Pengertian Aromaterapi

Aromaterapi merupakan penggunaan minyak esensial untuk tujuan penanganan yang meliputi: pikiran, tubuh, dan semangat. Aromaterapi adalah penggunaan minyak esensial, yang diperoleh dari tanaman aromatik, untuk sifat terapeutik (Buckle, 2014). Aromaterapi klinis diakui sebagai bagian dari keperawatan holistik oleh American association holistik perawat dan oleh sebagian besar negara dewan keperawatan. Aromaterapi adalah suatu cara perawatan tubuh dan atau penyembuhan penyakit dengan menggunakan minyak esensial atau (essential oil) (Jaelani, 2009). Minyak esensial atau essential oil merupakan bahan baku utama untuk kepentingan sediaan aromaterapi.

Aromaterapi mempunyai efek yang positif karena diketahui bahwa aroma segar dan harum merangsang sensori, reseptor dan pada akhirnya mempengaruhi organ yang lain sehingga dapat menimbulkan efek kuat terhadap emosi. Aroma ditangkap oleh reseptor dihidung yang kemudian memberikan informasi lebih jauh kearah otak yang mengontrol emosi dan memori maupun memberikan informasi ke hipotalamus yang merupakan pengatur sistem internal tubuh termasuk sistem seksualitas, suhu tubuh, dan reaksi terhadap stress (Shinobi, 2004).

 

Manfaat Aromaterapi

Aromaterapi klinis juga digunakan oleh dokter, terapis pijat, praktisi perawat, terapis okupasi, dan banyak petugas kesehatan lainnya (Cordell & Buckle, 2013). Manfaat aromaterapi menurut Jaelani (2009) adalah:

1) Merupakan bagian utama dari parfum keluarga, yaitu dengan memberikan sentuhan, keharuman, dan suasana wewangian yang menyenangkan, ketika sedang berada di rumah maupun bepergian

2) Dapat digunakan sebagai pelengkap kosmetika

3) Merupakan salah satu metode perawatan yang tepat dan efisien dalam menjaga tubuh agar tetap sehat

4) Banyak dimanfaatkan dalam pengobatan, khususnya untuk membantu penyembuhan beragam penyakit, meskipun lebih ditujukan sebagai terapi pendukung

5) Membantu meningkatkan stamina

6) Menumbuhkan perasaan yang tenang pada jasmani, pikiran dan rohani serta menciptakan menciptakan suasana yang tenang.

 

Cara Penggunaan Aromaterapi

Aroma terapi dapat digunakan melalui beberapa cara yaitu melalui:

1) Inhalasi

Aromaterapi yang akan digunakan melalui inhalasi caranya adalah minyak aromaterapi ditempatkan diatas peralatan listrik, diamana peralatan tersebut sebagai alat penguap. Peralatan listrik harus dicek oleh petugas sebelum digunakan demi keamanan pasien, kemudian dilakukan penambahan dua sampai lima tetes minyak aromaterapi dalam vapoiser dengan 20 ml air untuk menghasilkan uap air. Minyak yang umum digunakan adalah peppermint atau jahe untuk mual, lavender untuk relaksasi, rose baik digunakan dalam suasana sedih, floral citrus dapat memberikan kesegaran (Western Australia Departement of Health, 2007).

Kohatsu (2008) mengungkapkan bahwa dalam menggunakan aromaterapi secara inhalasi, dapat dicampur dengan menggunakan air dengan komposisi 4 tetes aromaterapi ditambah dengan 20 ml air, sehingga dapat menghasilkan aroma yang segar dan wangi.

Menurut Mackinnon (2004) penggunaan aromaterapi melalui penyemprotan atau minyak spray dari minyak yang telah dipilih sebanyak 100 ml dengan menggunakan botol yang memiliki alat penyemprot kemudian semprotkan pada tubuh sebagai penyegar. Inhalasi melalui sistem penciuman merupakan salah satu cara yang diperkenalkan dalam penggunaan metode terapi aroma yang paling sederhana dan cepat. Cara penggunaan secara langsung adalah mengunakan 1-5 tetes minyak esensial, diteteskan pada tisu atau kapas, kemudian hirup 5-10 menit (Halcon dan Buckle, 2006). Penggunaan secara inhalasi ini menyebabkan peningkatan yang cepat konsentrasi minyak esensial ke dalam darah dan sistem saraf.

2) Pijat

Terapi aroma dengan cara dipijat, merupakan cara yang sangat digemari untuk menghilangkan rasa lelah pada tubuh, memperbaiki sirkulasi darah dan merangsang tubuh untuk mengeluarkan racun serta meningkatkan kesehatan pikiran. Penggunaan untuk terapi pijat dapat diberikan dengan perbandingan 1-4 tetes minyak esensial persendok makan minyak dasar (Basch et al., 2004).

