yang lebih matang lebih mampu melindungi, memberi, menolong,  pengertian dan lebih menyayangi perempuan. Sedangkan para remaja laki-laki lebih tertarik pada remaja putri yang usianya lebih rendah dari usianya, karena remaja lebih dianggap suka dilindungi, ditolong, ingin dicintai serta ingin menyenangkan hati orang lain.

Emosi yang meluap-luap. Keadaan emosi remaja masih dalam keadaan labil karena berhubungan dengan proses perkembangan fisik dan mental yang pesat, sehingga berpengaruh pada keadaan hormonal. Hal ini menyebabkan emosi remaja yang tidak stabil seperti terdapat perasaan yang sedih sekali mereka bisa saja melakukan bunuh diri, dan pada lain waktu bisa menjadi sangat senang mereka bisa menjadi lupa diri sehingga tidak mampu menahan emosi yang meluap-luap atau menjadi marah yang tidak terkendali meskipun dengan penyebab yang sepele. Hal ini terjadi karena emosi remaja lebih kuat dan menguasai dari pada pikiran yang realistis.

Terdapatnya karakteristik remaja yang ada bisa meningkatkan resiko kanker serviks meliputi perkembangan seksual pada wanita. Remaja wanita akan mengalami menstruasi pertama (menarche), sehingga informasi mengenai Perineal Hygiene sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan reproduksinya (Yanti, Agrina & Elita, 2014). Emosi yang belum stabil pada masa remaja bisa membuat anak remaja mempunyai risiko seks bebas ditandai dengan mereka sudah mulai tertarik kepada lawan jenis. Hasil survei dari 12 provinsi yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa 62,7 % remaja sudah melakukan hubungan seksual pranikah (Lembaga Perlindungan Anak (LPA), 2013).

  1. Tugas perkembangan remaja.

Menurut William W. Wattenberg dalam (Al-Mighwar, 2006) masa remaja dibagi menjadi dua hal yaitu masa remaja awal dan akhir. Macam-macam dari tugas perkembangan remaja awal adalah:

Mampu mengotrol diri sendiri seperti orang dewasa.

Munculnya tugas perkembangan ini diakibatkan bertambahnya pekerjaan atau perbuatan remaja lakukan sehingga remaja awal diharapkan mampu mengontrol segala perbuatannya baik yang boleh di lakukan maupun yang tidak.

Mendapat kebebasan.

Tugas perkembangan remaja awal lainnya adalah mendapatkan kebebasan, dengan mendapatkan kebebasan ini remaja awal diharapkan tidak lagi bergantung pada orang tua dan orang dewasa lainnya . Remaja awal diharapkan belajar dan berlatih untuk menentukan pilihan, membuat keputusan dan melaksanakan keputusannya serta berani mempertanggung jawabkannya.

Bergaul dengan teman-teman lawan jenis.

Rasa simpati, rasa tertarik untuk selalu bersama-sama dengan lawan jenisnya mulai di dasari oleh remaja awal, meskipun mereka masih meragukan apakah lawan jenisnya tertarik kepadanya karena remaja awal merasa bimbang pada daya tarik dirinya sendiri bagi lawan jenisnya, merasa malu untuk saling mendekat dan saling bergaul, sehingga tidak sedikit remaja yang tidak mau berpacaran.

Memiliki citra diri yang nyata.

Remaja awal juga diharapkan mampu menilai kondisi dirinya yaitu mampu mengukur kelebihan dan kekurangannya serta dapat menerima, memelihara dan memanfaatkannya semaksimal mungkin, dan mampu memngukur apa saja yang disenangi atau tidak disenangi oleh teman-teman sebayanya.

Baca: Pengertian Kanker dan Kanker Payudara (Ca Mammae)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

77 + = 82