Morfologi tumbuhan Batang tegak, bulat, berkayu, licin, percabangan simpodial, cokelat kotor, daun majemuk, lonjong, berhadapan, panjang 10-20 cm, lebar 5-15 cm, tepi rata, ujung runcing, pangkal membulat, dan pertulangan menyirip. Tangkai batang panjangnya sekitar 0,5-1 m, daun berwarna hijau tua, bunga majemuk, bentuk tandan. Tangkai berbentuk bulat, kelopak menyerupai mangkok, benang sari berwarna kuning, putik berbentuk silindris, mahkota berbentuk lonjong, dan berwarna putih kekuningan. Buah jengkol bentuknya bulat pipih, biji bulat pipih, berkeping dua, putih kekuningan, tunggang, dan cokelat kotor (Hutapea, 1994).

Sistematika tumbuhan Jengkol

Sistematika tumbuhan jengkol menurut Tjitrosoepomo (2000), yaitu:

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Bangsa : Rosales

Suku : Fabaceae

Genus : Pithecellobium

Spesies : Pithecellobium jiringa (Jack) Prain

Habitat dan daerah tumbuh Tanaman Jengkol

Tumbuhan ini merupakan pohon di bagian barat Nusantara, tinggi sampai 26 m, dibudidayakan secara umum oleh penduduk di Jawa dan di beberapa daerah tumbuh menjadi liar. Tumbuh paling baik di daerah dengan musim kemarau yang sedang dan tidak tahan terhadap musim kemarau yang terlalu panjang (Heyne, 1987).

Khasiat tumbuhan Buah Jengkol

Tumbuhan jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) merupakan salah satu tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai obat tradisional. Daun jengkol berkhasiat sebagai obat kudis, luka, bisul, dan kulit buahnya digunakan sebagai obat borok karena mengandung saponin, flavonoid, dan tanin (Whitmore, 1987). Tumbuhan jengkol dikenal mengandung berbagai golongan senyawa kimia tertentu sebagai bahan obat yang mempunyai efek fisiologis terhadap organisme lain, atau sering disebut sebagai senyawa bioaktif. Kandungan zat-zat tersebut di atas, maka jengkol memberikan peluang sebagai bahan obat (Pitojo, 1994).

Baca : Tanaman Kemangi – Ocimum basilicum forma citratum Back

Potensi kulit Buah jengkol

Kandungan senyawa kimia aktif dalam kulit jengkol yaitu alkanoid, saponin, flavonoid, tanin, glikosida, dan steroid atau triterpenoid. Senyawa-senyawa tersebut membuat kulit buah jengkol dapat dijadikan obat alternatif untuk penyembuhan luka bakar (Darwin, 2011). Ekstrak etanol kulit buah jengkol mempunyai kandungan asam fenolat yang dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli (Nurussakinah, 2010). Kulit jengkol juga dapat menurunkan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) darah (Yana dkk., 2014).

Kandungan senyawa aktif pada Buah Jengkol

Tanin melakukan aktivitas penyembuhan luka dengan meningkatkan regenerasi dan organisasi dari jaringan baru (Karodi dkk., 2009). Kelebihan lain yang dimiliki tanin diantaranya meringankan rasa nyeri, membatasi terjadinya infeksi sekunder, mencegah hilangnya plasma, dan promosi epitelisasi yang produktif (Hasselt, 2005).

Flavonoid merupakan antioksidan yang larut dalam air dan membersihkan radikal bebas sehingga mencegah kerusakan sel oksidatif dan mempunyai aktivitas antikanker yang kuat. Flavonoid sebagai antioksidan memberikan aktivitas antiinflamasi (Harisaranraj dkk., 2009). Flavonoid juga dapat digunakan sebagai vasculoprotector agent yang merupakan agen untuk memperbaiki peredaran darah vena dengan meningkatkan tonus pembuluh serta mengurangi edema. Sifat-sifat yang dimiliki oleh flavonoid ini dipertimbangkan memiliki peran dalam proses penyembuhan luka (Hasanoglu dkk., 2001).

Saponin merupakan senyawa yang dapat digunakan untuk penyembuhan luka dan menghentikan perdarahan. Saponin memiliki sifat mengendapkan (precipitating) dan mengumpulkan (coagulating) sel darah merah (Harisaranraj dkk., 2009).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 + 2 =