Aromaterapi apabila digunakan melalui pijat dapat dilakukan dengan langsung, minyak aromaterapi yang telah dipilih diatas kulit. Sebelum menggunakan minyak tersebut perlu diperhatikan adanya kontraindikasi maupun adanya riwayat alergi.

3) Kompres

Penggunaan aromaterapi melalui kompres hanya sedikit membutuhkan minyak aromaterapi. Kompres hangat dengan minyak dapat digunakan untuk menurunkan rasa nyeri punggung dan nyeri perut. Kompres dingin yang menggunakan minyak lavender digunakan pada bagian perenium saat kala dua persalinan (Jaelani, 2009).

4) Berendam

Menurut Jaelani (2009) metode ini bisa dilakukan dengan menggunakan air dingin atau air hangat. Caranya yaitu dengan merendam seluruh bagian tubuh kedalam air yang telah diisi dengan minyak esensial atau ramuan rempah rendam. Aroma minyak yang larut bersama air akan meresap kedalam pori-pori kulit kemudian akan mempengaruhi reseptor ujung syaraf dan mempengaruhi sistem sirkulasi darah. Dengan cara ini berguna dalam mengembalikan kebugaran tubuh, menenangkan perasaan dan mencegah kondisi tubuh dari proses penuaan.

 

Fisiologi aromaterapi inhalasi untuk mual muntah

Aroma terdeteksi dimulai dari organ hidung sebagai organ penghidu. Proses menghidu dimulai dengan proses penerimaan molekul bau oleh olfactory epithelium yang merupakan reseptor terdiri dari puluhan juta saraf pembau. Pada saat minyak aromaterapi dilepaskan ke udara, minyak akan masuk melalui hidung dan akan mencapai nostril pada dasar hidung, sebelum molekul aromaterapi menempel dengan silia sel olfactorius, odoran tersebut dapat larut dalam mucus yang melapisi silia tersebut. Untuk dapat larut dalam mucus maka minyak aromaterapi harus bersifat hidrofilik. Struktur dari minyak esensial ini memiliki sifat yang hidrofilik sehingga dapat larut dalam mucus.

Di bawah mucus pada epitel olfactory, reseptor khusus yang disebut sebagai neuron reseptor olfactory mendeteksi adanya bau. Setiap sel olfactory hanya memiliki satu jenis reseptor bau (odorant reseptor/ OD), dan satu reseptor hanya mampu mendeteksi jumlah terbatas bahan-bahan bau, seperti sel-sel pembau kita sangat terspesialisasi sejumlah kecil bau. Untuk selanjutnya molekul bau akan berikatan dengan OD, sehingga dapat menyebabkan aktivasi dari protein G yang kemudian mengaktivasi enzim adenilsiklase dan mengaktifkan cAMP. Pengaktifa cAMP membuka kanal Na sehingga terjadi influx natrium dan menyebabkan depolarisasi dari sel olfaktorius. Depolarisasi ini kemudian menyebabkan potensial aksi pada saraf olfaktorius dan di transmisikan ke hipotalamus (Gayton, 2006).

Sinyal pada sel mitral yang berada di bulbus olfaktorius menjalar menuju traktus olfaktorius media dan area olfaktorius lateral. Area olfaktorius lateralis membawa akson-akson ke area olfaktorius pada korteks serebri, yang disebut sebagai area periamygdaloidea dan area peripirformis dan area ini dikenal sebagai area olfaktorius primer (pusat penghidu pada korteks serebri) pada lobus temporalis bagian inferior medialis. Aktivasi daerah ini menyebabkan adanya kesadaran terhadap bau tertentu yang dihirup. Selain itu area olfaktorius lateralis ini akan membawa informasi ke sistem limbik dan hipokampus. Sedangkan area olfaktorius medial terdiri atas sekumpulan nucleus yang terletak pada anterior dari hipotalamus. Nucleus pada area ini merupakan nucleus septal yang kemudian berproyeksi ke hipotalamus dan sistem limbik (Guyton, 2006).

 

Kelebihan dan Keunggulan Aromaterapi

Menurut Jaelani (2009), beberapa keunggulan dan kelebihan aromaterapi antara lain:

1) Biaya yang dikeluarkan relatif murah

2) Bisa dilakukan dalam berbagai tempat dan keadaan

3) Tidak menggangu aktivitas yang bersangkutan

4) Dapat menimbulkan rasa senang pada orang lain

5) Cara pemakaiannya tergolong praktis dan efisien

6) Efek zat yang ditimbulkannya tergolong cukup aman bagi tubuh

7) Khasiatnya terbukti cukup manjur dan tidak kalah dengan metode terapi lainnya.

Baca : Komposisi Kimia dan Metode Penyulingan Minyak Atsiri

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

30 − = 20