Bawang Putih (Allium sativum L) Tanaman yang Bermanfaat Untuk Pengobatan

Bawang Putih (Allium sativum L) Tanaman yang Bermanfaat Untuk Pengobatan

Klasifikasi Bawang Putih

Divisio : Spermatophyta

Sub divisio : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Bangsa : Liliales

Suku : Liliaceae

Marga : Allium

Jenis : Allium sativum L

Nama umum : Bawang putih (Barnes, 2002)

 

Karakteristik

Bawang putih termasuk dalam suku Liliaceae dan merupakan tanaman berumpun yang bersiung-siung. Bawang putih digunakan oleh masyarakat untuk menurunkan tekanan darah, mengurangi rasa pening di kepala, mengatasi cacingan, menghilangkan nyeri haid, mengatasi asma, batuk, masuk angin, dan sengatan binatang (Sudjarwo, et al., 2004). Bawang putih memiliki karakteristik daun berbentuk pipih dan berwarna hijau, berbentuk pita (pipih memanjang), dengan tepi rata, ujung runcing, panjang 60 cm dan lebar 1,5 cm. Batang semu, beralur dan berwarna hijau, bagian bawah bersiung-siung dan bergabung menjadi umbi besar berwarna putih. Bawang putih termasuk herba (semak), semusim, dan tinggi 50-60 cm. Bunga berwarna putih, bertangkai panjang dan bentuknya payung dan memiliki akar serabut (Barnes, 2002)

 

Kandungan Kimia

Komponen kimia pada bawang putih mengandung sulfur. Sulfur merupakan komponen penting yang terkandung dalam bawang putih. Adapun komponen sulfur adalah berupa alliin, allicin, ajoene, allylpropyl disulfide, dialil trisulfida, s-alilcysteine, vinyldithiines, s-alilmercaptocystein dan lain-lain (Omar dan Al-Wabel, 2009). Selain sulfur kandungan bawang putih lainnya juga adalah berupa enzim alliinase, peroksidase, myorosinase, asam amino berupa arginine; komponen lain seperti selenium, germanium, tellurium dan mineral lainnya (Kemper, 2000). Allicin yang terkandung dalam bawang putih mampu menghambat pertumbuhan bakteri (Wiryawan, et al,. 2005).

Senyawa yang diduga berperan sebagai antibakteri adalah senyawa- senyawa Thiosulfinates, misalnya adalah allicin (Hughes and Lawson, 1991).

Allicin akan terbentuk ketika alliin [(+)-(S)-alil-L-cysteine-sulfoxide] secara enzimatis dirubah oleh enzim alliinase ketika bawang putih dicincang, dihancurkan, maupun dikunyah. Kompleks alliin dengan enzim alliinase akan terbentuk dengan adanya air. Senyawa ini tidak stabil dan mengalami reaksi dehidrasi oleh pyridoxal phosphate dan bertransformasi menjadi allyl sulfenic acid, pyruvic acid, dan amonia. Allyl sulfenic acid merupakan senyawa yang tidak stabil dan sangat reaktif pada suhu ruangan. Dengan reaksi eliminasi air, maka dua molekul allyl sulfenic acid mengalami kondensasi secara spontan menjadi allicin (Ilic, et al., 2011).

Hasil penelitian Lingga (2010), menyatakan bahwa seluruh bentuk ekstrak bawang putih mengandung tanin, alkaloid, dan saponin. Alkaloid umum terkandung pada berbagai bahan makanan (Sadikin, 2002). Beberapa jenis tumbuhan yang mengandung lebih dari 50 macam alkaloid antara lain dari suku Liliaceae. Bawang putih termasuk ke dalam suku Liliaceae yang kaya akan kandungan alkaloid (Lingga, 2010).

 

Manfaat Bawang Putih

Bawang putih memiliki manfaat sebagai ekspektoran, antispasmodik, antiseptik, bakteriostatik, antiviral dan antihelmintik (Lingga, 2010). Secara tradisional bawang putih digunakan untuk mengobati bronkhitis kronis, batuk, asma dan influenza. Secara modern bawang putih digunakan sebagai antihipertensi, antitrombotik, antimikroba, fibrinolitik, imunomodulator dan pencegah kanker (Barnes, 2002). Bawang putih juga memiliki sifat antihelmintik dan mengurangi faktor resiko peningkatan kadar gula darah yang disebabkan nikotin atau hiperkolesterolemia (Utami, 2012). Penelitian Yamada dan Azama (1997) menyatakan bahwa selain memiliki sifat sebagai antibakteri bawang putih juga bersifat sebagai antijamur.

 

Aktivitas Antibakteri Bawang Putih

Senyawa allicin yang terkandung dalam bawang putih menunjukkan aktivitas antimikroba dengan menghambat sintesis RNA dengan cepat dan menyeluruh (Feldberg, et al., 1988). Perbedaan struktur bakteri juga berperan dalam kerentanan bakteri terhadap unsur bawang putih. Membran sel E. coli terdiri atas 20% lipid, dimana Staphylococcus aureus hanya terdiri atas 2% lipid. Kandungan lipid pada membran dapat mempengaruhi permeabilitas allicin dan unsur bawang putih yang lain (Tattleman, 2005).

Mekanisme antibakteri senyawa allicin diduga dengan menghambat sintesis RNA secara total dan menghambat sintesis DNA dan protein secara parsial (Feldberg, et al., 1988). Bawang putih juga mempunyai kandungan senyawa lain disamping allicin yaitu saponin dan flavonoid yang sama-sama berfungsi sebagai antibakteri (Griffiths, et al., 2002). Dalam referensi lain disebutkan bahwa mekanisme antibakteri bawang putih adalah dengan menghambat enzim transpeptidase yang terlibat dalam cross-linking dari rantai polisakarida dinding sel bakteri sehingga menghambat pembentukan dinding sel bakteri (Prescott, et al., 2005). Selain itu juga dapat menghambat DNA gyrase bakteri sehingga mengganggu transkripsi DNA dan aktivitas lain yang melibatkan DNA bakteri (Prescott, et al., 2005).

Saponin adalah senyawa aktif yang kuat dan menimbulkan busa jika digosok dalam air sehingga bersifat seperti sabun dan mempunyai kemampuan antibakterial (Robinson, 1995). Saponin dapat meningkatkan permeabilitas membran sel bakteri sehingga dapat mengubah struktur dan fungsi membran, menyebabkan denaturasi protein membran sehingga membran sel akan rusak dan lisis (Sumthong dan Verpporte, 2012). Menurut Volk dan Weller (1989), saponin memiliki molekul yang dapat menarik air atau hidrofilik dan molekul yang dapat melarutkan lemak atau lipofilik sehingga dapat menurunkan tegangan permukaan sel yang akhirnya menyebabkan kehancuran kuman.

Flavonoid merupakan senyawa fenol yang bersifat desinfektan yang bekerja dengan cara mendenaturasi protein. Akibatnya aktifitas metabolisme sel bakteri dapat terhenti, karena semua aktivitas metabolisme bakteri dikatalis oleh enzim (merupakan protein). Berhentinya aktifitas metabolisme ini akan mengakibatkan kematian sel bakteri. Flavonoid juga bersifat bakteriostatik yang bekerja melelui penghambatan sintesis dinding sel bakteri (Robinson, 1995).

Baca : Ekstraksi Jahe Merah dan Efek Farmakologis

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *