Bakteri Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA)

Bakteri Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA)

MRSA adalah bakteri Staphylococcus aureus yang tahan terhadap methicillin. Bakteri gram positif ini banyak kita temukan di kulit dan hidung. Staphylococcus Aureus ini adalah bakteri gram positif yang bersifat aerob. Hidup di tubuh manusia sebagai flora normal kulit yang tidak berbahaya. Staphylococcus aureus ini sebagian besar dapat dirawat dengan antibiotic seperti methicillin (salah satu tipe penicillin). Tetapi, dewasa ini Staphylococcus aureus menjadi meningkat resistensinya dengan antibiotik yang biasa digunakan.

Klasifikasi

Domain : Bacteria
Kingdom : Eubacteria
Filum : Firmicutes
Kelas : Baccilli
Order : Bacillales
Familia : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus
Spesies : Staphylococcus aureus
Subspecies : Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (bakteri mrsa)

Deskripsi Umum

Staphylococcus aureus merupakan anggota dari famili Staphylococcaceae. Pada pemeriksaan mikroskopis, organisme ini tampak sebagai kelompok kokus gram positif. Bentuk sel S. aureus bulat dengan diameter ± 1 μm, berkelompok seperti anggur (Romawistaphyle) yang memungkinkan dirinya dapat terbagi dalam beberapa bentuk (Brown et al, 2005). Staphylococcus merupakan bakteri gram positif berbentuk bola yang tersusun dalam bentuk kluster yang tidak beraturan. Bakteri ini hidup bebas di lingkungan dan membentuk kumpulan yang terdiri atas empat atau delapan kokus menyerupai anggur (Jawetz et al, 2001)

aureus merupakan bakteri yang tidak membentuk spora, tidak berkapsul, dan dinding selnya mengandung dua komponen utama yaitu peptidoglikan dan asam teikhoat. S. aureus merupakan bakteri yang biasa terdapat pada jaringan lunak, aksila, perineum, dan sering ditemukan di jaringan kulit normal pada 20-30% orang sehat. Bakteri ini dapat melakukan metabolism baik secara aerob maupun anaerob (Purba, 2008).

Siklus Hidup

Bakteri Staphylococcus banyak ditemukan hidup di tubuh kita. Staphylococcus ini banyak ditemukan pada orang-orang yang sehat, namun hal ini tidak menimbulkan infeksi. Kenyataannya, 25-30 % bakteri Staphylococcus ini tumbuh dalam hidung kita. Pada 1/3 bagian tubuh kita terdapat Staphylococcus di permukaan kulit, atau hidung, tanpa menyebabkan infeksi. Hal ini disebut dengan istilah koloni bakteri. Tetapi, bakteri ini dapat menjadi bahaya, bila dengan sengaja dimasukkan ke dalam tubuh, ataupun melalui luka, sehingga dapat menyebabkan infeksi. Biasanya sedikit dan tidak membutuhkan perawatan khusus, tetapi pada keadaan tertentu dapat menyebabkan masalah serius, seperti luka atau pneumonia.

Toksin dan Enzim

Staphylococcus aureus menghasilkan koagulase, lekosidin, dan toksin sindroma syok toksik. Koagulase merupakan protein menyerupai enzim yang mampu menggumpalkan plasma yang ditambah dengan oksalat atau sitrat dengan adanya suatu faktor yang terdapat dalam serum, sedangkan lekosidin adalah suatu toksin yang dapat membunuh sel darah putih pada berbagai binatang. Tetapi peran toksin dalam pathogenesis tidak jelas karena staphylococcus aureus yang patogenik tidak dapat membunuh sel darah putih dan dapat difagosit sama efektifnya seperti yang nonpatogenik (Jawetz et al, 2001).
Staphylococcus ini juga menghasilkan bermacam-macam toksin lain yang terkelompok sesuai dengan mekanisme kerjanya, antara lain sitotoksin, superantigen toksin pirogenik, enterotoksin, dan toksin eksfoliatif. Sitotoksin merupakan toksin 33-kd protein-alpha, menyebabkan perubahan formasi inti dan merangsang proinflamasi pada sel mamalia. Perubahan-perubahan ini akan menimbulkan kerusakan sel dan berperan dalam manifestasi sindroma sepsis. Superantigen toksin pirogenik secara struktur mirip dengan sitotoksin, terikat dengan proteinmajor histocompatibility complex (MHC) kelas II. Toksin ini menyebabkan proliferasi sel T dan pelepasan sitokin. Molekul enterotoksin dapat menimbulkan penyakit akibat dari protein- proteinnya, yaitu toxic shock syndrome dan keracunan makanan. Gen untuk toxic shock syndrome ditemukan pada 20% isolat S. aureus. Toksin eksfoliatif, termasuk juga toksin epidermolitik A dan B, menyebabkan eritema dan separasi kulit seperti yang terlihat pada scalded skin syndrome (Lowy, 1998).

Aspek Klinis

Gejala infeksi bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus (bakteri mrsa) bergantung pada dimana letak infeksinya. Infeksi Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus ini paling sering menyebabkan infeksi ringan pada kulit seperti jerawat atau bisul. Potensi infeksi bakteri ini juga dapat menjadi lebih serius, menyebabkan infeksi di bawah kulit (cellulitis), pada tulang, aliran darah, paru-paru atau saluran urin. Tetapi sebagian besar infeksi Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus ini tidak parah.

Sebagian besar para ahli kesehatan juga mengingatkan tentang penyebaran Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus, karena penanganan terhadap bakteri ini masih dianggap sulit.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *