Bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans

Bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans

Klasifikasi bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans adalah:

Kingdom : Bacteria

Phylum : Proteobacteria

Class : Gammaproteobacteria

Order : Pasteurellales

Family : Pasteurellaceae

Genus : Aggregatibacter

Species : Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Anonim, 2010).

Aggregatibacter actinomycetemcomitans yang sebelumnya disebut Actinobacillus actinomycetemcomitans merupakan bakteri gram negative yang tumbuh pelan (Jawetz, 2005). Bakteri tersebut dapat tumbuh soliter atau berkoloni, tidak bergerak, bersifat anaerob fakultatif dan kapnofilik (Amalina, 2011). Aggregatibacter actinomycetemcomitans bisa berbentuk bulat, oval atau batang, tetapi yang paling sering adalah bentuk kokobasil dengan ukuran sekitar 0,7 x 1,0 μ. Aggregatibacter actinomycetemcomitans bisa tumbuh pada agar darah dan coklat yang kemudian membentuk koloni setelah inkubasi selama 48-72 jam. Bakteri tersebut tumbuh pada temperatur 37oC, tetapi juga bisa tumbuh pada temperatur 20-42oC (Kesic et al., 2009).

Sesuai dengan namanya, bakteri tersebut sering ditemukan pada penderita aktinomikosis. Selain itu juga menyebabkan penyakit periodontal pada orang dewasa, endokarditis, abses, osteomielitis, dan infeksi lainnya (Jawetz, 2005). Aggregatibacter actinomycetemcomitans bersifat patogen oportunistik dan merupakan bagian flora normal yang berkolonisasi di mukosa rongga mulut, gigi, dan orofaring (Amalina cit Bailey, 2011). Aggregatibacter actinomycetemcomitans merupakan bakteri yang tumbuh lambat dan mempunyai metabolisme yang terbatas dalam penggunaan karbon. Hal tersebut mempengaruhi kemampuan Aggregatibacter actinomycetemcomitans dalam berkolonisasi di rongga mulut, dimana pertumbuhan dan komposisi komunitasnya dibantu oleh adanya karbon. Substrat karbon diantaranya adalah glukosa, fruktosa dan laktat tetapi Aggregatibacter actinomycetemcomitans lebih menyukai memetabolisme laktat. Aggregatibacter actinomycetemcomitans tumbuh lebih cepat dan memperoleh hasil sel yang tinggi selama pertumbuhan dengan karbohidrat. Sebenarnya hampir tidak ada yang diketahui tentang pertumbuhan dan fisiologi dari Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Brown & Whiteley, 2007). Mungkin adanya defisit lokal fungsi neutrofil, faktor lingkungan seperti merokok dan stress, penyakit sistemik serta genetik dapat berkontribusi dalam kerentanan host untuk berubah dari keadaan sehat menjadi sakit (Cole & Lydyard, 2006). Perbedaan ekspresi dari gen respon imun bawaan terhadap Aggregatibacter actinomycetemcomitans dalam epitel gingival dapat menjadi faktor pemicu terjadinya periodontitis agresif (Laube et al., 2008). Pada periodontitis agresif, Aggregatibacter actinomycetemcomitans merupakan bakteri yang dominan dengan frekuensi 90% dibandingakan pada periodontitis kronis yang hanya 21% dan pada individu sehat hanya sekitar 17% (Carranza etal., 2006).

Aggregatibacter actinomycetemcomitans memiliki sejumlah factor virulensi yang bisa membantu progresifitas penyakit yang ditimbulkannya. Faktor virulensi tersebut menentukan kekuatan dari potensi patogenik dan juga kapasitas relatif dari bakteri yang menyebabkan kerusakan host dan kemampuannya untuk menguasai tubuh (Amalina, 2011). Faktor virulensi dari bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans diantaranya adalah lipopolisakarida (endotoksin), leukotoksin (sebagai yang paling penting), kolagenase, bakteriosin, faktor penghambat kemotaksis, faktor sitotoksik, protein pengikat Fc (Fragment crystallizable), faktor penghambat fibroblas, faktor imunosupresif serta faktor penghambat adesif, invasi, dan fungsi dari leukosit PMN. Leukotoksin dari Aggregatibacter actinomycetemcomitans dapat membunuh leukosit PMN, makrofag, dan monosit darah periferal. Selain itu, leukotoksin juga mempunyai efek destruktif terhadap neutrofil, monosit, dan limfosit T (Kesic et al., 2009).

Bakteri tersebut telah disimpulkan sebagai penyebab dari periodontitis agresif karena dapat menembus jaringan ikat gingiva hingga ligament periodontal serta tulang alveolar dan menghasilkan leukotoksin yang kuat yang akan merusak neutrofil, dimana neutrofil itu sendiri berfungsi sebagai pertahanan dalam melawan infeksi periodontal (Fidary & Lessang, 2008).

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *