Makanan sehat adalah makanan rumah. Karena mulai dari pembelian bahan, cara masak, kita bisa memastikan langsung baik tidaknya untuk kesehatan jika dimakan dan diminum. Tapi biasanya anak-anak ogah-ogahan saat kita hidangkan makanan rumah di hadapan mereka, tips biar anak suka makanan sehat

Mereka cenderung memilih membeli makanan di luar. Tentu sayang sekali, kita sudah repot-repot menyiapkan makanan sehat ternyata tidak laku.

Maka dari itu perlu strategi khusus agar anak-anak tidak hanya mau, tapi lahap memakan masakan rumah. Ada tujuh cara yang dapat dilakukan oleh bapak ibu.

Pertama, libatkan anak-anak pada saat merencanakan akan masak apa, sehingga mereka bisa menentukan menu apa yang ingin mereka nikmati. Mengajak anak-anak mendiskusikan menu masakan juga melatih mereka mengemukakan keinginan dan pendapat, sekaligu belajar mempertahankan pendapatnya.

Cara pertama ini juga bisa mengajarkan pada anak-anak kita cara bersikap asertif (kemampuan untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan keinginan secara jujur pada orang lain).  Belajar membicarakan apa yang dimaui, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain dengan tetap menjaga dan menghargai hak serta perasaan orang lain.

Kedua, anak-anak diajak belanja. Membeli bahan-bahan makanan yang akan dimasak akan membuat anak-anak semakin tertarik, karena mereka bisa langsung berinteraksi dengan pedagang, bersemangat memilih sayur dan bahan masakan lainnya yang  berkualitas bagus, menyaksikan bermacam barang dagangan dan orang ramai lalu lalang.

Semua itu akan memberikan kesan kepada mereka bahwa untuk sampai pada matangnya makanan dan siap tersaji di meja, memerlukan perjalanan panjang serta membutuhkan campur tangan atau bantuan  banyak orang. Pemahaman ini akan membuat mereka menjadi bisa bersyukur.

Ketiga, diminta membantu memasak. Banyak pekerjaan-pekerjaan kecil yang dapat dilakukan anak-anak saat memasak. Misal mencuci sayuran, memeras kelapa untuk diambil santannya, mengupas bawang—untuk anak-anak yang sudah bisa menggunakan pisau dapur—dan masih banyak lagi.

Mengikutsertakan mereka saat memasak akan membuat mereka mempunyai rasa memiliki terhadap masakan tersebut. Sehingga saat mereka makan, tidak hanya lahap tapi juga disertai rasa bangga, karena telah turut memasak.

Keempat, kreatif dalam memasak dan menghidangkan. Misal ketika anak-anak tidak suka makan pisang, kita bisa menyajikannya dengan terlebih dahulu digoreng dengan tepung. Atau digoreng tanpa tepung, lantas ditaburi keju dan susu coklat terus disajikan di piring warna warni yang mereka sukai. Berdasarkan pengalaman penulis, anak-anak yang semula tidak suka pisang, dengan cara begini, mereka kemudian menyukainya.

Kelima, setelah acara memasak selesai, nikmati secara bersama-sama. Jangan makan sendiri-sendiri, karena saat makan bersama ada dorongan untuk “bersaing” dulu-duluan dalam mengambil sayur dan lauk, mulai anak suka makanan sehat. Saat makan bersama, anak-anak juga belajar untuk toleran. Pada saat mengambil makanan dan minuman, meskipun sangat suka, mereka harus memikirkan kakak dan adiknya yang belum kebagian. Ia tidak boleh serakah.

Keenam, mengundang teman-teman anak kita untuk makan bersama.  Cara ini sering penulis lakukan, karena kebetulan banyak tetangga saya yang memiliki anak seumuran dengan anak saya. Anak-anak saya minta mengundang teman-temannya ke rumah untuk main bersama, membaca buku—kebetulan saya memiliki perpustakaan di rumah.

Pada saat bermain dan membaca buku itu,  mereka saya tanya apakah sudah makan. Kalau belum, saya tawari mereka untuk makan di rumah saya. Mayoritas mereka mau. Akhirnya anak-anak saya yang semula tidak mau makan, menjadi lahap, karena banyak teman-temannya yang makan juga. akhirna anak suka makanan sehat (Agus M. Irkham, pegiat literasi)

Baca Juga : Makna Peringatan Hari Anak Sedunia Untuk Anak Indonesia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + 1 =